SENANDUNG DAYANI

SENANDUNG DAYANI

Sebuah Kisah Sejarah Gerakan Sosial

I. Sandyawan Sumardi

Dayani namaku. Seorang perempuan pinggiran. Sehari sesudah aku dilahirkan, Bapak dan Mamak menamaiku Dayani. Maria Dayani Adilah, nama lengkapku.
“Ya sebenernya sih cuman Dayani aja. Itupun bapakmu yang ngarang..”, kata Mamak suatu hari ketika pertama aku bertanya soal nama di usia enamku.

Ah, begitukah? Lalu apa arti “Dayani”? Dari mana tambahan “Adilah”? Dan “Maria”? Aku tidak bisa memeriksa atau menelusuri namaku yang sebenarnya dari Surat Akte Kelahiranku. Karena menurut Bapak dan Mamak, Surat Akte Kelahiran keluarga kami berserta KTP Musiman dan surat perkawinan Bapak-Mamak, sudah musnah hangus terbakar dalam peristiwa penggusuran kedua di tahun 1988, ketika keluarga kami masih tinggal di pelbak Pedongkelan, dekat Pabrik Coca Cola, Jakarta Pusat.

Oh ya, suatu hari Mamak pernah bercerita. Waktu aku masih dalam kandungan tujuh bulan, aku hampir saja terpaksa dilahirkan di atas truk sampah. Menurut Mamak, meski sudah dalam keadaan mengandung tua, sebagai istri seorang pemulung, Mamak waktu itu harus tetap bisa membantu Bapak mengawali dagangan sampahnya. Bapak yang semula tukang bajaj, tiba-tiba merasa harus banting stir dalam mencari nafkah, setelah melihat peluang kehidupan jadi pemulung di Jakarta nampaknya lebih baik.

“Ya pigimanalah, wong keluarga kita ini wektu itu mingsih melarat bener. Lagian istilahnya kita ini wektu itu pan mingsih baru. Baru setaon pindah dari kampung Bapakmu Jawa Timur sono. Wong baju aja cuman punya satu. Itu aja udah kumel dan tambal-tambal. Ya cuman nyang nempel di badan Mamak wektu itu. Seperti yang laen juga, sih, Bapak sama Mamak tinggalnya di gubuk berdinding tripleks bekas dengan atep dari seng dan tambalan karpet blang-bonteng begitu. Jarak lante nyampe ke langit-langit aja kira-kira cuman 1,5 meter. Luas kamar kira-kira ya 2×2,5 meter persegi. Kamar kita dulu itu kayak gua aja, nduk, tanpa cendela. Kalo siang panas dan pengapnya enggak kira-kira. Sedeng kalo malem terasa dingin dan lembabnya bukan maen. Kalo musim hujan lantai kamar ya kena aer dan lumpurnya minta ampun. Udah sih, kita udah coba timbun lantai bilik kita dengan puing dan kayu, tapi bocoran dari atep di atas ya tetep aja kremun, bikin basah terus.. Jadi kita ya tidurnya di atas kayu-kayu aja. Semua barang punya kita, ya baju-baju, anduk, sarung bapak, kain Mamak, sandal jepit, minyak telon, dll., itu kalo dibungkus jadi satu ya cuman sebesar buntelan tas olahraga warna biru nyang nyampe sekarang mingsih Mamak pake itu. Hi hii hiii… Pokoknya Bapak dan Mamakmu ini udah biasa melarat, dah…”, kenang Mamak suatu hari sambil tertawa mengelus-elus dada.

***
Kertas, plastik, karpet, beling/kaca, seng, tutup botol, almunium, kayu, bulu ayam, tulang, dan berbagai macam sampah itu, setelah dikumpulkan, dipilah-pilah, disortir, dibersihkan, diikat dan dimasukkan dalam keranjang. Sampah-sampah itu kemudian segera diangkut dengan truk sampah untuk dikirim ke pabrik-pabrik. Mamak memang nekad. Dalam keadaan hamil seperti itu, bersama ibu-ibu pemulung yang lain waktu itu, Mamak tetap saja ikut mengangkat dan menaikkan berkwintal-kwintal sampah dalam keranjang itu ke atas truk. Bahkan Mamak ikut naik dan berdiri di atas tumpukan sampah dalam truk itu bersama Bapak. Ya, di atas truk sampah yang biasa itu. Aku pun hafal betul. Truk solar tua yang berjalan kencang bergetar-getar dengan suara keras yang mendengus-dengus sember, sambil menebarkan aroma bau busuk sepanjang jalan.

Tapi seperempat jam berdiri di atas tumpukan sampah di atas truk itu, tiba-tiba Mamak merasa kesakitan. Tak bisa dihindari, saat melahirkan tiba. Bapak panik dan mulai teriak-teriak, minta pada sopir di depan, agar truk segera dihentikan. Untung waktu itu truk kebetulan berhenti hanya sekitar lima belas meter dari Rumah Sakit Abdi Mulia Tanjung Priok, tempat aku dilahirkan. Walah, kalau saja waktu itu aku jadi dilahirkan di atas truk sampah itu, pasti Bapak akan memberi nama “Trukinah” padaku. Bahkan tidak mustahil “Sampah Trukinah”. Dan aku bakal tidak bisa protes selamanya.

Ya, soalnya aku masih ingat benar. Peristiwa penggusuran paksa secara tiba-tiba itu terjadi di Cacing (Cakung-Cilincing) pada tahun 1991, yang dilakukan dengan semena-mena menggunakan bulldozer dan pembakaran membabi-buta oleh Kamtib, Polisi serta tentara yang dibayar Wali Kota. Ketika itu Mak Sanip tak bisa lari, Karena kandungannya sudah 8 bulan. Pak Sanip kebetulan waktu itu sedang keluar kota, tidak ada di rumah. Sementara yang lain, termasuk tetangga-tentangga dekatnya, hampir semuanya sudah kabur tercerai-berai. Di belakang bekas gubuknya sendiri, Mak Sanip tiba-tiba jatuh terjerembab sendirian. Kepalanya berdarah membentur balok runtuhan gubuknya yang sepuluh menit sebelumnya telah roboh digusur bulldozer petugas Kamtib DKI. Rupanya saat itu juga, dalam keadaan shock berat dan setengah sadar, Mak Sanip melahirkan bayinya yang merah berdarah-darah di antara sampah-sampah, dinaungi reruntuhan balok-balok dan triplek berdebu, di sebelah bulldozer yang sedang maju-mundur berderak-derak mengamuk tanpa perduli merobohkan segalanya. Untung waktu itu Bapak, Pak Yono dan Pak Sastra yang sedang memimpin aksi protes warga terhadap penggusuran semena-mena itu, segera menolong Mak Sanip yang sudah pingsan bersama bayinya yang alhamdulillah selamat. Masih terngiang dalam batinku, suara tangisan bayi di sela-sela teriakan histeris ibu-ibu Cacing setelah mengetahui peristiwa itu dari pinggir jalan. Oh, tangisan bayi yang jeritannya begitu memilukan dan tidak berhenti-berhenti juga. Segera saja Mak Sanip dan bayinya itu kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Tanjung Priok. Nah, bayi mungil yang merah yang lahir di tengah peristiwa gusuran itu oleh Bapak diberi nama “Suryati”. Kata Bapak, artinya “Yen digusur, ya sing ati-ati” (Bahasa Jawa: “Kalau digusur, ya yang hati-hati”). Ah, Bapak ini bisa aja.

