Pengalaman Santi Napitupulu menghadiri Anniversary Women Bank dan Meeting Urban Poor Coalition of Asia di Srilangka

PENGALAMAN ADALAH GURU PALING BERHARGA

SantiNapitupuluKetika semua orang berharap dan bermimpi dapat keliling dunia maupun keliling Negara sendiri (Indonesia) justru saya tidak pernah bermimpi atau membayangka. Tidak terbayangkan bisa pergi ke suatu Negara lain yang cukup jauh dan tidak pernah ada dalam benak saya, kesempatan dan pengalaman ini saya dapatkan ditempat kerja saya yaitu Ciliwung Merdeka. Hari itu merupakan goresan cerita baru dalam lembaran pengalaman hidup saya. Terbang ke luar negeri, kota Colombo, Srilanka tepatnya, untuk menghadiri Anniversary Women Bank dan Meeting Urban Poor Coalition of Asia dengan 19 negara yang terlibat didalamnya. Saya akan mencoba berbagi pengalaman selama berada disana.

Karena ini kali pertama bagi saya maka saran dari teman yang juga akan pergi dan kebetulan sudah sering ke luar negeri menyarankan saya untuk tiba di bandara Soekarno Hatta dua jam sebelumnya. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa diprediksi di bagian imigrasi. Oleh karenanya, malam hari sebelum keberangkatan, saya mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa. Satu travel bag dan satu ransel cukup untuk semuanya. Pakaian, sepatu dan beberapa berkas dokumen saya masukkan ke travel bag untuk nantinya ditempatkan ke dalam bagasi pesawat. Sementara kamera, handphone dan beberapa barang penting lainnya saya satukan dalam tas ransel.

Untuk hotel tempat penginapan sudah disiapkan dari panitia yang berada di Colombo, Srilanka. Adapun untuk gambaran umum kota dan penduduk saya dapatkan dengan cara browsing lewat internet. Misalnya mengenai alat angkutan dari bandara dan di kota, keseharian orang disana, makanan, keadaan keamanan, agama yang ada disana dan lain sebagainya.

Senin, 25 Agustus 2014

Saya siap-siap berangkat menuju Srilanka, supaya tidak terkendala dengan kemacetan saya putuskan berangkat agak pagi. Sekitar Pukul 09.00 pagi saya berangkat dari rumah di daerah Bukit Duri , Tebet dengan menumpang motor teman, tetapi dijalan sebelum sampai tujuan ke tempat bus Damri motor mengalami bocor ban belakang, maka saya putuskan untuk mengganti kendaraan berangkat kebandara dengan menggunakan taksi. Sekitar Pukul 09.30 siang taxi yang membawa saya tiba di terminal 2 bandara, terminal khusus keberangkatan dan kedatangan Internasional. Disana saya masih harus menunggu teman yang dari Yogyakarta.

Perjalanan menuju Colombo akan kami lakukan dengan menumpang maskapai penerbangan Nihin Lanka. Pesawat rencananya akan berangkat Pukul 14.30 langsung menuju Colombo. Kami pun melakukan proses check in, membayar airportax untuk penerbangan internasional sebesar Rp 150 ribu per orang, dan menuju bagian pengurusan fiskal. Kemudian kami menuju jalur masuk pemeriksaan imigrasi. Sebelumnya kami mengisi formulir keberangkatan terlebih dahulu, melewati meja pemeriksaan imigrasi, satu per satu dokumen diperiksa, dan akhirnya lewat.

Tepat Pukul 14.35 waktu Jakarta Pesawat Nihin Lanka lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Seperti biasa, ketika pesawat akan lepas landas saya memanjatkan doa untuk keselamatan kami dan kemudian memasrahkan semuanya kepada yang diatas.

Selama penerbangan saya memanfaat waktu untuk tidur, Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih enam jam, akhirnya pesawat Nihin Lanka tersebut mendarat di colombo International Airport, Srilanka. Pemeriksaan di Bandara Srilanka tergolong ketat dan berlaku sama untuk semua penumpang. Kita harus melepas jaket, sepatu, ikat pinggang, jam tangan, dompet dan meletakkannya pada box yang sudah tersedia. Meskipun sedikit agak direpotkan, suasana pemeriksaan tersebut berjalan lancar.

Selepas sampai kami menunggu jemputan dari panitia. Menunggu cukup lama tetapi pihak panitia tidak ada terlihat di bandara walaupun banyak taxi diluar bandara mewarakan jasa tetapi kami tidak berani menyewanya sebab kami tidak tahu kondisi disini dan akhirnya kami memutuskan menyewa taxi dari bandara sebab waktu menunjukan pukul 17.00 cukup malam untuk kami sebab kami tidak tau jalan menuju hotel yang akan kita tempati.

