Mengenang Ivan Hadar

 

IMG_1236

Pementasan Musik dan Testimoni Mengenang Ivan Hadar, Jumat (14/8) di Goethe Institute

Testimoni I. Sandyawan Sumardi:

TANAH MERDEKA

 

Bung Ivan yang baik..

Aku tulis surat ini, di tengah riuh-rendah anak-anak Kampung Pulo dan Kebon Pala yang tengah latihan paduan suara di sekretariat Ciliwung Merdeka, lima hari menjelang pentas dalam acara “Mengenang Almarhum Ivan Hadar dan Dialog Kemanusiaan” di gedung Goethe Institut, Jl. Samratulangi 9-15, Menteng, Jakarta Pusat.

Bung adalah sahabat sejati dalam gerakan kemanusiaan, yang sudah aku kenal sejak awal 1990. Pasti bung sudah mendengar, dalam dua bulan terakhir ini, kami teman-teman Ciliwung Merdeka,  sedang mengajak banyak, puluhan kawan-kawan intelektual seperti bung: ada arsitek, pengacara, ekonom, sosiolog, antropolog, sejarawan, budayawan, ya intelektual “City Changers” untuk mendampingi dan memperjuangkan 3.809 KK warga Kampung Pulo, Kel. Kampung Melayu, Kec. Jatinegara, Jakarta Timur. Karena demi “kepentingan umum”, berdasarkan Perda 1 tahun 2012 tentang normalisasi sungai Ciliwung dan Perda 1 tahun 2014 tentang RDRT, rencana sodetan serta perubahan peruntukan lahan, maka warga Kampung Pulo terancam bakal kehilangan hak kepemilikannya atas tanah seluas 8,571 ha, yang kakek-neneknya sudah tinggal di tanah itu sejak jauh sebelum 1930. Ya ini gara-gara sebagian besar warga Kampung Pulo mengalami banyak kendala ketika berusaha meningkatkan surat-surat tanahnya dari “Verponding Indonesia” (girik, petuk pajak bumi, letter C, jual-beli di bawah tangan, dlsb) menjadi sertifikat, melalui program Prona dan Larasita. Padahal banyak di antara kawan-kawan intelektual “City Changers” telah dan terus melakukan dialog intensif dengan komunitas warga Kampung Pulo, melakukan pembelaan hukum, merancang design bangunan “Kampung Susun Berbasiskan Komunitas sebagai Situs Budaya Keanekaragaman Warga Jakarta di Kampung Pulo”. Ah, entah kenapa bung, di momentum-momentum seperti ini, aku merasa sangat kehilangan Ivan Al Hadar, seorang sahabat intelektual yang punya rasa kemanusiaan begitu mendalam.

Bung Ivan ingat, saat bung datang bersama pak Yudi dan bu Neneng di Sanggar Ciliwung, mengajak anak-anak Ciliwung Merdeka melakukan kolaborasi dengan “The Jakarta Philharmonic” untuk mengadakan konsert bersama putera kesayanganmu, violis Iskandar Wijaya Hadar, untuk program “Musik yang Membebaskan”. Di bantaran sungai seberang Kampung Pulo itu aku berbisik pada bung, dan bung mendengar sambil terus memandang Kampung Pulo:

Tanah ini tanah kenangan

tiap langkah ada kisahnya

Tanah ini tanah kehidupan

tiap jengkal ada nafasnya

 

Tanah ini tanah perjuangan

tiap petak ada korbannya

 Tanah ini tanah merdeka

tiap inci satukan kami

 

Tanah tumpah darah tumpah

Tanah tumpah darah tumpah

Tanah tumpah darah tumpah

Tanah tumpah darah tumpah

 

Bersama roh-mu bung Ivan, kami anak-anak bantaran Ciliwung ingin berdoa:

Burung hantu burung malam

senandungkan lagu juangmu

Kudengarkan suaramu

Sang Surya

 

Bukan milik bukan harta

yang kan rusak renai hidupmu

Ketakutan hilang milik

hilang harta

 

Reff:

 O ya Allah ya Rabbi junjungan kami

Terima sujud sembah kami

Bebaskanlah kami dari segala tirani

tak terperi

 

O ya Allah Ya Robbi Harapan kami

Kurindukan gaibMu Jadikan mataMu

Mata kami Nafas kami

Hidup kami

Komentar & Solusi