Ah kenangan itu, sudahlah. Untung saja Mamak tidak jadi melahirkan aku di atas truk sampah itu. Sehingga namaku “Dayani”, bukan “Sampah Trukinah”. Tapi apalah arti sebuah nama? Seandainya namaku memang Sampah Trukinah juga mau dibilang apa? Pada kenyataannya aku memang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pemulung. Dunia sampah. Lingkungan yang tentu saja tak asing dengan truk-truk sampah itu. Yang penting nama itu enak kedengarannya di telinga warga lingkungan sekitarku. Tak begitu penting, aku sendiri kemudian suka atau tidak. Toh sudah merupakan kebiasaan, dalam kebudayaan manapun -kata Pak Sastra- nama itu biasa diberikan oleh ayah, ibu, kakek, atau nenek. Seseorang yang dilahirkan kemudian tak perlu protes atau mengubah namanya sendiri. Yang jelas waktu itu Bapak, Mamak, dua kakak dan dua adikku serta warga sekitar Cacing memanggilku Dayani. Dan tentu aku tidak keberatan.

Kata Mamakku -yang tidak bisa baca-tulis karena belum pernah sekolah- “Dayani” tidak mempunyai arti apa-apa selain terdengar nama anak perempuan yang enak di telinga. Tapi Bapak -yang meski tak lulus SD tapi bisa baca dan tulis sedikit-sedikit- ternyata punya pendapat lain.
“Dayani itu artinya jadilah digdaya nduk, meskipun kamu anak perempuan…”, begitu Bapak menjelaskan pada suatu malam bulan purnama di pinggir jalan Tol Cacing, dekat rumahku (sambil duduk di atas tongkang rawa-rawa pinggiran jalan tol itu Bapak sering menyuruhku bernyanyi lagu sesuka hatiku, sementara Bapak yang mengiringi dengan gitar keroncongan jawanya).

“Dan jangan lupa nduk, namamu itu bukan hanya Dayani, tapi Dayani Adilah”,
tambah bapak sambil tersenyum puas.
“Adilah itu ya dari kata adil. Semoga seterusnya sampai akhir hayatmu, kamu tetap adil dalam segala perjuanganmu, nduk….”,
kata Bapak sambil melepas kacamata, mengucek-ucek matanya yang merah dan menghela nafas serius (lucu ya, seorang pemulung pakai kacamata segala! Tapi tidak apa-apa. Bapak kan di kalangan para pemulung Cacing sudah sering dipanggil “boss”. Memang Bapak ini seorang lapak, penampung-pengumpul).
Ah, Bapak ini.

Seingatku waktu aku umur lima, tak pernah terdengar tambahan “Adilah” itu. Ini pasti bisa-bisanya Bapak saja. Pasti itu nama tambahan sesudah aku mulai gede. Apalagi Bapak pakai istilah “perjuangan” segala. Itu pasti idenya baru muncul setelah peristiwa gusuran Cakung-Cilincing 1991, ketika Bapak (dan aku juga, walau masih kecil waktu itu, tapi sudah mulai ikut-ikutan) sering rapat bersama Pak Sastra, Bang Lugas, Bu Ani dan Mbak Saras dalam Serikat Solidaritas Rakyat (SSR). Waktu itu kami mulai sering pakai istilah “perjuangan” dan “perlawanan” untuk semua usaha kami warga pinggiran dalam mempertahankan harkat dan hak hidup kami untuk tinggal dan beberja di tanah garapan kami, di tempat kami bekerja. Lokasi yang semula, pada waktu warga pinggiran dari Indramayu dan Madura itu datang bersama kami pada tahun 1987, masih berupa rawa-rawa. Memang milik negara. Tapi karena dibiarkan, ya kami garap, kami bangun, sehingga menjadi seperti sekarang, bisa dijadikan tempat tinggal dan tempat bekerja sekitar 300 KK warga. Sejak tahun 1988 setiap keluarga di Cacing ini sudah mulai ditariki pajak oleh petugas Kamtib dari pihak Kecamatan. Dulu waktu awal tahun 1988 baru Rp. 5.000,- per bulan. Tapi di tahun 1995 sudah mencapai Rp. 150.000,- per bulan. Sesudah Bapak jadi lapak pun, polisi dan tentara secara bergantian, hampir seminggu dua kali, selalu meminta upeti kepada Bapak setiap kali ada truk-truk sampah yang merapat di dekat pelbak kami. Minimal setiap kali datang misalnya di tahun 1995, mereka minta Rp. 25.000,-