Sekitar Pukul 19.00 waktu Srilanka kami sampai di hotel, kami Diberikan minuman selamat datang. Setelah kami sampai pihak panitia menanyakan keberadaan kami ternyata pihak panitia masih ada dibandara menunggu kami, disini terjadi mis sebab pihak panitia tidak menggunakan kertas pada tempat menunggu kedatangan penumpang. Kami konfirmasi kalau kami sudah sampai di hotel.

Selasa, 26 Agustus 2014

Adalah hari pertama memulai kegiatan. Ketika makan pagi kami tidak melihat Negara lain yang seharusnya ada disini makan bersama, teman dari komunitas menanyakan kepada panitia dimana peserta yang lain? Ternyata peserta yang lain ada di lantai 8, kami salah tempat untuk makan kami makan di lantai Ground, akhirnya kami putuskan untuk bergabung ke lantai 8 ternyata disana sudah banyak teman-teman dari Negara lain.

Pukul 09.00 waktu Srilanka panitia mengajak kami ke tempat pertemuan. Acara pertama yaitu Presentation on women Co-op/program/Urban Poor Coalition of Asia/Objectives/detail of visit, pertama-tama para peserta dari beberapa Negara saling memperkenalkan diri, negara yang hadir adalah Srilanka, Kamboja, Myanmar, Philipina, Thailand, Indonesia, Nepal, India, Banglades, dan Japan. Lalu dijelaskan sejarah berdirinya, struktur organisasi, proses kegiatan Women Co-op. yang menarik disini pendiri pertama adalah seorang laki-laki yaitu bapak Nandasiri tetapi yang ikut dalam organisasi dan telibat didalam Women Co-op adalah para perempuan terutama ibu-ibu. Di Women Co-op dalam satu kelompok terdiri dari 10-15 orang, dalam satu cabang terdiri dari 350 anggota, disini ketua kelompok adalah bendahara, yang lainnya sebagai ketua bagian lain seperti kesehatan, kebudayaan, social, perumahan, ekonomi, dan lai sebagainya, untuk pertama kali memulai tabungan dilakukan 5.000RS dalam satu minggu per orang. Saya melihat struktur organisasi dari Women Co-op cukup mengejutkan sebab peranan pemerintah hanya sebagai supporting dalam hal tanah dan hal kebijakan. Adapun lembaga donor yang membantu untuk supporting system. Perputaran uang pun didalam Women Co-op cukup terbuka sebab uang yang dikumpulkan anggota tidak dikumpulkan di cabang. Co-op sudah mencapai tingkat Nationaldan ada di 24 kota, 258 cabang, 7000 kelompok, 81000 Anggota, dan uang tabungan anggota 2.500M, 285M dana. Pertemuan anggota dilakukan 1 minggu sekali, pertemuan cabang dilakukan 1 bulan sekali dan pertemuan skala nasional dilakukan 3 bulan sekali. Bagian penting adalah tidak ada perputaran uang diatas cabang sebab keputusan tetap berada dianggota. Women Co-op memberikan dana untuk supporting system ke nasional sebar 2RS perbulan. Untuk penentuan menjadi sebagai anggota dibutuhkan waktu 8 bulan.

Setelah pihak Women Co-op persentasi kami diberikan kesempatan untuk bertanya. Dan setelah beberapa Negara saling shearing atau bertanya acara berikutnya yaitu meeting ACCA bagian program dari lembaga Asian Coalition for Housing Right, disini dijelaskan lembaga pendukung dari ACHR, yaitu beberapa lembaga seperti UN Habitan, UNDP, Word Bank, dan lain sebagainya. Untuk kegiatana ACCA adapun Negara-negara yang mendapatkan dana salah satunya Indonesia yaitu ARKOM Yogyakarta dan Ciliwung Merdeka Jakarta. Untuk program kerja ACCA yaitu Mapping, upgrading, capacity building.

Meeting dilakukan sampai pukul 17.00 waktu Srilanka. Setelah selasai meeting kami dibawa kembali menuju hotel untuk persiapan makan malam. Kami diajak makan malam bersama komunitas salah satu tabungan ibu-ibu di Srilanka. setelah sampai tujuan kami disambut dengan pemberian kembang sebagai salah satu tanda penghormatan. Disuguhkan tari-tarian dan makanan yang menurut saya cukup aneh sebab seperti bawang mentah, dan ada satu makanan yang menurut saya belum pernah makan yaitu kue dengan telur mentah, disini kebanyakan makanan terbuat dari kari dan bumbu lada hitam. Menurut saya untuk rasa makanan cukup aneh sebab ada makanan yang manis sekali, asin sekali, pedas sekali dan tidak pernah pas untuk rasa. Tetapi untuk makanan saya rasa saya harus mencoba menerima sebab bisa-bisa saya tidak makan selama disini.

