Membangun Bukit Duri, Membangun Kota

Kampung sebagai sebuah ‘neighborhood’ atau lingkungan pemukiman, melingkupi dimensi spasial, sosial, dan ekonomi. Kampung terikat dengan beragam aktivitas, mulai dari bermukim, berusaha, hingga bersosialisasi dan berkomunitas. Dalam konteks metropolis seperti Jakarta, keberadaan kampung menjadi penanda/signifier betapa beragamnya kehidupan sosial dan ekonomi yang mengisi ruang kota. Sebagai simpul dari pertemuan beragam aktivitas, kampung juga berkelindan dengan jaringan dan relasi yang dibangun dalam jangka waktu lama, bahkan lintas generasi. Karena itu, memahami posisi kampung dalam konteks rekonstruksi pemukiman tidak cukup dengan penyediaan/supply produk fisik seperti rumah susun. Praktek keseharian dalam kampung sebagai ‘neighborhood’ menjadi kunci utama untuk memahami transformasi kampung sebagai pemukiman yang dinamis dalam kota.

 
Lantai dasar tempat ruang usaha di Rusunawa Pinus Elok yang merupakan relokasi warga Kampung Pedongkelan

Sejak tahun 2013, transformasi kampung-kampung di Jakarta yang dipindahkan ke rumah susun sewa minim dievaluasi secara menyeluruh. Kampung Pluit, Kampung Pedongkelan, Kampung Pulo, yang mengalami relokasi ke Rusunawa Marunda, Rusunawa Pinus Elok, Rusunawa Jatinegara Barat, mengalami degradasi sosial dan ekonomi dalam proses rekonstruksi kampung. Mayoritas warga kampung yang direlokasi memutuskan pindah dari rusunawa, bahkan terpaksa pindah karena tidak sanggup hidup di rusunawa. Peraturan yang mengikat warga mengenai biaya sewa dan membuka usaha, serta terputusnya akses pada jaringan dan akses sosial ekonomi membuat warga mengalami penurunan penghasilan dan kualitas hidup secara umum. Kebutuhan ruang ekonomi warga kampung tersebut tidak dapat diwadahi oleh rusunawa. Sebagai sebuah kebijakan publik, relokasi kampung ke rusunawa mendegradasi performa aktivitas sosial dan ekonomi di Jakarta. Dengan kondisi dimana kampung adalah mayoritas lingkungan pemukiman/’neighborhoood’ di Jakarta, sangat diperlukan pemahaman yang komprehensif dan gagasan inovatif dalam memberikan alternatif pembangunan/rekonstruksi kampung.

 
Minimnya biaya perawatan di Rusunawa Pinus Elok karena terputusnya akses ekonomi bagi warga yang direlokasi

Kampung Susun sebagai Ruang Tengah

“Kampung susun“ adalah wahana lingkungan hidup yang tumbuh secara bertahap seiring dengan proses bermukim yang bergerak atas pengelolaan bersama. Pembangunan kampung susun berlandaskan potensi sosial, budaya, dan ekonomi komunitas warga sebagai pondasi, dimana konsep pemukiman kota yang lestari adalah atap yang menaunginya. Kampung ini mengangkat nilai-nilai kolektivitas dan kemajuan berbasis pertukaran pengetahuan, dengan sadar menyadari bahwa tantangan pembangunan masa kini adalah kolaborasi dan dialog untuk mencapai kota impian bersama. Ia menjadi ruang tengah, dimana kreativitas dan perbedaan bertemu dengan ruang kota dan ruang diskusi antara warga kota.

 
Pemetaan situasi kampung sebelum perencanaan penataan infrastruktur di RW 10 Kampung Bukit Duri

Membangun Kota Bersama Warga

Membangun kampung serupa dengan membangun peradaban. Keberadaan kampung Bukit Duri sejak berabad silam merupakan artefak hidup perkembangan kota Batavia yang kini kita kenal sebagai Jakarta. Dari generasi ke generasi, warga kampung Bukit Duri telah membangun sistem sosial, budaya, yang tak lepas dari aktivitas ekonomi lokal. Dalam perkembangannya, komunitas ini telah menjadi bagian jaringan rantai ekonomi mikro yang terikat dengan pertumbuhan kota. Secara tidak langsung, keberadaan kampung Bukit Duri membuktikan resiliensi, atau ketahanan warga kota bertumpu pada modal sosial dan membangun kehidupan dalam kota secara swadaya. Potensi inilah yang menjadi landasan utama pembangunan kampung susun Bukit Duri.

 
Identifikasi calon penghuni sebagai proses perencanaan penataan kampung Bukit Duri RW 12
 
Studi rancangan rumah pada penataan Kampung Bukit Duri RW 12
 
Hasil studi lokasi kampung dan rancangan rumah di RW 11 Kampung Bukit Duri

Pembangunan kampung susun Bukit Duri telah melalui proses perencanaan partisipatif, berupa pemetaan kondisi eksisting dan penggalian ide pengembangan di masa depan. Dalam proses ini warga Bukit Duri adalah perencana utama kampung dengan didampingi oleh arsitek, perencana kota, dan fasilitator pendamping warga. Sejak tahun 2010, warga didampingi oleh Ciliwung Merdeka telah melakukan pemetaan pemukiman, aktivitas ekonomi, penyuluhan kesehatan, serta pendampingan kegiatan kesenian. Hingga tahun 2016, warga yang bergabung dalam proses pemetaan ini berkembang dari RT 6 RW 12, meluas ke RT 3 RW 11 dan RT 3 dan RT 6 RW 10 kelurahan Bukit Duri dengan jumlah sekitar 150 kepala keluarga.