***

Memang sejak 1994, Bapak dan seluruh keluarga kami hampir tak pernah pindah dari Coca Cola. Kami memulung pecahan botol-botol Coca Cola dan Sprite, memilahkannya antara beling putih dan hijau. Kami juga mengumpulkan bekas tutup-tutup botol terbuat dari seng, juga bekas plastik sedotan minuman itu. Kemudian kami menjualnya, menyetornya ke perusahaan dengan angkutan truk-truk sampah. Tapi sebenarnya menurut cerita Bapak sendiri, sebelum tahun 1994 Bapak dan Mamak pernah berjaya dengan main di plastik. Daur ulang sampah plastik. Bagaimana plastik-plastik yang bau dan tidak bisa terurai secara alamiah itu dapat ‘sehat’ kembali, dapat dipergunakan lagi.
Caranya terbilang mudah dan sederhana. Mula-mula para pemulung memunguti plastik-plastik bekas dari lokasi pembuangan sampah. Paling banyak tentu saja dari TPA Bantar Gebang. Bapak punya dua rombongan anak buah para pemulung itu. Setelah terkumpul banyak, plastik-plastik dibersihkan, dipilah-pilah. Jangan kaget, kami bisa membeda-bedakan dengan tepat sekitar 22 jenis plastik yang berbeda-beda rupa, warna, bentuk dan gunanya. Kemudian plastik-plastik itu diikat atau dimasukkan dalam kantong besar secara rapi, lalu dijual kepada penampung dengan harga waktu itu antara Rp. 1.800,-/Kg sampai Rp. 2.000,-/kg. Nah, pernah Bapak dulu bekerja sebagai lapak penampung plastik, ya waktu di Cacing juga, waktu aku masih umur 6 tahun.
Selanjutnya Bapak sebagai penampung menyetor sampah plastik itu pada Bapak Solihin, boss plastiknya Bapak, yang perusahaannya PT. Sahaja Plastik Industri terletak di daerah Sepanjang, Bekasi itu. Oleh perusahaannya Pak Solihin, sampah plastik itu, ada yang diolah dengan cara dihancurkan menjadi serpihan menggunakan mesin crasher (penghancur). Bila sampah plastik itu dalam bentuk serpihan, Pak Solihin membelinya seharga Rp. 3.000,-/kg. Hebatnya, tidak pernah ada cerita kelebihan beban, apalagi kekurangan bahan baku. Pokoknya, kalau ada penampung yang membawa plastik, berapapun banyaknya pasti dibeli langsung dengan uang cash oleh Pak Solihin. Kondisi ini disebabkan oleh besarnya potensi pasar. Bahkan aku dengar, sampai saat ini, penjualan plastik kresek atau barang-barang lain dari sampah plastik ini pasarannya sebenarnya masih bagus.
Sampah serpihan plastik itu kemudian masuk proses peleburan. Serpihan, menggunakan mesin tertentu, diproses menjadi bubur plastik. Dalam jangka masa yang tidak terlalu lama, bubur plastik itu akan mengering dan dengan proses tertentu, bubur plastik yang kering itu diolah menjadi biji plastik. Setelah menjadi biji plastik, ada dua mekanisme yang dipakai Pak Solihin: dijual lagi ke pabrik-pabrik plastik atau mengolahnya sendiri menjadi kantung kresek.
Dari usahanya ini, Pak Solihin mengaku bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 5.000 orang. Di pabriknya sendiri, ada sekitar 453 pegawai. Selebihnya, terdiri dari para pemulung yang tersebar berbagai kawasan seperti Cacing, Pedongkelan, Tanjung Priok, Srengseng, Cipinang Kebembem, Penas, ya masih sekitar Jabotabek. Rata-rata, satu hari, para pemulung bisa merengkuh sekitar 10 sampai 25 kelogram per hari. Bila sekilonya berharga Rp. 2.000,- maka pemulung itu punya penghasilan minimal Rp. 20.000,- bersih per hari.
Sayang entah kenapa perusahaan Pak Solihin kemudian bangkrut, setelah Pak Solihin sakit terkena sakit stroke. Menurut Bapak Pak Solihin inilah yang dulu memberikan pinjaman modal pada Bapak untuk dagang sampah plastik. Tapi Bapak yakin, kebangkrutan itu lebih karena persaingan kotor di antara perusahaan plastik yang bermodal besar. Monopoli, kata Bapak. Karyawan-karyawan perusahaan besar itu terlalu rakus, tak cukup terima gaji bulanan dari perusahaan. Mereka rebut dan kesampingkan peran dan nafkah para pemulung sebagai penampung-penyalur. Kerja keras para pemulung itu kemudian dihargai terlalu rendah, sebab kemudian mereka sendiri yang main sebagai penyalur ke perusahaannya sendiri. Pak Solihin yang sangat dekat dan sangat baik hubungan dengan para pemulung itu jadi korban. Tentu saja prinsip domino itu berlaku juga. Jaringan lapak plastik sub-usaha di bawah naungan PT. Sahaja Plastik Industri juga ikut kalang-kabut dan bangkrut, termasuk Bapak yang kehilangan relasi dan pasarnya. Ada kalau setengah tahun Bapak jadi seperti orang bingung. Saat itu Bapak gampang sekali jadi meledak marah-marah, hanya perkara yang sepele. Mamaklah yang selalu jadi sasaran. Juga Sono, kakak tiriku (anak Mamak dulu dengan suami pertamanya, sebelum dapat Bapak), sering didamprat Bapak kalau salah omong sedikit dengan Bapak. Bapak itu tampangnya saja yang tinggi besar dan serem, tapi sebenarnya orangnya perasa sekali. Teman-temanku mengatakan, aku ini lebih mirip Bapak ketimbang Mamak. Benarkah? Gede dan serem.. Tapi perasaan halusnya? Memang aku tidak cantik. Kulitku agak hitam. Tapi aku manis, kan? Aku sadar, di kalangan teman-temanku di pabrik helm Pulo Gadung itu dulu, aku dikenal kalau bicara ceplas-ceplos. Baru kemudian keadaan ekonomi keluarga kami jadi sedikit lebih baik, ketika Bapak dan Mamak mulai bekerja memungut dan setor sampah di Coca Cola.