Rabu, 27 Agustus 2014

Hari kedua pukul 09.00 waktu Srilanka kami diajak ketempat salah satu cabang dari Women Co-op. Sesampainya disana kami di sambut dengan cara doa mereka, cabang yang kami datangi bernama Moratuwa, cabang ke 30 dan usianya sudah 14 tahun. Ketua cabang menjelasan berapa anggota yang telibat dan jumlah uang mereka. Melihat tempat yang kami datangi cukup menarik sebab update anggota yang pinjam dengan uang yang ada cukup jelas ditulis diatas karton dan ditempel didinding agar semua orang bisa melihat dengan jelas. Sebelum makan kami harus menyentuh nampan yang ada 2 gelas air, tradisi mereka bila akan memulai makan. Kami disuguhi makanan yang sama yaitu carry, yougurt dan lain sebagainya. Setelah selasai makan siang kami diajak ke salah satu kelompok Women Co-op disana kami juga disambut dengan doa cara mereka, yang kebetulan memang disana sedang ada pertemuan kelompok, jadi kami bisa melihat proses pertemuan dari menabung sampai peminjaman. Disini menarik sekali sebab uang disimpan didalam kotak. Penyimpanan kotak disimpan salah satu anggota dan kunci dari kotak tersebut orang lain yang pegang, antara kotak, kunci, serta pencatat tabungan berbeda. Kami juga melihat rumah salah satu anggota yang mendapatkan pinjaman untuk renovasi sebesar 600.000RS. kunjungan cabang dan beberapa tempat dilakukan sampai pukul 16.00 waktu Srilanka.

Kamis, 28 Agustus 2014

Hari ketiga pukul 09.00 waktu Srilanka kami diajak ketempat korban tsunami tahun 2004 yang terjadi juga di Indonesia dan beberapa Negara lainnya. Sesampainya disana kami disambut dengan pemberian untaian bunga menandakan penghormatan kepada tamu yang datang. Daerah yang kami datangi waktu tsunami rata dengan tanah, sekarang rumah-rumah tersebut sudah bagus. Dampak dari bencana tsunami ekonomi mereka cukup memperihatinkan, kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan, mayoritas pekerjaan mereka adalah nelayan, ketika tsunami korban yang kena ada 600KK, dan 144 orang meninggal. ketika tsunami bantuan datang dari berbagai kalangan seperti pemerintah dan lembaga donor salah satunya ACHR. Bantuan dari pemerintah kecil tidak cukup untuk membangun rumah atau memperbaiki ekonomi, mereka menganggap bantuan dari pemerintah dan lembaga donor hanya sementara. Pertama kali women Co-op datang memberi bantuan sebesar 25.000RS mereka menganggap bantuan sebagai bantuan dana bergulir. Dan dapat memperbaiki ekonomi mereka. Untuk tempat bencana Women Co-op tidak akan dikenakan bunga. Kondisi tanah pada saat itu tidak merata dan mereka tidak mempunyai surat-surat, dalam hal ini pemerintah membantu mereka untuk mendapatkan surat tanah dan merata. Tempat yang kami datangi adalah cabang Mathara yang anggotanya 234 orang, 23 kelompok. Setelah pukul 15.00 waktu Srilanka kami pergi ke salah satu pantai. Kegiatan melihat pantai hanya dilakukan 1 jam karena kami akan menuju ke salah satu tempat sembahyang orang-orang Srilanka. Ketika sampai ditujuan kami diberitahu untuk melepas alas kaki diatas bus jangan sampai ketempat tujuan, cukup menarik sebelum masuk kami membeli bunga untuk dibawa kedalam, melihat tempat tersebut cukup menjubkan bagi kami yang baru pertama kali datang sebab tempat tersebut dipenuhi orang duduk disetiap sudut menghadap kearah sang budha yang terletak berada di mana-mana, biasanya hanya orang yang akan melakukan sembahyang yang boleh masuk, salah satu teman dari banglades tidak boleh masuk sebab dia muslim berkerudung yang memakai pakaian sari, beruntung saya dan 2 teman lainnya yang muslim berkerudung boleh masuk karena tidak menggunakan sari, pakaian sari disini kebanyak dipakai oleh orang-orang yang mayoritas beragama budha. Kami kembali kehotel pukul 20.00 waktu Srilanka.

