Menangkal Kegelisahan

foto raker CM

Jika tahun baru tiba, banyak orang menyusun evaluasi atas kegagalan dan pencapaian, serta harapan di masa depan. Begitu pun Ciliwung Merdeka. Berlalu banyak kisah sudah sejak diadakannya rapat kerja tahun di pertengahan tahun 2015, Ciliwung Merdeka mulai berbenah diri. Pada 14-16 Januari 2016, keluarga besar Ciliwung Merdeka beranjak bersama ke Vila Carmel di Cipanas, Bogor. Tujuannya bukan untuk hura-hura, melainkan melakukan evaluasi dan penyusunan rencana kerja tahun ini.
Menghadapi berbagai peristiwa tak terduga–terutama penggusuran sebagian pemukiman warga Bukit Duri tanggal 12 Januari 2016–tentu keluarga Ciliwung Merdeka harus bersama mencari jalan untuk terus mendampingi warga. Dalam tiga hari berkumpul, seluruh divisi mengulang ingat tentang visi dan misi yang dijunjung Ciliwung Merdeka. Perjuangan dalam memperjuangkan hak-hak ekonomi, sosial, budaya, politik, hak atas ruang, tempat tinggal/bermukim, hak untuk bekerja/berusaha, hak untuk beroganisasi/berpartisipasi, perlu dibangkitkan kembali dalam forum-forum internal. Hal itu sedianya menumbuhkan semangat baru.
Seorang antropolog, Aryo Danusiri, sempat meluangkan waktu membagi pemikirannya tentang pengorganisasian berdasarkan pengalamannya dalam meneliti majelis keagamaan di Jakarta. Meski tak sama dengan lembaga swadaya, tetapi irisan antara keduanya. Aryo menangkap bahwa ikatan yang dibangun sebuah organisasi dapat dibangun melalui cara-cara sederhana, seperti ekonomi dan pertemuan tatap muka antar anggotanya. Diawali dengan kutipan Dr. Melani Budianta tentang aktivisme di Indonesia yang merupakan reactive activism, Aryo kemudian memberi pendapatnya tentang pengaruh reaksi terhadap pergerakan lembaga swadaya.
“Mas Aryo memberikan saran tentang pentingnya mengenal komunitas dampingan. Kita harus mengenal masyarakat dengan tulus dan dalam untuk dapat menentukan sikap ketika terjadi peristiwa tertentu.” Ujar Abdul Ghofur, keluarga Ciliwung Merdeka yang menjadi moderator di forum santai bersama Aryo Danusiri.
Ciliwung Merdeka lahir dari kegelisahan. Waktu berkumpul keluarga Ciliwung Merdeka seperti rapat kerja tahun ini, adalah salah satu cara untuk menangkal kegelisahan tersebut secara sistematis.
“Saya akan berusaha dengan giat menjalankan program yang telah disepakati. Walaupun susah untuk mencapai ideal, tapi kita, terutama tim ekonomi, akan berusaha mewujudkannya.” Semangat Sanik Setyowati–penggerak koperasi ibu-ibu di Bukit Duri, sekaligus anggota divisi ekonomi Ciliwung Merdeka–tergugah seusai rapat kerja. Keluarga Ciliwung Merdeka pulang ke Jakarta dengan misi yang masih sama dan semakin mantap menggarap pilot project bersama: mewujudkan kampung kota yang manusiawi, bermartabat, berkeadilan, sensitif hak asasi manusia, demokratis-partisipatif, ekologis, sehat, berdaya sosial-ekonomi, indah berbudaya, berkesinambungan dan saling bersinergi antar kampung kota satu dan yang lain di sekitar. (Aura)

Komentar & Solusi