***

Kembali soal namaku. Aku lebih percaya apa kata Mamak. Namaku sebenarnya hanya “Dayani”. Dan memang aku lebih suka dipanggil “Dayani”, atau disingkat “Yani”, bolehlah. Lebih singkat, lebih sederhana, lebih baik. Kadang aku iri dengan nama keempat adikku yang semuanya singkat-singkat saja: Hari, Nari, Barto, Lini. Kakak tiriku juga namanya cuma Sono. Itulah sebabnya sejak remaja usia 15 tahun, sebenarnya aku selalu ingin menanggalkan tambahan nama “Adilah” itu. Sebab selain jadi kepanjangan, tidak enak kedengaran di telinga, nama itu terdengar janggal untuk anak perempuan, juga hanya menambah beban mental pesan moral padaku saja. Aku ingin menolak terbebani lebih banyak dalam indentitasku sebagai anak pinggiran yang sudah penuh dengan berbagai macam stigma. Aku ingin biasa-biasa saja. Aku merasa lebih menjadi diriku sendiri dengan nama Dayani saja. Bayangkan, kapan saja, di mana saja, aku selalu harus ingat pada kata keramat “keadilan” itu, yang kita semua tahu, dambaan itu begitu jauh dari realitas hidup kami warga pinggiran yang selalu justru menjadi korban ketidakadilan dalam berbagai macam wajah. Aku capek. Mendingan di mana saja, kapan saja, aku ingat Coca Cola. Ingatan yang segar, membawa mimpi.
Tapi hai, entah kenapa, ternyata aku tidak bisa juga. Aku merasa berdosa setiap kali menanggalkan tambahan nama “Adilah” itu. Takut kuwalat? Takut kena tulah pada otoritas suara orangrtua yang bertuah, karena tambahan nama itu pemberian Bapak? Bawah sadar, mungkin. Tapi kenapa ya, dulu Bapak tidak menyuruhku pakai tambahan namanya sendiri “Baruno” di belakang namaku, sebagai nama keluarga yang resmi, sebagaimana kebiasaan umum yang berlaku dalam masyarakat modern? Tapi memang Bapak itu orangnya orisinil, sederhana, jujur apa adanya. Tak suka ikut-ikutan. Orang pinggiran ya orang pinggiran. Apa yang direkam dalam batinnya karena perjuangan di tengah lingkungannya yang nyata, itulah yang dinyatakan. Padahal sebagai orang Jawa, Bapak itu bagaimanapun juga masih sangat patriarkhis. Tapi dalam soal pemberian nama pada anaknya, ternyata tidak juga. Buktinya, bukan saja ia tidak menyuruhku memakai nama Baruno di belakang namaku, tapi ia bahkan memberikku nama “Dayani Adilah” sebagai nama yang mengandung makna kebangkitan dan perjuangan rakyat kecil secara adil. Hanya saja ya itu tadi, seumur hidupku aku bakal dibayang-bayangi pesan, misi perjuangan keadilan. Ya beratlah.
Dan soal nama depan “Maria” itu? Yah, kalau soal yang ini aku faham benar. Karena memang nama “Maria” itu nama baptis, yang kupilih sendiri karena aku dibaptis sebagai katolik bersama Bapak, Mamak, kakak-kakak dan adik-adikku sesudah aku beranjak remaja, ketika aku berusia 16 tahun. Maria itu nama Ibunda Yesus -yang kata Bu Suster Ani Anjani- adalah Ibu kaum beriman, dan Ibu kaum jelata. Lha kami ini kan orang-orang pinggiran, kaum jelata juga. Tapi kenapa kami kemudian sampai dibaptis menjadi katolik? Terus terang aku tidak tahu persis bagaimana proses iman itu berlangsung. Betapa sukar dijelaskan dengan kata-kata pengalaman mistik itu. Tidak aku, tidak juga Bapak dan Mamak. Menurut Bapak dan Mamak, dalam KTP Musiman mereka, tertulis agama mereka itu Islam. Tapi menurut Bapak sejak dari Jawa memang Bapak dan Mamak tidak pernah benar-benar mendalami sebuah agama, termasuk Islam, kendati sejak kecil lingungan Bapak dan Mamak itu beragama Islam. Hidup Bapak dan Mamak sejak dulu terlunta-lunta. Rupanya mereka terlalu sibuk untuk mempertahankan dan menyambung hidup saja. Memang kata Mamak, sejak datang dari Jawa, Bapak selalu menyitir dan menggunakan kata-kata bijak orang jawa. Pokoknya Bapak itu orangnya kejawen banget-lah. Bisa dibilang, agamanya ya sebenarnya agama Jawa. Sewaktu keluarga kami karena tergusur dari Pedongkelan dan terpaksa pindah lagi di pelbak dan transito sampah Cacing, pinggiran jalan Tol Cakung-Cilincing, tempat kuhabiskan sebagian besar masa kecil dan masa remajaku, memang ada beberapa pendeta Kristen protestan dan pernah juga petugas gereja katolik yang kadang datang mencoba mengajak kami warga pemulung untuk masuk Kristen. Tapi seperti juga agama-agama yang lain, mereka mewartakan tentang ajaran iman mereka dengan terlalu banyak kata-kata, aturan-aturan, kaidah-kaidah hukum yang harus kami hafal. Tapi entah kenapa waktu itu Bapak dan Mamak, serta kami anak-anak tidak begitu tertarik. Mungkin karena cara penyampaiannya hanya dengan mengajar saja. Sepertinya tidak ada hubungannya apa-apa dengan pengalaman hidup kami sehari-hari yang serba susah dan bagaimana kami mesti keluar dari segala ketidakpastian, ancaman gusuran dan kelangkaan pekerjaan itu. Tidak beda dengan model dakwah-dakwah yang lain.

