Pendidikan bagi Anak Pinggiran

Buku Oase Pendidikan di Indonesia (Tanoto Foundation)

 

Mata Air Pendidikan Anak-anak Pinggiran

Judul: Oase Pendidikan di Indonesia; Kisah Inspiratif Para Pendidik

Penulis: Tim Penulis Mitra Forum Pelita Pendidikan

Penerbit: Tanoto Foundation dan Raih Asa Sukses

Terbit: Juni, 2014

Tebal: iv + 206 hal

ISBN: 978-979-013-204-7

Buku ini ditulis 18 orang. Penulis-penulisnya tenaga pendidik dan aktivis kemanusiaan di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta. Salah satu pembahasan dalam buku ini adalah kisah aktivis pendidikan, Sandyawan Sumardi, yang mendirikan Sanggar Ciliwung Merdeka.

“Kami bekerja di bantaran sungai Ciliwung di Bukit Duri, mendampingi tujuh RT [Rukun Tetangga]. Kami membuka semacam sanggar di situ. Persis di bantaran sungai. Seberangnya Kampung Pulo yang juga langganan banjir, ada tiga RT,” kata Sandyawan dalam sebuah acara bertajuk “Guru Kreatif, Anak Aktif” bedah buku Oase Pendidikan di Indonesia dan Menjadi Sekolah Terbaik di auditorium Maftuchaf Yusuf, Universitas Negeri Jakarta, Kamis (12/6).

 Ketika awal membangun sanggar, Sandyawan mempelajari tiga hal utama di bantaran sungai Ciliwung itu. “Pertama-tama sumber daya manusianya, yang kedua itu lingkungan fisiknya, yang ketiga sistem sosialnya,” katanya.

Anak-anak yang belajar di Sanggar Ciliwung Merdeka, kata Sandyawan, tetap mengenyam pendidik formal. Menurut Sandyawan, anak-anak di sekitar lingkungan binaannya diajarkan sesuatu yang tidak pernah ada di sekolah. “Kami berpikir kampung harus mendidik anak-anaknya sendiri. Maka yang usianya kelas 0 dididik yang SD, yang SD dididik yang SMP, yang SMP yang SMA. Prinsipnya setiap orang adalah guru, alam raya adalah sekolah. Ini pendidikan kontekstual.”

Namun, Sandyawan mengakui, sistem pendidikan alternatif ini berada dalam lingkungan yang sangat tidak pasti. Sebelum Jokowi dan Ahok menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, warga sekitar sungai Ciliwung tersebut terancam digusur.

“Gubernur Jokowi dan [Wakil Gubernur] Ahok, waktu kampanye [Pilkada DKI Jakarta] datang beberapa kali ke tempat kami. Rencananya sungai akan dilebarkan dan diperdalam. Kami mengusulkan bersama warga. Jadi, warga kita ajak menjadi arsitek dalam lingkungannya sendiri, termasuk anak-anak,” katanya.

Lalu, lanjut Sandyawan, mereka berencana membangun kampung susun manusiawi Bukit Duri. Mereka belajar dari kampung-kampung tradisional di Indonesia. “Ini bukan rusunawa [rumah susun sewa], tapi warga memiliki sendiri. Usulan ini sudah kita ajukan. Sampai sekarang masih dalam proses yang sangat sulit, karena pemerintah pusat lebih menghendaki proyek-proyek besar, dan tidak setuju dengan kampung deret Jokowi.”

Penulis lainnya, Dewi Susandi, mengatakan, buku ini secara tidak langsung didasari pemikiran seorang tokoh pendidikan, almarhum Profesor Mochtar Buchori. “Beliau pernah mengatakan, belajar dari seorang guru yang banyak membaca dan berpengetahuan luas, itu bagaikan meminum air segar dari mata air yang tiada habisnya. Sedangkan belajar dari guru yang jarang membaca dan tidak bertambah pengetahuannya, itu bagaikan meminum air keruh yang telah lama menggenang,” kata Dewi.

Dewi mengatakan, ada tiga tema besar dalam buku ini. Pertama, kata dia, bercerita tentang anak dan memperjuangkan hak belajarnya. “Kedua, bicara tentang hubungan anak dengan guru. Pendidikan itu sebetulnya juga bagaimana guru menciptakan suasana-suasana anak bisa belajar dari kakak kelasnya atau yang lebih tua dan lingkungannya.” Ketiga,kata Dewi, bagaimana gurunya sendiri sebagai aktor pendidikan, bisa terus menerus belajar.

Dari buku ini, pembaca bisa belajar kisah-kisah inspiratif para tenaga pendidik. Mereka berkisah secara menarik tentang usaha terus belajar, menggali kemampuan mengajarnya, sehingga menemukan metode yang tepat bagi anak.

 

DIkutip Dari: 12 Jun 2014 Penulis : Fandy Hutari

http://geotimes.co.id/seni-budaya/seni-budaya-news/buku/4920-pendidikan-bagi-anak-pinggiran.html

Komentar & Solusi