KONGGRES WARGA BUKIT DURI “EKSPRESI KEBERDAYAAN DALAM PERJUANGAN KAMPUNG KOTA”

IMG_2994

KONGGRES WARGA BUKIT DURI “EKSPRESI KEBERDAYAAN DALAM PERJUANGAN KAMPUNG KOTA”

22 JULI 2016

Sore itu sekitar pukul 17.00, panggung sudah siap dengan peralatan musik dan paduan suara anak kecil warga yang berseragam kaos putih. Seorang warga yang melihat mendung gelap dan mulai gerimis, dengan keyakinannya, dia membakar gaharu di beberap tempat. Meskipun demikian, tenda juga dipasang di atas panggung dan sekitarnya untuk lesehan. Ternyata, cuaca menjadi kondusif tidak hujan. Kedatangan para aparat kepolisian dan aparat kelurahan Tebet tidak menghalangi kaum muda warga Bukit Duri mempersiapkan panggung. Warga pun menyambut mereka dengan baik, layaknya tamu yang akan melihat kondisi nyata warga Bukit Duri. Semua serba alami dan tidak dibuat-buat dalam penerimaan warga lain dan dalam persiapan penampilan pentas seni warga.

Iringan lagu-lagu perjuangan warga Bukit Duri menggema dengan suara anak-anak dan para remaja yang bersahutan sebagai awalan konggres warga. Lagu-lagu ciptaan Sandyawan Sumardi itu, yang menjadi lagu perjuangan warga, dinyanyikan secara bersama dengan seluruh warga yang hadir dengan gegap gempita.

“NYANYIAN AKAR RUMPUT”
(Lagu Rakyat, Slow Rock Klasik)

Sekalah keringat di wajahmu kawan, singsingkan lengan bajumu
Satukan langkah perjuanganmu kawan, hadapi tirani penindasan
Enyahkan ketakutan, kekalutan, di benakmu
Jalani titian pembebasan
Teguhkan keyakinan, kebenaran di hatimu
Wujudkan keadilan asasimu

Reff.   
Nyanyian akar rumput, nyanyian kita bersama
Warga pinggiran Indonesia
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Berjuang bersama pasti menang

(Jakarta, 2 Maret 2011)

“DENTING KECAPI”
(Balada, Akustik, Orkestra)

Berdenting suara kecapi digetarkan
Mengalun sang nada menari dalam dawai
Berpuluh kupu-kupu mencari bunga liar
Berhembus sang bayu mentari pun bersinar

Reff.
Sambutlah mentari di alam indah ini
Biarkan wajahmu berseri
Tariklah nafasmu hiruplah rahmat Tuhan
Hembus-lepas segala bala

(Jakarta, 20 Juli 2015)

“CILIWUNG LARUNG”
(Sebuah lagu rakyat kolaboratif tradisional Jawa, Bali, Sunda dan Batak, dengan suasana serba agung, mistis, dinamis-ritmis, riuh massal)

Ciliwung larung lagaku …
Bergejolak air suci jiwaku …
Kurengkuh nadi sudraku …
Kutambatkan biduk ragaku …
Hoo…ooo…oo…o… (2x)

Reff.
Bangkit, bangkit saudaraku!
Patah, pecah belenggu penjara
Jiwa raga sampai ujung juang!
Cahaya suci di sukmaku

(Sidoarjo, Jawa Timur, 16 Desember 2009)

“CILIWUNG KEHIDUPAN KITA”
(lagu rakyat, orchestra)

Tak kan pernah berpisah, Bersatu dalam perjuangan
Satukan jiwa, satukan arah, Meski berat berbeda langkah

Segala ikhtiar bersama, Demi hak asasi manusia
Ciptakan lingkungan adil sejahtera, Sosial demokrasi Indonesia

Tak kan pernah kita ingkari, Akar rumput tanah tercinta
Tak kan pernah kita lupakan, Bermaknanya perjuangan bersama

Kesadaran kita bersama
Solidaritas kita bersama
Swadaya kita bersama
Demi kemerdekaan bersama

Reff. (2x)
Ciliwung nafas kita
Ciliwung hati kita
Ciliwung nyawa kita
Ciliwung kehidupan kita

(Jakarta, 22 Mei 2015)

Diawali dengan pengantar ketua RT, bahwa situasi saat ini sangat menegangkan dan menyedihkan bagi warga bantara sungai Ciliwung karena ada pernyataan beberapa orang pejabat yang mengatakan akan adanya penggusuran, sementara mereka sudah lama tinggal di situ dan telah melengkapi administrasi sebagai warga Negara. Pak RT juga menyinggung kedatangan Pak Jokowi dan Pak Ahok ke  kampung halaman mereka di Bukit Duri, yang pada saat itu sedang berkampanye sebagai calon gubernur DKI. Pada saat itu, Pak Jokowi menyetujui usulan warga untuk didibuat Kampung Deret di Bukit Duri sebagai penataan kampung di bantaran sungai. Usulan warga ini merupakan usulan yang sangat realistis dalam pembangunan pemukiman di bantaran sungai dan nantinya bisa menjadi contoh untuk pemukiman yang lain. Demikian juga setelah Pak Jokowi dan Pak Ahok memenangkan pilkada Gubernur DKI, mereka berdua juga datang kembali ke Bukit Duri untuk menggali lebih dalam lagi usulan warga tentang kampung deret. Beberapa warga yang lain juga meng-amini apa yang dikatakan ketua RT itu. Para arsitek dari Ciliwung Merdeka pun menguatkan pernyataan warga tentang usulan kampung deret yang telah disampaikan warga pada saat kedatangan Gubernur Jokowi ke Bukit Duri. Kampung deret itu merupakan alternatif kampung dengan 4 lantai yang didalamnya juga menyangkut program ekonomi.