***

Nah, suatu hari, datanglah teman Bapak, namanya Pak Haryono. Umurnya sedikit lebih muda dari Bapak. Agama Kristen katolik. Kata Bapak sih orang kantoran. Dari Gerakan Sosial Jakarta (GSJ), sebuah Lembaga swadaya Masyarakat yang berkantor di bilangan Jl. Haji Yahya, dekat Kebon Nanas Jakarta Timur. Tapi kok orangnya sederhana sekali. Sama sekali tidak ada tampang kantoran. Terus terang penampilannya tidak beda seperti kami keluarga pemulung. Juga omongannya. Terkesan lugu. Begitulah selanjutnya Pak Haryono sering datang dan memperkenalkan Bang Lugas, Bu Ani Anjani, Mbak Saras, Mas Ari, Mas Tikyan, Mas Bardi, Mbak Ratri dan Pak Sastra, dll. Ya, sebagian besar warga pemulung Cacing ikut dalam SSR yang sering dipimpin Pak Sastra itu. Aku dengar-dengar beberapa orang dari LSM ini beragama katolik. Tapi anehnya, mereka sama sekali tidak pernah bicara soal ajaran agama mereka. Mereka tidak pernah rewel kalau datang. Bahkan mereka tidak banyak bicara. Mereka justru banyak menyapa dan berusaha mendengarkan keluhan-keluhan kami, ya soal ancaman penggusuran, ya soal sulitnya kehidupan karena kelangkaan pekerjaan, pokoknya segala macam ketidakpastian hidup kami. Dan aku mulai heran, sesudah tiga sampai lima bulan mereka bergaul dekat dengan kami, mereka tidak menjanjikan apa-apa pada kami, kecuali ingin belajar dan berteman. “Kita berjuang bersama”, itu selalu yang mereka ulang-ulang. Yang paling menyentuh hati itu semangat para relawan mereka yang kebanyakan mahasiswa dalam membuka “sekolahan pinggiran” untuk anak-anak Cacing, terutama yang belum atau tidak punya kesempatan bersekolah karena tak punya biaya. Kami anak-anak waktu itu diajari cara membaca, menulis, menggambar, berhitung, menyanyi, bermain, dsb. Dalam setiap kali sarasehan SSR di Cacing, yang mereka tekankan selalu agar para warga jangan putus asa. Kita harus bersatu, berdikari, mempunyai kesadaran kritis, punya rasa solidaritas satu sama lain dan berjuang bersama dengan prinsip-prinsip kebenaran dan perdamaian. Sekali lagi, sama sekali tidak ada pelajaran agama katolik atau apa. Bahkan, yang kami heran, Pak Sastra selalu meminta pada para ustaz setempat untuk ikut aktif mengajar agama Islam pada anak-anak dan remaja itu.
Begitulah, hampir tiap hari, secara bergantian, dan bergerilya, mereka datang membantu kami. Bahkan beberapa dari mereka tinggal bersama kami, bekerja bersama kami, bersama gotong-royong para anggota SSR kami membangun rumah bersama untuk tempat pendidikan anak-anak dan tempat rapat bagi warga dan SSR. Dan kami lihat sendiri dengan mata kepala sendiri, bagaimana saat penggusuran besar-besaran itu tiba. Penggusuran sudah dimulai disisir dari lokasi Cacing ujung sebelah kanan. Kelompok per kelompok rumah-rumah gubuk itu dibuldozer dan dibakar aparat Kamtib, Polisi dan tentara. Diperkirakan dua hari lagi akan sampai ke lokasi kami. Yang membuat kami warga Cacing terharu adalah datangnya rombongan solidaritas dari SSR yang siaga mendukung dan membantu kami, yang Mas Jukino wakil dari tukang Becak, Meri Bongkok wakil anak jalanan, Mas Bagas dan Amisani wakil dari buruh, Bang Agus Salam, wakil dari pedagang kaki lima tanah abang. Maka oleh Pak Sastra, Bang Lugas, dan Bapak, warga segera diorganisir, dikumpulkan dan bahkan dilatih, bagaimana kami bisa melawan penggusuran paksa itu secara bersama, tanpa kekerasan. Para ibu, remaja puteri dan anak-anak bergandengan tangan justru berada di garda depan. Para bapak dan pemuda serta para wakil dari SSR berada di barisan lapis dua di belakang. Sementara Pak Sastra, Bang Lugas dan Bapak berusaha menemui pimpinan Kamtib, polisi dan tentara yang berada di lapangan memimpin penggusuran itu. Mencoba mengajak bicara sebagai manusia yang punya hati nurani. Sebab kalau kami digusur paksa begitu, bukan hanya kami semua akan kehilangan tempat tinggal dan tempat kerja, tapi juga pendidikan anak-anak juga yang sedang sekolah di sekitar Cacing bakal kocar-kacir juga. Dan ke mana kami semua harus mengungsi dan bernaung? Aku ingat pimpinan Kamtib saat itu bernama Raja Situmorang. Orangnya sombong dan keras sekali. Padahal dia-dia juga dan anak buahnya yang tiap bulan menariki pajak yang mencekik pada kami. Penggurusan ini pasti pesanan proyek entah jalan tol maupun perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar Cacing ini, yang tentu saja mampu membayar mereka dengan uang yang banyak. Yang jelas, mereka sama sekali tidak perduli dengan nasib kami orang-orang kecil. Kami ini hanya jadi obyek pemerasan dan penipuan mereka.
Dan ketika alat-alat negara itu mulai bergerak menggusur kami, ibu-ibu, remaja puteri dan anak-anak yang berada di barisan depan mulai berteriak-teriak bersama, sambil menyanyikan yel-yel lagu-lagu perjuangan. Sementara bapak-bapak dan para pemuda, dipimpin dua bapak ustaz orang Madura, berdoa salawat dan serentak menyeru-nyeru sekuat jiwa: “Allahuakbar! Allahhuakbar!”, sambil semuanya saling bergandengan tangan menghadang laju gerak penggusuran paksa itu. Orang-orang yang lalu-lalang di jalan tol itu ternyata banyak yang berhenti, terjadi kerumunan massa menonton peristiwa dramatis itu, bahkan sebagian dari mereka ikut membantu kami. Kata Bang Lugas, ada dua-tiga wartawan di antara mereka. Keadaan pun jadi makin tegang dan kacau. Dan ternyata masih saja ada satu-dua warga asal Madura yang membawa celurit dan sudah mulai menghunusnya untuk melawan para alat negara itu. Untung saja bisa ditenangkan oleh Pak Yono dan Pak Sastra. Saat itu juga, justru akulah yang akhirnya tidak tahan diam. Aku segera berlari maju ke depan menjumpai seorang pimpinan tentara yang berdiri paling depan dalam penggusuran itu dan kubentak sekuat tenaga:
“Bapak ini tentara, militer, seharusnya melindungi kami rakyat kecil yang sedang susah! Tentara itu seharusnya pelindung rakyat! Coba lihat dan dengar itu anak-anak dan ibu-ibu semua. Mau diapakan kami ini semua? Ke mana kami harus berlindung? Itu kan saudara-saudara bapak juga….. Apa bapak tidak punya anak dan istri di rumah?! Apa bapak tidak punya hati nurani?!”
Di luar dugaan, ternyata perlawanan bersama kami ini kemudian mampu menghentikan gerak penggusuran paksa itu. Rupanya para aparat keamanan yang perkasa itu kehilangan nyali dan akalnya karena tak menduga akan mendapat perlawanan tiba-tiba dari para ibu dan anak-anak dengan cara sedemikian rupa. Tak pernah sebelumnya dari perlawanan begitu di lokasi sepanjang Cacing pinggiran jalan tol itu. Sebuah kenangan peristiwa yang membangkitkan semangat hidup dan perjuangan kami warga pinggiran. Tak kan kulupakan seumur hidupku.