Dari Simpanan Harian Menuju Hunian

Belajar dari konsep pengadaan pemukiman berbasis koperasi di Thailand, Sri Lanka, dan kelompok menabung ibu-ibu Kalijawi di Yogyakarta, kampung susun Bukit Duri mengusung konsep koperasi dalam proses perencanaan, pembangunan, serta pengelolaan pemukiman. Saat ini warga telah mebangun koperasi PAWANG untuk tabungan perumahan dengan skema simpanan wajib, pokok, dan sukarela. Koperasi ini terdiri dari jaringan lingkaran-lingkaran kecil warga sejumlah 8–10 keluarga yang saling berkoordinasi satu sama lain untuk menjaga kesinambungan tabungan perumahan. Konsep menabung per kelompok ini diwadahi dalam bentukkonfigurasi penyusunan unit hunian Kampung Susun Bukit Duri, dimana per kelompok menabung memiliki ruang usaha yang dikelola bersama. Maka, akan ada pengelompokan hunian tiap 8–10 keluarga dengan fasilitas ruang usaha sebagai pendukung kegiatan koperasi.

Tumbuh Bersama Kampung

Upaya menjaga aktivitas ekonomi yang telah ada di kampung Bukit Duri juga dituangkan dalam fleksibilitas ruang hunian tiap keluarga. Hal ini diterjemahkan dalam penataan sistem struktur, sirkulasi, dan utilitas. Dengan mengikat tiga elemen arsitektur tersebut, warga dapat leluasa mengatur kebutuhan ruang hunian secara horizontal maupun vertikal. Keleluasaan mengatur aktivitas dalam hunian mewadahi inisiatif warga membangun usaha mikro seperti warung makan atau laundry. Selain itu, kebutuhan untuk pertemuan keluarga besar seperti arisan, perayaan ulang tahun. Konsep ini juga berkembang dalam skala komunitas dimana koperasi dapat merencanakan aktivitas komunal warga seperti perayaan 17 Agustus, perkawinan, ritual agama, atau kematian dengan didukung oleh fasilitas publik. Dengan konsep ini, kampung susun dapat tumbuh bersama warga, sebagaimana warga tumbuh bersama dengan kampungnya.

 
Ilustrasi salah satu rancangan denah rumah kampung dengan konsep adaptif didukung oleh sistem struktur, sirkulasi, dan pemipaan vertikal

Aksi Kampung untuk Bebas Banjir

Perencanaan kampung susun merupakan momentum menggali gagasan tentang hidup lestari sebagai bagian dari upaya menaikkan kualitas habitat kota. Dalam proses perencanaan, warga Bukit Duri memiliki ide untuk mengelola tanah dan air dengan bertanggung jawab. Dengan mendedikasikan 30% ruang terbuka hijau, memaksimalkan resapan dengan biopori dan pilihan vegetasi penguat tanah, kampung baru ini dapat mengurangi run off air hujan hingga 30–40%. Selain kearifan pengelolaan tanah, kampung susun Bukit Duri juga mendaur ulang air hujan untuk pemakaian cuci dan kakus untuk mengurangi kebutuhan penarikan air tanah untuk pembangunan baru. Pemilahan sampah rumah tangga dan daur ulang limbah non rumah tangga juga menjadi konsep mengurangi beban pembakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan melihat sampah sebagai barang yang bernilai ekonomi yang masih dapat diolah dan dimanfaatkan. Hal ini telah dilakukan di Surabaya sejak tahun 2009 dalam program Surabaya Green and Clean yang bertumpu pada pengelolaan sampah berbasis komunitas kampung. Melalui inisiatif pengelolaan lingkungan hidup skala mikro, kampung susun Bukit Duri dapat menjadi contoh aksi warga kota menanggulangi dampak banjir. Aksi ini merupakan infrastruktur sosial yang patut didukung oleh pemerintah kota, atau bahkan publik di Jakarta secara umum.

Membangun Kampung, Komunitas, dan Kota

Belajar dari proses yang telah dilalui sejak awal tahun 2000, usaha pemberdayaan warga Kampung Bukit Duri membutuhkan proses yang panjang. Apa yang diperjuangkan oleh warga Kampung Bukit Duri saat ini adalah langkah awal, pondasi dasar, yang akan terus bergerak mencari kemungkinan pembangunan kota dengan pendekatan dan metode baru. Memproduksi rumah-rumah dalam bentuk rumah susun dapat terwujud dalam hitungan bulan. Namun, membangun martabat, ikatan sosial, dan jaringan ekonomi membutuhkan keteguhan hati, kesadaran, dan semangat hidup. Dengan membangun kampung, warga Bukit Duri tengah membangun ‘neighborhood’ bagi sebuah komunitas yang adalah embrio sebuah kemajuan kota. Kota yang berdaya oleh perjuangan warga.

 
Warga RW 11 didampingi oleh CIliwung Merdeka setelah melakukan pemetaan situasi kampung
Komentar & Solusi