Kronologi Keotik Penggusuran Kampung Pulo

Rabu malam 19 Agustus, warga Kampung Pulo mengadakan pertemuan konsolidasi di rumah Habib Soleh sementara di jalan Jatinegara sudah hadir becho dan truk, media. Perjuangan yang ditetapkan dalam pertemuan itu adalah PERJUANGAN TANPA KEKERASAN.

IMG_0958
IMG_0959Kamis, 20 Agustus 2015 pukul 6.15 WIB, Teman-teman Ciliwung Merdeka sudah di lokasi, disitu sudah ada bekho yang sejak semalam stand by, beberapa aparat gabungan dan media. Ketua Ciliwung Merdeka (lembaga swadaya masyarakat yang selama ini mendampingi warga kampung pulo) I.Sandyawan Sumardi datang ke rumah Habib Soleh untuk konsolidasi. Baru duduk sebentar, di luar sudah terdengar ada keributan. Sandyawan keluar dari rumah Habib Soleh dan di gang sudah ada beberapa ibu ibu dan bapak bapak yang berjatuhan terkena asap gas air mata. Di ujung Gang 3, di Jl. Jatinegara sudah berhadap hadapan antara warga dan aparat gabungan. Sandyawan mencoba menenangkan warga dan bertemu dengan Kapolres Jatinegara Kombes. Umar Faroq untuk menjadi negosiator mewakili warga.

IMG_0966
Pada pukul 07.00, Ustad Holili, ketua LMK dan juga salah satu pimpinan Kampung Pulo diwawancarai oleh media. Beliau mengatakan bahwa sesungguhnya warga tidak menolak normalisasi dan wargapun tidak ingin melakukan tindakan kekerasan. Gerakan aktif tanpa kekerasan dan itu sudah disepakati oleh rapat warga malam harinya. Ahok sebagai Gubernur DKI, mengambil keputusan yang berubah-ubah. Dulu jaman Pak Jokowi, setuju adanya ganti rugi atas tanah yang ditempati warga, bahkan kandang ayampun diganti. Kemudian terbit Pergub No. 190 tahun 2014 yang menyatakan bahwa ada ganti rugi atas tanah warga Kampung Pulo yang sudah ada sejak jaman Belanda.
Setelah wawancara, Ketua LMK Ustad Holili pun bergabung dengan Sandyawan yang sedang negosiasi dengan Kapolres Jakarta Timur Kombes Umar Faroq, sambil membawa berkas-berkas. Negosiasi dengan Kapolres pun berhasil, dengan kesepakatan bahwa yang dibongkar itu hanya rumah yang penghuninya sudah mengambil kunci di Rusunawa saja yang akan ditertibkan. Kapolres dan warga pun setuju. Dalam kondisi lapangan demikian, kuasa hukum dari Ciliwung Merdeka membuat surat kesepakatan. Tiba tiba Camat Jatinegara Syofian Taher datang dan mengatakan tidak setuju dengan negosiasi. Beliau tidak mau tanda tangan, bersikukuh untuk menjalankan instruksi Pemprov DKI dan tetap membongkar seluruh bangunan yang ada di normalisasi. Warga yang mendengar itu langsung marah. Tiba-tiba, ada yang melempar batu kecil entah dari mana yang memulai, dan akhirnya batu-batu besar melayang dari kedua pihak. Warga yang tadinya tenang duduk, melihat tindakan Camat Jatinegara, menjadi geram. Gas air mata ditembakkan ke arah warga.

IMG_0960
Sekitar Pukul 9.00 terjadi kekacauan. Semua berhamburan. Adanya saling lempar antara warga dengan aparat. Aparat dengan gas air mata sempat mengejar warga. Bahkan ibu ibu dan anak-anak yang masuk gang pun dan bersembunyi di salah satu rumah warga tetap dikejar dan ditembak gas air mata yang diarahkan ke rumah tersebut. Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang muntah karena terkena gas air mata yang ditembakkan secara langsung ke arah mereka.

foto 10 orang ditangkap
Pada saat terjadi kekacauan itu, sekitar Pukul 10.00, bacho (alat berat) dibakar massa dan tidak beberapa lama dipadamkan oleh aparat. Para polisi bertameng lengkap didatangkan untuk mengejar warga. Warga kocar-kacir masuk gang. Aparat pun tetap mengejar mereka dan menangkap sekitar 10 anak muda yang dituduh sebagai provokator.

foto kamisfoto korban kekerasan
Sekitar pukul 11.00 suasana lebih kondusif. Ada kurang lebih 4 korban dari warga yang diangkat oleh satpol PP dan 1 korban dari satpol PP.

IMG_0955
Sekitar Pukul 13.30 pembongkaran di dekat Gang 3 dilanjutkan dengan bacho yang baru didatangkan. Kali ini polisi dan aparat gabungan mengawal aktivitas alat berat.
Sekitar pukul 17.30, pembongkaran dengan menggunakan alat berat bacho telah merobohkan 20 rumah dan MCK di RT 01, 8 rumah di RT 3, 31 rumah di RT 04 (dan hanya tersisa Mushola), dan 7 rumah di RT 05.

Komentar & Solusi