***

Sejak peristiwa penggusuran Cacing itu, hubungan dan kerjasama warga dengan GSJ dan SSR makin dekat dan akrab saja. Terutama dengan Pak Sastra dan teman-temannya. Kami tak ubahnya bagai saudara senasib-seperjuangan semua. Bapak, Mamak, aku dan adik-adikku diam-diam di rumah sering membicarakan saahabat-sahabat dari GSJ ini. Kok mereka bersemangat begitu, ya. Kok mau-maunya ya, ikut susah bersama kami. Apa sih yang menggerakkan mereka. Bapak bilang, “Ya iman mereka, nduk…”. Dan tiga bulan setelah peristiwa itu, kami sekeluarga memutuskan untuk menemui Pak Sastra yang ternyata seorang romo katolik tapi kok semua teman-temannya memanggilnya “Pak” atau “Oom”. Kami ingin masuk agama katolik, bagaimana caranya. Dan kami kaget, ketika Pak Sastra justru bertanya,
“Lho, kenapa? Tidak perlu. Biar saja dengan iman Bapak-Ibu, Dayani dan adik-adiknya selama ini. Islam, kan? Itu sudah baik. Saya pun sangat menghormati, saya pun belajar banyak dari agama Islam… Yang penting dengan rendah hati kita terus berbuat baik saja, banyak membantu orang lain, pasti selalu dilindungi Gusti Allah, seperti Pak Baruno sekuarga sudah lakukan selama ini.. Ingat, lho, Bapak di Cacing kan sudah dianggap sebagai pemimpin..”
Begitu tanggapan kalem Pak Sastra yang membuat bingung Bapak dan kami semua. Entah kenapa, kami sekeluarga jadi gelisah sekali. Kami ingin mendapat jawaban dan kepuasan batin dari masalah kehidupan iman kami, yang banyak dibilang orang tidak jelas, “Islam tidak, Kristen juga tidak”. Dan kami tidak putus asa. Sebulan kemudian dengan ditemani Pak Yono, Bapak datang menemui Pak Sastra lagi di kantornya. Bapak mengulang lagi keinginan seluruh keluarganya untuk masuk agama katolik saja,
“Supaya keluarga kami ini bisa bekerja dan berjuangan dengan batin yang tenang, seperti teman-teman GSJ”, kata Bapak. “Kami sudah mantab dengan keputusan kami untuk minta dibaptis secara katolik…”.
“Kalau begitu ya sudah. Menjadi katolik itu tidak mudah, tapi sederhana saja. Karena itu masalah iman, masalah perjuangan hidup, Memang, masuk katolik itu ada caranya sendiri. Dan sebaiknya jangan lewat saya. Saya ini romo pinggiran. Bapak sekeluarga datang saja ke gereja Bekasi, itu paroki Bapak. Silahkan Pak Baruno sekeluarga datang dan memperkenalkan diri pada Pastur Paroki di situ. Nantikan akan didaftar masuk dalam proses katekumenat..”, kata Pak Sastra sambil tersenyum dan menggendong adikku Lini yang sejak awal ketemu Pak Sastra selalu menempel terus pada romo yang kurus, tidak banyak omong tapi selalu terbuka menerima kami itu.
Selanjutnya dengan tetap ditemani Pak Yono, Bapak mengajak Mamak yang kebetulan sedang sakit, aku, Barno dan Lini ketemu pastur di Gereja Katolik Bekasi. Kakakku Sono dan adikku Hari tidak ikut karena sedang mengantar beling ke pabrik. Sementara Nari tinggal di rumah, sakit deman sudah dua hari. Gereja itu besar dan megah. Jam 14.00 siang. Sepi sekali. Bapak dan Mamak sudah keder duluan. Satpam penjaga sudah bilang bahwa ini bukan waktunya, bukan jam tamu, para pastur sedang tidur siang. Tapi kepalang-tanggung. Sudah sampai di situ. Pak Yono nekad memencet bel. Satu kali tak ada jawaban. Kedua kali, tetap tak ada reaksi dari dalam rumah besar dan sepi itu. Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya Pak Yono memencet sekali lagi. Dan ternyata benar, keluar seorang agak tua dengan wajah masih ngatuk dan bersungut-sungut, yang kemudian saya tahu seorang pastur bernama Pastur Leo Jegadut. Spontan Bapak dan Pak Yono memberi salam,
“Selamat siang, Pastur! Maaf, kami mungkin mengganggu istirahat Pastur..”
Pastur itu ternyata tidak juga menjawab. Tapi matanya yang berbicara. Matanya menatap kami satu per satu, penuh selidik. Dari kepala sampai ujung kaki kami. Seakan curiga pada kami. Kami jadi merasa risih dan jengah, tidak enak dibuatnya. Rasanya kami tadi tidak menyentuh dan mengambil apa-apa di ruang tamu itu. Dan kami tidak mengerti, kenapa dia nampak seperti marah. Bapak jadi gugup. Tapi Bapak terus berusaha melanjutkan sebisa-bisanya,
“Selamat siang Pastur. Maaf kami mengganggu. Kami ini warga dari Cacing, pinggiran jalan tol.. Kami sekeluarga ingin masuk katolik. Apa boleh, Pastur..?”
Pastur itu akhirnya mau bicara juga. Dengan tetap berdiri dan sama sekali tidak mempersilahkan kami untuk duduk atau apa. Dengan ketus Pastur itu entah sedang bertanya, entah sedang menegur kami:
“Tapi kalian ini siapa? Kenapa datang jam begini?”
“Oh.maaf, Pastur…Saya Pak Runo, Pak Baruno, Pastur. Saya tidak tahu kalau jam begini Pastur sedang istirahat. Maaf, maaf. .. Saya ke sini bersama Pak Yono, yang katanya sudah pernah ketemu Pastur. Dan ini Nipah, istri saya. Yang ini Dayani, dan yang ini Barno ..dan yang kecil itu Lini, semua anak-anak saya. Sebenarnya masih ada dua anak saya yang laki sudah agak besar, si Sono dan Hari, tapi mereka sedang ikut truk sampah ngantar beling ke pabrik. Sedang Nari adiknya Dayani ini sedang sakit di rumah sudah dua hari, Pastur…”
Sejenak Pastur itu kembali tidak menjawab, kecuali matanya yang terus berbicara serasa menusuki perasaan kami satu per satu. Sempat tertangkap oleh mataku, Pak Yono diam-diam dari belakang berusaha menepuk-nepuk punggung Bapak, maksudnya mau menenangkan Bapak yang sudah kelihatan sangat gugup dan gelisah, tidak menduga kejadiannya bakal begini. Apa lagi terdengar Mamak batuk-batuk terus tak bisa ditahan. Mamak memang sedang sakit. Tapi tadi dipaksa Bapak untuk ikut. Bapak yang semula mengajak kami dengan penuh harapan dan keyakinan pasti bakal segera diterima dengan terbuka, seperti biasa kalau Bapak datang pada Pak Sastra.
“Jadi kalian ini pemulung, tukang pungut sampah? Pantesan sakit-sakitan, pekerjaannya di sampah…”
Begitu komentar sang Pastur tiba-tiba, di luar dugaan. Sebuah pertanyaan retoris dan komentar yang terdengar bagai sengatan lebah kelapa yang pedih dan langsung menembus ulu hati kami semua. Bapak kehilangan kata. Wajahnya terkulai seketika. Aku bisa menyelami perasaan Bapak. Bapak bukan hanya merasa ditolak. Tapi Bapak merasa sangat terhina. Pekerjaan sebagai pemulung telah dihina begitu rupa. Padahal dengan pekerjaan memungut sampah secara halal itu Bapak bagaiamana pun juga, betapapun susah-payahnya, sudah berhasil menghidupi kami sekelurga. Memang tiga tahun lalu Mas Sono putus sekolah, karena tidak ada biaya. Begitupun tahun lalu, giliran aku sebagai anak perempuan yang dianggap sudah besar, harus rela melepas sekolah kelas lima SD-ku, untuk memberi kesempatan pada adik-adikku untuk bisa terus pernah mengenyam bangku sekolah. Tapi bagiku, bagi kami sekeluarga, Bapak adalah pahlawan kami. Bagi kami sampah adalah berkah dari Allah. Karena dari sampah juga kami bisa menyambung hidup. Pastur yang mungkin tak pernah bergaul dengan masyarakat dan terlalu lama tinggal di lingkungan pasturan ini, pasti tidak tahu semua itu. Entah sengaja atau tidak, sadar atau tidak, dia telah menghina martabat kami sebagai warga pinggiran. Kami semua sangat terpukul dan kecewa. Maka kami, apa lagi Bapak, tidak lagi membuka mulut, ketika Pastur menanyakan soal KTP, Akte Keluarga dan Surat Nikah Bapak-Mamak. Pak Yonolah yang dengan kesal dan mulai marah itu, berusaha menjawab,
“Pastur ini bagaimana.Pak baruno sekeluarga ini kan memang mata pencariannya sebagai pemulung. Bukannya dibesarkan hatinya, kok malah dihina. Soal KTP mereka hanya punya KTP musiman. Akte Keluarga dan Surat Nikah sudah terbakar dalam penggusuran 4 tahun lalu. Bukan salah mereka.”
Begitu Pak Yono berusaha membela sambil menjelaskan. Belum juga Pak Yono melanjutkan kata-katanya untuk menumpahkan segala kekesalannya, Bapak gantian yang menarik lengan baju Pak Yono dari belakang. Bapak memberi tanda agar kita semua segera pamit pulang saja. Bapak tidak tahan.
“Ya sudah Pastur, kami mohon pamit saja. Terima kasih. Selamat Siang.”
Dan kami semua pulang sambil menunduk. Begitupun sepanjang perjalanan di dalam mobil angkot jurusan Bekasi – Pulo Gadung, kami semua masih terdiam, tenggelam dalam pergolakan batin masing-masing. Dan sesampainya di rumah kulihat Bapak masih tampak sangat sedih dan emosional. Pak Yono baru pulang meninggalkan rumah kami pada malam hari, pukul 21.00 WIB. Malam yang gelisah dan sepi sekali.

