Asia Pasific Urban Forum ke-6

APUF 6
APUF 6

Saya Sugiyanti (33 tahun) biasa disapa Yanti, lahir dan tinggal di Bukit Duri Jakarta Selatan. Kampung dimana saat ini sedang dalam ancaman akan digusur (relokasi kalau kata Pemprov). Pertama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman dari ACHR karena telah mengizinkan saya menjadi bagian dari acara Asia Pasific Urban Forum ke-6 (APUF 6), 19 – 21 Oktober 2015 di Hotel Fairmont, Jakarta.

Banyak sekali ilmu baru yang saya dapatkan selama mengikuti APUF 6. Bertemu, berkenalan dan belajar dengan teman-teman dari berbagai kota dan negara yang memiliki permasalahan kampung yang berbeda dan kekuatan kampung di kota-kota besar dunia yang sangat menginspirasi. Terutama kegiatan ibu-ibu menabung di negara-negara lain seperti di Srilanka, Thailand, Kamboja bahkan di kota Indonesia sendiri seperti di Yogya dan tentunya di Bukit Duri yang baru dirintis 5 bulan ini oleh para ibu-ibu tapi berhasil mengumpulkan uang 20 juta dalam periode tersebut.

Di hari pertama Minggu, 18 Oktober membicarakan persiapan diskusi untuk tanggal 20 Oktober yang akan dibawakan oleh teman-teman jaringan ACHR internasional seperti dari Thailand, Pakistan, Nepal, Banglades, Filipina. Sementara dari Indonesia: Arkom, Jerami, ASF, dan Ciliwung Merdeka. Konsep diskusi adalah melempar 3 pertanyaan untuk dijawab oleh masing-masing negara. Pertama, Mengapa proses pembangunan yang melibatkan partisipasi warga itu penting. Kedua, Solusi penggusuran. Tiga, Kenapa perbaikan skala kota (city-wide) itu penting dan bagaimana?

Persiapan diskusi
Persiapan diskusi

Menata kampung sesuai kebutuhan
Acara kemudian dilanjutkan dengan sharing antar kampung. Acara malam ini sebenarnya berbagi cerita setelah hari sebelumnya berkunjung ke kampung-kampung tapi kemudian melebar saling berdiskusi tukar pengalaman dan permasalahan kampung. Dari rangkaian acara diatas saya menangkap bahwa warga berhak menentukan nasib kampungnya sendiri sesuai kebutuhan warga. Seperti yang telah dilakukan teman-teman yang sangat menginspirasi di Kampung Tongkol Jakarta Utara yang mengusulkan menggeser kampung, di Kampung Pisang Makasar yang mencari lahan baru yang lebih dekat, Aceh yang memiliki pengalaman membangun 32 kampung, 330 unit rumah dalam waktu 21 bulan, Yogya dengan kekuatan ibu-ibu menabungnya bisa membangun tempat pertemuan mereka dengan dana swadaya warga, Makasar yang berhasil menjalin kerjasama dengan pihak pemerintah kota, pengembang dan warga dalam pembangunan kampung. Juga di kampung saya sendiri Bukit Duri-Jakarta dan kampung seberang Kampung Pulo Jakarta Timur yang sudah mengusulkan kampung susun manusiawi untuk warganya sendiri. Mengajak pemerintah kota membangun dan menata kampung sesuai kebutuhan warga. Karena sebetulnya seperti yang dikatakan Ibu Wardah bahwa selama ini pemerintah kota selalu menggunakan alasan tidak ada lahan untuk warga miskin. Padahal justru lahan mereka saat ini bisa digunakan untuk pembangunan kembali (growing upgrading).