Jum’at, 29 Agustus 2014

Hari keempat waktu yang ditunggu-tunggu yaitu Anniversary Women Co-op ’25. Pukul 09.00 waktu Srilanka kami menuju stadion tempat berlangsungnya acara. Menakjubkan peserta yang datang 4.500 orang ibu-ibu dan anak-anak. Pesta sangat meriah penyambutan dengan tari-tarian tradisional mereka dan pakaian sari, acara berlangsung cukup panjang sebab sambutan dari para menteri cukup membosankan, satu menteri berpidato bisa 1/5 jam, menteri yang hadir ada 3 jadi bisa di bayangin 1 menteri bicara dengan waktu segitu. Tarian yang disunguhkan cukup unik sebab yang menari tidak hanya anak-anak tetapi ibu-ibu juga terlibat, jadi terlihat ramai sekali. Pukul 12.30 waktu Srilanka kami diajak untuk makan siang, setelah makan siang kami kumpul disatu ruangan untuk meriview acara selama 4 hari perwakilan tiap Negara. Menurut saya kekuatan women Co-op ada disistem yang cukup mudah sebab para anggota yang membuatnya, perempuan disini mempunyai peranan penting dalam hal mengambil keputusan, perempuan disini mau berorganisasi, semangat perempuan yang tidak pernah padam, dan saya mendapat ilmu banyak sekali terutama tentang tabungan dan pengorganisasian. Harapan saya komunitas Bukit Duri bisa melakukan tabungan yang dilakukan oleh ibi-ibu serta berjejaring dengan komunitas Kali JAWI untuk skala nasional. Acara selesai sampai pukul 16.00 waktu Srilanka.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Hari kelima Regional Meeting Urban Poor Coalition of Asia. Didalam regional meeting UPCA dijelaskan apa itu UPCA, rencana kedepan UPCA, Negara mana yang akan terlibat UPCA.

Usul dari pimpinan women’s Co-op (bapak Nandasiri) Indonesia bisa membuat tabungan untuk ibu-ibu asalkan diberikan kesempatan. Beberapa Negara yang memiliki tabungan skala nasional antara lain: Srilanka, Nepal, banglades, Thailand kegiatan dilakukan pukul 16.00 waktu Srilanka.

Setelah acara selesai kami makan malam di kantor pusat yang memiliki beberapa branch, tempat yang kami kunjungi cukup membuat tidak percaya, untuk menuju lokasi kita harus jalan melalui kali yang aromanya cukup membuat mual perut, disekelilingnya ada beberapa rumah yang menyalakan lagu dengan keras. kantor tersebut sengaja dibangun didaerah permukiman yang kumuh dan dilalui kereta api jadi apa bila kereta api lewat akan terasa getarannya, acara makan malam selain disuguhkan makanan kita juga dihibur beberapa tarian yang dibawakan anak remaja dan ibu-ibu. Makan malam berlangsung beberapa Negara memberikan hiburan seperti nyanyi dari tiap Negara termasuk Indonesia. Makan malam kali ini termasuk pertemuan terakhir antar Negara sebab beberapa harus pulang kenegara masing-masing. Kembali ke hotel pukul 22.00 waktu Srilanka.

Minggu, 31 Agustus 2014

Hari keenam berada di Colombo Srilanka kami siap-siap untuk kembali ketanah air, pukul 04.30 waktu Srilanka kami mulai berangkat menuju bandara Colombo, proses check in cukup melelahkan sebab antrian cukup panjang dari mulai pemeriksaan, check in sampai di imigrasi antrian cukup banyak, bandara ini juga termasuk bandara transit jadi dari beberapa Negara ikut dalam antrian, setelah melewati semua kami siap-siap untuk naik pesawat. Pesawat yang kami naiki sama dengan keberangkatan dari Jakarta yaitu Nihin Lanka. Seperti biasa dalam perjalanan saya memanfaatkan waktu untuk istirahat tidur, perjalanan cukup melelahkan 6 jam jarak tempuh sesampai di bandara Internasional kami dikejutkan oleh seorang petugas yang menganggap kami para TKI jadi kami disuruh melewati jalur para TKI, sempat marah sambil kami jelaskan bahwa kami bukan TKI, dari keberangkatan sampai kembali ketanah air kami jengkel para petugas yang tidak ramah dan sombong mengagap kami para TKI yang akan bekerja ke Arab Saudi. Indonesia memang Negara aneh tapi saya tetap cinta Indonesia. Berpisah dibandara dengan kawan-kawan Yogya, kami kembali kedaerah masing-masing.

Komentar & Solusi