***

Sore yang cerah, keesokan harinya, sekitar pukul 18.00 WIB, Pak Yono datang lagi. Dan ternyata Pak Yono datang bersama sahabat Bapak yang lain, yang sering Bapak sebut sebagai “orangtua kita”, padahal usianya lebih muda ketimbang Bapak sendiri, Pak Sastra. Spontan kami semua berkumpul menyambut dan mengerumuni Pak Sastra. Entah kenapa. Dan kan bukan hanya aku, tapi juga Bapak, Mamak, dan adik-adikku semua merasa dekat dengan Pak Sastra yang selalu berpenampilan wajar, biasa, sederhana dan ramah itu. Bahkan aku perhatikan Pak Sastra kalau bicara sambil senyum itu sebenarnya terlalu pelan suaranya. Tentu saja kami semua menyambut gembira ketika Pak Sastra menyatakan ia merasa sumpek tiga hari kerja di kantor, maka malam itu ia kalau boleh ia ingin menginap di rumah kami di Cacing. Selain gembira, heran juga aku. Pasti Pak Sastra sudah dengar apa yang sedang kami alami sejak kemarin. Terutama kuperhatikan Bapak. Sejak awal kepadatangan Pak Sastra sama sekali Bapak belum bicara. Waktu menyambut Pak Sastra, tidak seperti biasa, kulihat kali itu Bapak langsung memeluk Pak Sastra erat-erat dengan matanya yang merah berkaca-kaca. Tanpa bicara. Dan Pak Sastra pun seperti sudah mengerti semuanya, menepuk-nepuk dan mengelus-elus bahu Bapak berusaha menghibur. Sesudah itu kuperhatikan Pak Sastra langsung ke dapur di belakang, menemui Mamak yang sedang masak air, lantas menjenguk adikku si Nari yang masih tergolek demam di kamarnya. Rupanya Pak Sastra prihatin dengan sakitnya Mamak dan si Nari. Dan si Lini itu. Ah, manjanya minta ampun! Kan dia sudah mulai gede, sudah satu setengah tahun bisa jalan, kok dari tadi terus nempel minta digendong Pak Sastra begitu rupa. Tapi dasar Pak Sastra-nya juga seneng sama si tompel itu, mau dibilang apa. Biar sajalah. Mungkin karena sama-sama anak ragil. Aku dengar dari Mas Tikyan, Pak Sastra kan juga anak paling kecil dalam keluarganya.
Malam itu angin di atas bentangan rawa-rawa dan payau pinggiran jalan tol itu memang terasa agak kencang mendesir dingin. Bapak dibantu adikku Barto membuat api unggun. Dan malam itu malam bulan purnama. Jam 23.00 WIB. Bapak mengajak Pak Sastra duduk di atas tongkang bambu di dekat rumah kami pinggir jalan tol Cacing. Kulihat Pak Sastra tersenyum melihat di para-para bambu sebelah Bapak duduk sudah tersedia dua gelas kopi kental manis dan panas, serta sepiring ketela pohon goreng yang gurih kesukaan Pak Sastra. Rupanya Mamak sudah menyediakan minuman dan makanan nyamikan itu dalam baki dua menit sebelum Bapak dan Pak Sastra duduk di tongkang bambu di atas rawa-rawa pinggir jalan tol itu. Sebentar Bapak mengambil gitar kesayangannnya, dan dengan gayanya yang tenang penuh perasaan Bapak mulai memetik senar-senar gitar tua yang beberapa kulihat sudah disambung-sambung. Pak Sastra tampak duduk tertegun, senang dan menikmatinya, sambil sesekali menikmati hidangan kopi dan ketela goreng yang tersedia. Setelah tiga lagu, Bapak berhenti, meletakkan gitarnya. Dan pelan-pelan Bapak berdiri, membuang muka menerawang pandangannya jauh ke kampung seberang rawa-rawa dan semak belukar yang masih juga ada kunang-kunangnya. Tanpa menghadapkan mukanya pada Pak Sastra, mulailah Bapak bertutur pada Pak Sastra..(Dan Bapak selalu begitu, kalau bicara dengan Pak Sastra selalu saja pakai bahasa Jawa yang tidak selalu dapat aku mengerti artinya. Begitu juga sebaliknya Pak Sastra kalau bicara dengan Bapak).

“Pak Sastra…, tadi malam saya gelisah sekali. Sampai hampir pagi saya tidak bisa tidur. Waktu saya sudah mulai bisa tidur, ternyata saya mimpi. Saya mimpi pada suatu hari bersama seluruh keluarga mengunjungi sebuah tempat, yang sudah begitu lama kami rindu-dambakan. Sebuah hamparan kebun timun yang luar biasa luas, subur dan indahnya. Kebetulan buah-buah timunnya sedang keluar, sudah besar-besar, ranum-ranum membuat setiap orang yang haus dan lapar pasti ingin segera memetiknya.

Pokoknya hebatlah, Pak Sastra. Sayang sekali, ternyata kebun itu di kelilingi pagar yang tinggi. Tapi saya yakin pasti pemiliknya dan pekerja-pekerjanya luar biasa. Maka saya sambil mengajak seluruh keluarga, memberanikan diri untuk mengetuk pintu gerbang perkebunan besar itu berkali-kali. Lama sekali pemilik kebun itu tidak keluar. Mungkin beliau sedang istirahat. Eh, di luar dugaan, ketika sang pemilik kebun itu akhirnya keluar membukakan pintu, tiba-tiba kami langsung dibentak dan didamprat. Kami semua diusir dengan cara yang amat nista. Wah, kami tidak habis pikir, saya tidak menduga, Pak Sastra. Kami sekeluarga sangat terpukul dan pedih….”

