Konferensi Pers Pasar Rakyat Bukit Duri

Pasar Rakyat: Imajinasi dan Negosiasi dari Bukit Duri untuk Jakarta

Jika Jakarta adalah satu tubuh, CiIliwung adalah nadi yang mengalirinya. Sungai sepanjang 120 km ini secara historis tak lepas dari pertumbuhan kota Batavia hingga Jakarta kini. Ia merupakan saksi bisu bahwa daur hidup lingkungan Jakarta yang tak lepas dari pemukiman dan kebutuhan akan akses sumber daya air dan tanah untuk membangun tempat tinggal. Kampung kami adalah bagian dari habitat Ciliwung. Deras arusnya adalah musik pembuka hari, taman bermain masa kecil. Bagi kami Ciliwung lebih dari sekedar nama. Ia adalah ruang dimana kami bersosialiasi dan mengenal satu sama lain.

Sungai ini mengikat kami dalam menghadapi persoalan yang sama. Berada di tepi Ciliwung, kami mengenal banjir sejak kecil, berikut tanggap dan respon seperti evakuasi dan pemulihan. Keberadaan kami di tepi sungai ini juga terdampak kebijakan tentangnya. Proyek normalisasi Sungai Ciliwung adalah salah satunya. Di sisi lain, para komunitas ini bergejolak dengan inisiatif dan beragam aktivitas. Sebuah kebutuhan untuk berjejaring agar dapat saling menguatkan. Seperti lidi, kami bersatu untuk teguh. Pasar Rakyat lahir dari kebutuhan itu.

Sejak tahun 2000. Pasar Rakyat telah diadakan sebagai upaya untuk menciptakan ruang ekspresi warga komunitas warga di Ciliwung. Sebuah media ekspresi geliat ekonomi komunitas warga bantaran yang berupaya untuk berpenghidupan yang lebih baik. Jarak kesejahteraan yang meninggi, dapat berdampak langsung maupun tidak langsung pada kesenjangan sosial dan ekonomi. Tak bisa dihindari, ini akan berpengaruh pada stabilitas sosial politik. Ekonomi mikro dan makro adalah sebuah keadaan yang berdampingan, hadir bersamaan. Keadilan hadir pada keseimbangan pada keduanya.

Perwujudan nafas budaya komunitas warga yang kami gelar adalah upaya kami menemukan dan membangun identitas, akar, kesejatian. Dalam ruang bernama Pasar Rakyat ini, terjalin ikatan sosial antara komunitas Bukit Duri, Kampung Pulo, dan sahabat komunitas-komunitas lain di Ciliwung. Di sini kami belajar apresiasi akan hal-hal yang tak ternilai oleh angka. Semangat para pemuda dan keceriaan anak-anak berkarya adalah api penggerak utama. Kebanggan terbesar ada pada mereka. Di pundak mereka, masa depan bangsa ini bertumpu.

Pasar Rakyat ini tak lepas dari dukungan baik moril maupun materil dari komunitas warga Bukit Duri, Kampung Pulo, Sanggar Respublika, Sanggar Akar, Bacili, Talang, Ciliwung Institute. Menjaga kolaborasi bukan hal mudah, namun akan selalu patut diperjuangkan. Di sini kami belajar tentang solidaritas dan empati. Di sini kami bertemu dengan wajah, sosok, yang kemudian menjadi keluarga:

Sri Palupi, JJ Rizal, Sudirman Asun, Marco Kusumawijaya, serta para praktisi dan akademisi pemerhati kampung kota yang tak bisa disebutkan satu per satu yang telah mendukung terwujudnya acara ini.

Pengembangan kota yang berkelanjutan tak lepas dari upaya perbaikan fisik, tapi juga non fisik. Pembangunan infrastruktur yang berjangka panjang bukan hal baru bagi warga Jakarta. Proyek normalisasi infrastruktur lingkungan sebagai upaya penanggulangan banjir dari pemerintah kota berujung berdampak langsung pada habitat Ciliwung. Kami, sebagai bagian tak terpisahkan darinya, menyadari konsekuensi dari kebijakan tersebut. Janji politik terucap berulang kali, namun realitas tindakan selalu berkata lain. Surat perintah gusuran dilayangkan, sosialisasi dilakukan, namun hanya satu arah. Fakta bahwa relokasi Kampung Pulo mencoreng nama Negara kita dalam kesepakatan hukum internasional akan hak asasi manusia. Warga Kampung Pulo mengalami penggusuran paksa, bahkan sempat terjadi kekerasan dalam prosesnya. Belum cukup, warga Kampung Pulo menghadapi dilema panjang akan hilangnya kepemilikan rumah dan sistem kontrak rumah susun yang merugikan warga.

Belajar dari pengalaman itu, kami menginsafi perlunya infrastuktur sosial untuk membangun potensi warga kota, termasuk potensi ekonomi, sosial, dan budaya. Kami menuntut partisipasi dalam kebijakan kota dalam bentuk mekanisme dialog dua arah. Sebagai negara yang demokratis, kami menolak relokasi yang semena-mena, dengan menawarkan alternatif pemukiman baru. Pada proses ini kami mengajak pihak yang berkepentingan, dalam hal ini pemerintah kota Jakarta, untuk bernegosiasi dalam mencapai kesepakatan bersama mengatasi banjir dan perbaikan pemukiman kota. Workshop desain pemukiman dalam Pasar Rakyat ini adalah langkah awal negosiasi ini. Sesungguhnya tuntutan dan aspirasi ini telah dicetuskan para pembangun bangsa kita, yaitu:

Suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pembangunan yang berkelanjutan berakar pada dialog dan negosiasi antara pihak yang terkait. Bukankah kita tak asing dengan istilah musyawarah sebagai kunci dari demokrasi yang kita percayai?

Kami ingin mengajak Jakarta mendefinisikan kembali makna tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada kolaborasi dan pengembangan potensi warga lokal, serta menjujung tinggi keadilan sosial. Jakarta adalah miniatur Indonesia. Di kota ini kami belajar kebhinnekaan, kesadaran akan keberagaman. Kota ini dibangun dari imajinasi, mimpi, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Pasar Rakyat ini adalah bentuk inajinasi kami akan kota yang kami cintai. Kami sadar bahwa imajinasi tanpa aksi dan pelaksanaan kata-kata adalah sia-sia. Pada tepi Ciliwung ini kami membuktikan itu. Karena itu pasar ini adalah bentuk keberdayaan kami, warga komunitas Ciliwung, untuk aktif menciptakan ruang kota yang bersosial budaya. Pasar Rakyat dari komunitas Ciliwung yang berkedaulatan rakyat.

Hari ini kami turun ke jalan

Langkah-langkah kami adalah semangat berkarya

Teriakan kami adalah arus nada yang terus mengudara di tanah ini

Keringat kami adalah malam-malam panjang membangun instalasi seni

Ciliwung jadi saksi, aspirasi dan tuntutan kami sebagai warga berdaya yang berkreasi

 

Terima kasih. Selamat menikmati aksi dari imajinasi. Selamat menyelami kedaulatan rakyat. Dari Bukit Duri untuk Jakarta.

 

Jakarta, 1 April 2016

Sandyawan Sumardi

Ciliwung Merdeka

 

Komentar & Solusi