KESAKSIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN DI DATARAN RENDAH PARA KORBAN

KESAKSIAN ANAK-ANAK PINGGIRAN
DI DATARAN RENDAH PARA KORBAN

I. Sandyawan Sumardi

Pengantar

Pesan yang ingin kami wartakan dalam tulisan ini bersahaja: mengartikulasikan kembali di atas pentas publik kaum dewasa pro-kehidupan, maupun kaum dewasa berkuasa, pijar-pijar api yang terpercik dari peristiwa-peristiwa hidup nyata yang dialami “para tokoh” wakil anak-anak pinggiran dari lingkungan urban di berbagai kota di negeri ini.

Dalam jeda-jeda malam menjelang ajalnya, Rabu 25 Juni 1997, di Lembaga Pemasyarakatan Anak Tanjung Gusta Medan, sepertinya kita masih mendengar lirih suara rintihan Paris Pangaribuan, dalam nafasnya perih, “Habis, habislah badanku…!”. Namun bahkan di ujung kematian anak jalanan di usia 15 tahun itu pun rasanya kita masih belum juga mendengar: adakah ia telah berhenti dipukul, ditendang, ditampar, didera sampai muntah darah, dilumpuhkan, dan disekap dalam bui? Dan gema teriakannya terdengar sampai ke liang lahad. Apakah sebenarnya yang kita dengar? Apakah sebenarnya yang tengah kita saksikan?

Serpih-serpih kisah anak-anak pinggiran dalam peristiwa Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti Khoiriyah Fatih adalah bercak-bercak merah darah anak-anak negeri ini juga. Sebuah deretan siksa-derita yang sunyi, tapi juga sebuah percik perjuangan, pijar kesaksian, gelora kepahlawanan. Mereka adalah bayang-bayang gelap yang terus berkelebat menyayat batin kita. Mereka sering dianggap rumput, lumut bahkan benalu yang menjalar liar di jalan-jalan raya budaya kehidupan kita. Merekalah yang senantiasa meronta-ronta di urat darah kita. Mereka adalah pertanyaan yang akan terus menyengat ekor ideologi pembangunan kita yang gagah. Mereka tak bisa kita abaikan.

Kisah Anak Pinggiran
Sejenak marilah kita mendekat pada sosok pribadi Paris Pangaribuan, manusia muda berjiwa sahaja yang tidak terlampau kompleks, yang begitu dekat dengan ibundanya yang mewarisi naluri kejadian alam; ibu yang menjadi kiblat nurani di dalam kelakuan-kelakuannya. Paris yang pendiam, ternyata aktif berdiskusi dan rajin menabung dan bekerja mecari uang. Sikapnya teguh memegang janji, dan solidaritasnya yang tinggi terhadap sesama anak jalanan, membuat ia disegani dan disukai kawan-kawannya. Tapi Paris juga dikenal lihai dalam taktik bertahan dalam situasi yang sulit tanpa kehilangan kemanusiaannya, serba menerima keadaan yang tak terelakkan, yang demi pertahanan hidup, terpaksa harus yang membongkar moral kebajikan konvensional: untuk berebut rejeki di dataran panas dan keras dunia jalanan, Paris telah dianugerahi stigma “trouble maker” (pembuat onar) bagi para pengelola kota, dari kamtib, polisi sampai pejabat. Maka ia kerap digasak oleh mereka. Dan terakhir, ia pun dituduh mencuri gitar dan membongkar kios. Itulah sebabnya ia ditangkap pada tanggal 12 Februari 1996. Namun menjelang kematiannya, ternyata Paris masih sempat melontarkan keprihatinan dan rasa tanggung jawabnya terhadap keberadaan teman-temannya yang bekerja di Terminal Amplas, tempat di mana anak-anak jalanan menjadi sasaran tindak kekerasan para aparat dan preman.