Selain itu, dari tim hukum Ciliwung Merdeka juga mengingatkan kembali proses hukum class action yang sedang dilangsungkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Yang sangat disesalkan adalah suara-suara dari para pejabat Pemprov DKI yang menyatakan akan melakukan penggusuran sementara gugatan class action masih berlangsung. Ini merupakan tindakan yang tidak menghormati hukum sama sekali.

Dukungan dari beberapa pihak di luar warga Bukit Duri seperti mantan kepala sekolah pun semakin menguatkan warga untuk tetap berjuang. Bu Ratna berbagi pengalaman tentang upayanya mencari kebenaran melalui hukum. Meskipun tidak ada saksi (sesama PNS yang tidak berani untuk menjadi saksi), sidang tetap dimenangkan oleh Bu Ratna. Demikian juga ketika Pemprov DKI mengajukan banding, sidang ini pun dimenangkan oleh Bu Ratna. Ada rencana Pemprov DKI mengajukan kasasi, namun Bu Ratna tetap akan mengikuti semua proses hukum.

Demikian juga dukungan diberikan oleh Sri Palupi yang dari Ecosoc. Hanya satu kata “lawan” yang bisa dilakukan oleh warga Bukit Duri, dan hal ini telah dilakukan melakukan proses hukum yang sekarang sedang berlangsung. Demikian juga dukungan dari lembaga lain, yang mengatakan bahwa suara warga Bukit Duri adalah suara warga terpinggirkan yang lain; Bukit Duri hancur merupakan kehancuran dari warga yang lain. Bukit Duri merupakan simbol dan perwakilan dari warga yang lain. Rententan penghancuran kampung di Jakarta akan mengikuti, bila Bukit Duri dihancurkan. Hal ini akan semakin menimbulkan banyak lagi korban. Untuk itu, perlu kekompakan dari semua warga. Dari Bukit Duri, perjuangan ini akan menyelamatkan Indonesia.

Seorang warga dengan berapi-api mengajak semua warga untuk tetap konsisten dalam perjuangan ini. Solidaritas warga sangat dibutuhkan terutama saat acara gugatan class action di PN Jakarta Pusat. Semua adalah saudara dalam suka dan duka, yang sudah berpuluh tahun hidup bersama. Untuk itu, dia dengan tegas mengatakan kepada warga untuk fokus dan tidak mudah dipengaruhi pihak luar yang akan memecah belah kekompakan warga Bukit Duri.

Sandyawan, sebagai warga Bukit Duri dan sekaligus sebagai pimpinan Ciliwung Merdeka memberi semangat kepada warga dengan mengacu pada semangat Cut Nyak Dien, pahlawan dari Aceh dalam perjuangan melawan penjajah, Belanda. Dalam ketidak-berdayaannya, Cut Nyak Dien justru mengatakan bahwa ‘yang mengalahkan kita adalah rasa takut, dan rasa takut itu bisa dikalahkan dengan cinta kasih’. Semangat perjuangan ini tetap menggema dalam diri para pejuang Aceh sampai akhirnya bisa mengalahkan Belanda. Demikian juga perjuangan Bukit Duri. Yang diperjuangkan Bukit Duri adalah warga, bukan uang dan bukan pembangunan fisik. Warga adalah stakeholder (pemangku kepentingan) terhadap wilayahnya. Mereka adalah manusia yang harus dimanusiakan. Siapapun yang datang, harus bertemu secara manusia, bukan manusia yang dianggap binatang atau sampah yang hanya diperlakukan dengan hadapan mesin. Para aparat kepolisian yang datang dalam konggres ini pun tetap memperlakukan warga sebagai manusia. Mereka berbicara antar manusia yang satu dengan yang lain. Para politisi dan pejabat harusnya belajar dari warga Bukit Duri, Kampung Pulo, Luar Batang, Kalijodo, dan lain-lain tentang martabat manusia. Secara langsung warga berhadapan dengan warga lain untuk membangun kehidupan komunitas sebagai manusia, dan tidak menggunakan topeng seperti yang dilakukan oleh para politisi dan pejabat negeri. Sandyawan bercerita tentang seorang manusia yang mengenakan topeng gorilla untuk bisa beradaptasi dengan gorilla lain dan seorang manusia lain yang memakai topeng harimau untuk menggertak dan membuat takut orang lain. Namun semua topeng itu tidak ada artinya karena hanya artificial dan tidak autentik. Hasilnya pun tidak ada selain rasa takut, tipu muslihat dan kemunafikan karena yang dilihat adalah topengnya. Untuk itu, Sandyawan minta agar semua pihak termasuk aparat kepolisian, tentara, politisi, pejabat harus melepaskan topeng-topeng mereka, dan kembali menjadi manusia untuk berhadapan dan saling menyapa dengan manusia yang lain. Inilah yang merupakan hakekat pembangungan sesungguhnya.

Dengan dinyanyikannya lagi lagu-lagu perjuangan warga Bukit Duri sekitar pukul 22.00, konggres warga Bukit Duri ini diakhiri. Warga Bukit Duri yang berkumpul cukup banyak dan dengan semangat mereka tetap akan memperjuangkan kehidupan mereka.

Komentar & Solusi