Sudah Miskin Malah Digusur Masih Dihujat

Menuju Peradaban JUM’AT, 03 FEBRUARI 2017 , 16:19:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Pada masa kini, pandangan masyarakat urban kelas menengah ke atas terhadap kaum miskin cenderung negatif bahkan destruktiff . Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga malah dihujat , rakyat di Bukit Duri sudah miskin malah digusur masih dihujat oleh para pendukung penggusuran. Seolah rakyat miskin memang sand sack untuk latihan hujat-menghujat. Opini negatif terhadap kaum miskin di Jakarta sukses terbentuk oleh rekayasa public relations mandraguna yang dilancarkan secara profesional, sistematis dan masif demi pembenaran penggusuran yang dilakukan terhadap kaum miskin. Pembentukan opini publik demi pembenaran penggusuran terhadap kaum miskin memang menjadi penting sebab kaum kaya yang digusur demi apa yang disebut sebagai normalisasi kali Ciliwung memang memperoleh perlakuan beda dari kaum miskin. Penggusuran terhadap masyarakat kaya memang tidak butuh alasan pemaaf sebab apabila digusur langsung memperoleh ganti rugi yang sepadan bahkan sampai 150% harga pasar bangunan dan tanah yang digusur. Penggusuran dipersolek dengan berbagai istilah komestik mulai dari penertiban, normalisasi, relokasi, narasi besar pembangunan dan lain sebagainya. Penggusur juga kreatif menciptakan berbagai cemooh dan hujatan terhadap kaum miskin sebagai sampah masyarakat, perampas tanah negara, pemberontak, penghambat pembangunan, kriminal sampai PKI . Bahkan mereka yang berempati terhadap derita rakyat miskin harus siap dihujat sebagai pahlawan kesiangan, sok kemanusiaan, profokator rakyat agar melawan kebijakan pemerintah sampai PKI. Memprihatinkan adalah nasib malang sang penerima anugerah Yap Thiam Hien Award, pembina masyarakat Bukit Duri sehingga memperoleh penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum, pahlawan kemanusiaan yang dielu-elukan para keluarga korban kerusuhan Mei 1998 sampai diundang untuk berbicara di forum HAM Persatuan Bangsa Bangsa, penyelamat Budiman Sujatmiko dan para korban angkaramurka resim Orba, Sandyawan Sumardi. Gara-gara sejak dahulu kala gigih membela rakyat miskin , sekonyong-konyong di masa kini Sandyawan Sumardi dihujat sebagai pelestari kemiskinan, romantisme kemiskinan, penjual kemiskinan, makelar tanah, profokator bahkan PKI. Saya sempat bertanya bagaimana cara sang pendekar kemanusiaan dari Jeneponto mampu tetap tegar maju-tak-gentar dalam menghadapi segenap cacimaki, cemooh, hujat bahkan fitnah keji akibat membela kaum miskin. Sambil tersenyum, Sandyawan Sumardi mengaku memperoleh wahyu kekuatan batin dari Alkitab : Perjanjian Baru : Mathius I : 1 sampai dengan 11 mengenai Khotbah Di Bukit . Tersurat di dalam Mathius I : 1 sd 11 bahwa : Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat “. Entah kebetulan atau tidak , pada kenyataan memang kata “Bukit” sama-sama hadir baik pada Khotbah Di Bukit mau pun pada Bukit Duri .
(Penulis pembelajar kemanusiaan adil dan beradab )

jaya suprana

Komentar & Solusi