Dari jarak sekitar tujuh meter aku lihat Pak Sastra, meskipun dalam cahaya temaram bulan purnama, wajahnya tertunduk menahan sedih. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk tanpa suara. Tapi selalu begitu, Pak Sastra selalu berusaha dan bisa tampak tenang terutama pada saat menghadapi masalah dan kesedihan orang lain yang ingin dibantunya. Rupanya Pak Sastra faham betul apa yang tengah bergolak dalam batin Bapak. Pak Sastra kan orang Jawa, pasti Pak Sastra tahu bagaimana alam pikiran Bapak sebagai orang Jawa yang suka mengungkapkan segala sesuatunya, terutama perasaan hatinya yang paling dalam, dengan kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan itu. Apalagi, pasti Pak Sastra sudah mendengar dari Pak Yono, peristiwa penolakan dan penghinaan yang kami alami kemarin di pasturan Bekasi itu. Pak Sastra orangnya begitu, lebih suka sabar mendengar dulu sebelum gantian bicara.
“Wah, Pak Baruno, bagaimanapun juga Pak Baruno sekeluarga harus tetap bersyukur mengalami mimpi seperti itu. Sejak saya kenal Pak Baruno sekeluarga, saya diam-diam selalu kagum dan merasa harus belajar banyak dari Pak Baruno. Gusti Allah ternyata begitu sayang dan dekat dalam perjalanan hidup Pak Baruno sekeluarga. Mungkin Pak Baruno sendiri tidak selalu menyadarinya. Itu biasa. Pak Baruno memang sedang mengalami krisis sebelum mendapatkan rahmat dari Allah yang sesungguhnya, entah apa dan bagaimana caranya. Saya yakin sebenarnya Pak Baruno ini “Wis weruh sak durunge winarah” (Bahasa Jawa lagi, artinya “Sudah melihat sebelum diberitahu”). Cuma ya Pak Baruno jangan emosi. Kita mesti sabar dan jernih. Orang yang datang menyambut Pak Baruno dan Pak Baruno anggap sebagai pemilik utama kebun timun itu menurut saya sama sekali bukanlah pemilik kebun timun itu yang sebenarnya. Pemilik sejati kebun timun itu ya Gusti Allah Sang Penyelenggara Kehidupan. Tanah di mana tanaman itu tumbuh, udara yang melingkupi tanaman itu serta air hujan yang menyirami tanaman itu kan dari Gusti Allah semuanya. Nafas kita juga dari Gusti Allah. Semangat perjuangan hidup kita bersama, itu juga dari Gusti Allah asalnya. Gusti Allah itu seperti angin malam ini, tidak kelihatan tapi daya dahsyat tiada tara. Ah, Bapak sendiri sudah selalu mengalaminya, memang Gusti Allah itu Maha Baik, Penuh Welas Asih, terutama pada hambanya yang miskin dan menderita. Memang seringkali kita tidak mengerti juga apa kehendak karsanya. Kadang kita seperti harus mencari maknanya sendiri di balik berbagai macam peristiwa yang kita alami. Tapi percayalah Pak Baruno, timun-timun itu memang ditanam untuk Pak Baruno, Bu Baruno dan anak-anak Pak Baruno serta semua manusia, terutama yang dengan rendah hati menyatakan kerinduannya yang sangat mendalam pada keselamatan dari Allah Sang Maha Rahim itu. Sedangkan orang yang sudah terlanjur Bapak anggap sebagai pemilik kebun timun itu ya tidak lain sebenarnya hanyalah seorang pekerja kebun timun yang kurang bisa bergaul dan kikir saja. Terlalu keenakan hidupnya, sampai lupa daratan. Seorang pekerja yang lalai, malas dan ketiduran seperti itu, mestinya kita tegur. Bahkan sebenarnya merupakan tugas Pak Baruno juga sebagai salah seeorang warga penduduk sekitar kebun, kalau melihat ada pekerja yang lalai ketiduran di perkebunan Gusti Allah seperti itu, ya langsung ambil air satu ember, dan guyur saja orang itu biar kaget dan terjaga. Dia mesti kita bangunkan dan sadarkan akan tugas dan tanggungjawabnya kembali. Itu berarti Pak Baruno sudah membantu pekerjaan sang pemilik perkebunan yang sejati, Gusti Allah Sing Mbaureksa Ngaurip (bahasa Jawa, artinya “Sang Penguasa Kehidupan”). Jadi, ya sudahlah Pak, sekarang bernyanyilah dengan gembira, Pak Baruno, tak perlu sedih begitu. Sang pemilik kebun timun yang sejati itu juga suka kok, lagu-lagu keroncong Jawa Timuran…”
“Ah, bisa saja Pak Sastra ini…”
Jawab Bapak berlinangan air mata sambil melangkah maju memeluk Pak Sastra. Wajah Bapak tampak jadi bercahaya. Dan begitulah selanjutnya, kembali Bapak mengambil gitar tuanya dan menyanyi bersama Pak Sastra, lagu keroncong yang selalu diulang-ulang Bapak, “Di Bawah Bulan Purnama”.
Tiga bulan kemudian, kami sekeluarga akhirnya dibaptis di gereja katolik paroki Cempaka Putih, dengan sebelumnya selama sebulan kami harus mengikuti semacam kursus persiapannya sebagai katemumen dengan Bapak-Ibu petugas kategis di gereja itu. Waktu Bapak ditanya sama Pak Sastra bagaimana perasaan Bapak saat dan sesudah dibaptis itu, jawaban Bapak ternyata sangat sederhana dan aku setuju sekali,
“Ah biasa Pak Sastra. Ya namanya upacara resmi selalu begitu, kan. Pak Sastra tahu sendirilah. Tapi itu kan upacara baptis. Upacara. Baptis yang sebenarnya sudah kami alami sebelumnya. Kami sekeluarga merasa benar-benar sudah dibaptis secara alamiah dan asli oleh Gusti Allah sendiri pada saat peristiwa penggusuran Cacing waktu itu. Terutama pada saat kita semua saling memberikan kesaksian hidup secara nyata: bekerja keras mempertahankan hidup, bersatu saling mengasihi, memperhatikan dan menolong yang paling menderita, bergandengan tangan berjuang bersama tanpa kekerasan, ya cinta damai. Pak Sastra pasti masih ingat ketika kita bersama Pak Yono menolong Mak Sanip yang melahirkan bayinya di tengah gusuran biadab itu, sehingga bayinya yang setelah selamat itu saya beri nama Suryati? “Yen digusur sing ati-ati?”

***

Baiklah. Aku pun selanjutnya akan menggunakan nama lengkapku: Maria Dayani Adilah. Tapi nama lengkap itu hanya aku gunakan ketika aku sedang menyatakan diri secara resmi dalam berbagai kesempatan resmi pula. Sebaliknya, ketika aku sedang mengungkapkan diri dalam peristiwa, cara dan suasana yang menyentuh inti pribadiku, misalnya ketika tengah menulis dan bertutur bebas dari dalam lubuk jiwa, aku pasti hanya pakai nama “Dayani”. Demikian aku meresapi pengalaman penamaan itu, bukan hanya sebagai bagian dari sejarah dan asal usulku, tapi juga sebagai pesan, misi dan imanku yang senantiasa kubawa dalam perjuangan di masa depanku.
(Bersambung..)

Jakarta, 5 Oktober 2000

Komentar & Solusi