Diskusi
Diskusi

Ini adalah kali pertama saya mengikuti acara besar yang diikuti 9 negara di Asia (Indonesia, Bangladesh, Thailand, Pakistan, Srilanka, Nepal, Kamboja, Filipina, Afganistan) dan 7 kota di Indonesia (Aceh, Lampung, Jakarta, Yogya, Surabaya, Solo, Makasar). Duduk ditengah-tengah para Menteri, Gubernur, tenaga-tenaga ahli tata kota, bahkan bisa bersuara ikut berpartipasi aktif dalam mengkritisi kebijakan mereka para pejabat pemerintah daerah dalam menata kota. Selain membuka kesempatan untuk kita warga kota menyampaikan usulan-usulan untuk pembangunan kota. Salah satunya mengkritisi kebijakan Pemerintah kota dalam hal gusur-menggusur tanpa melibatkan peran warganya sendiri.

Pertemuan diadakan di Hotel Fairmont Jakarta, disampaikan pada ucara pembukaan pertemuan ini bertujuan memperkuat kerjasama untuk mencapai pembangunan kota yang berkelanjutan, mengangkat isu-isu pendekatan pemerintahan lokal dalam pembangunan kota yang nantinya akan dibawa ke pertemuan besar APUF tahun 2016 di Equador. Acara di lanjutkan dengan diskusi di ruangan terpisah dengan tema berbeda: dari pengolahan sampah kota, pengentasan kemiskinan, sampai dengan pentingnya peranan pemerintah kota sebagai pemangku kebijakan dalam pembangunan kota.

Pameran
Pameran APUF

Partisipasi warga
Dalam sesi diskusi dihari ke-2 APUF 6, ACHR membuka diskusi di ruang yang dipersiapkan seperti dalam pertemuan warga pada umumnya, dalam bentuk lesehan. Peserta yang hadir banyak sekali sampai memenuhi ruangan bahkan beberapa ada yang terpaksa berdiri atau duduk di kursi-kursi yang sudah digeser. Dalam diskusi-diskusi lain yang menjadi pembicara adalah para praktisi tata kota, para pemangku jabatan dikantor pemerintahan, tapi dalam diskusi ini wargalah yang menjadi pembicaranya. Karena sebenarnya memang wargalah yang tahu betul permalahan kampung dan kota mereka. Dalam diskusi ini beberapa perwakilan kota negara-negara lain banyak bercerita tentang kota mereka. Bahwa pembangunan kota masih belum berpihak pada yang miskin. Kesenjangan ini menumbuhkan kekuatan kelompok ibu- ibu menabung ditengah-tengahnya. Mereka bukan hanya sekedar mengumpulkan uang dan mengadakan kegiatan simpan pinjam tapi juga berkumpul mengumpulkan orang dan memetakan masalah-masalah kampung mereka dan menemukan solusi. Solusi jangka panjang yang membawa mereka untuk perbaikan kampung bahkan cita-cita besar menciptakan pemukiman layak untuk warga miskin kota. Hal itu tentu saja menjawab bahwa warga kota jelas memiliki peranan penting dalam pembangunan sebuah kota. Seperti yang disampaikan Perwakilan UN Habibat, bahwa “Sebenarnya Pemerintah itu butuh 3 hal: Suara, politik stabil dan pemerintahan yang stabil. Dan itu semua bisa didapatkan dari proses partisipasi warga.”

Harapan besar setelah pertemuan APUF 6 para pihak terkait (Pemerintah dan Pemerintah kota) bisa merubah cara mereka dalam menentukan kebijakan yang menyangkut warga miskin kota dan lebih mengutamakan adanya partisipasi dari warga kota bukan sekedar gusur menggusur!!
Seperti yang dikatakan Ibu Eni dari Muara Baru-Jakarta bahwa: Rumah susun itu bukan solusi dari penggusuran, tapi justru memunculkan permasalahan baru. Bukan saja kehilangan tempat tinggal tapi juga menyebabkan banyak kerugian:
– Kehilangan hak atas tanah yang ditempati bertahun-tahun
– Kehilangan mata pencaharian
– Kehilangan kebersamaan antar bertetangga
– Menimbulkan trauma tersendiri bagi anak dan kaum perempuan. Karena penggusuran identik dengan kekerasan.
Penulis : Sugiyanti
Editor : anto

Komentar & Solusi