Yadi (16 tahun) anak jalanan Bandung, punya kisah agak lain. Anak yang terbuang dari keluarga “broken home” dan menjadi korban kekerasan seksual jalanan ini, cenderung menghayati hidup belianya sebagai protes total terhadap otoritas orang tua yang tak bertanggungjawab, dan terhadap otoritas penyelenggara kesejahteraan masyarakat. Sebagai anak jalanan Yadi pernah bertamasya cari pengalaman kerja yang penuh variasi: mulai dari tukang antar barang, buruh bangunan, tukang copet, pembantu rumah tangga, pengemis, pemulung, pengamen, dan kembali menjadi anak jalanan biasa. Mungkin di antara nominee lain, Yadilah yang paling kenyang mengalami jadi korban kekerasan paksa oleh preman maupun aparat, entah itu Tibun, Polsus Stasiun Bandung, petugas GDN (Gerakan Disiplin Nasional), polisi biasa maupun petugas Depsos. Dan kini Yadi sudah terbiasa belajar dengan perasaannya, dengan matanya, bukan dengan telinganya. Karena Yadi sudah tidak perduli dengan kata-kata penuh himbauan moral para petugas, pengayom masyarakat.

Lain Paris, lain Yadi, lain Wawan. Wawan (17 tahun) di sudut kota Jakarta adalah citra intelektual anak jalanan. Sebab dibanding anak jalanan lain pada umumnya, pendidikan Wawan masih lebih tinggi: sempat mengenyam pendidikan SMP, meski hanya sampai kelas II. Wawan sadar benar akan realitas rimba jalanan, akan harkat hidupnya sebagai anak jalanan yang harus terus berjuang keras untuk bertahan hidup.

Memang Wawan seperti juga Paris dan Yadi, sama sekali tak luput dari pengalaman sebagai korban kekerasan jalanan oleh aparat penjaga kesejahteraan rakyat. Tetapi Wawan adalah salah satu dari sekian gelintir anak-anak pinggiran yang mampu mengartikulasikan peristiwa-peristiwa hidupnya, mampu mencerna makna jati dirinya. Maka dia enggan bermanja-ria, dengan tangan, kaki dan hatinya sendiri, Wawan bekerja sebagai pengamen, dan menjual hasil ketrampilan batik serta sablon yang dikerjakan bersama-samateman-teman senasib seperjuangannya.

Wawan adalah sosok pemikir, pemersatu, organisator, pemimpin “gank” komunitas-komunitas “survival system” basis anak-anak jalanan. Pernah ia meimpin gerakan resistensi anak-anak jalanan melawan para petugas Kamtib yang merampas barang-barang mereka. Sebagai akibatnya, ia ditangkap dan diserahkan ke Panti Sosial Kedoya, Jakarta. Entah apa kata orang, namun menurut Wawan sendiri, itulah caranya dalam meresikokan segala nasib demi pembelaan keadilan, ungkapan setia-kawan yang nyata, meski akibatnya ia dilindas secara kejam.

Citra Tarini, perempuan kecil buruh pabrik berusia 14 tahun, adalah citra korban, yang tak hanya menjadi pusat perhatian optik Gender, namun dalam berbagai dimensinya, sungguh telah membuat sendi-sendi kesadaran kemanusiaan kita di negeri ini terperengah, terjaga. Sebab serasa lengkap sudah pengalaman hidup Tarini mengungkap seluruh dimensi jatuh-bangun perjuangan total perempuan kecil dari dataran rendah kaum miskin urban Metropolitan dewasa ini. Sejak keluar dari kandungan ibunya di Indramayu 14 tahun lalu, Tarini sudah ditampar keras oleh kenyataan kemiskinan lingkungannya yang tak bisa ditawar-tawar. Di usia 6 tahun, gadis kecil ini mengalami keterlemparan sebagai urbanisator, mengikuti orangtuanya di bilangan Pulo Gadung, Jakarta. Dan terus, kemiskinan yang menindih, telah menjadi faktor kuat keretakan keluarga Tarini, peristiwa teramat traumatis yang seakan harus dialami oleh anak-anak dari kaum pengungsi di negeri sendiri. Di Kelas IV SD terpaksa harus cabut dari dunia pendidikan formal. Namun Tarini telah mensikapi tragika hidup yang menderanya sejak usia dini sebagai tantangan kehidupan, yang betapapun berat godam derita tak manusiawi, toh tetap masih mengintipkan ruang-ruang alternatif kebangkitan yang dijanjikan di masa depan. Terbakar oleh rasa kasihan pada orangtuanya yang telah luluh-lantak membanting tulang menggapai kebutuhan faal kehidupannya, dan toh tetap tak mampu memiliki rumah sendiri, disentuh rasa welas asih pada adik-adiknya (adik kandung dan adik tiri) yang nyaris terlantar, Tarini kecil nekad ingin berdiri di atas kaki sendiri. Dan perempuan kecil itu pun marasuk dalam pengembaraannya sebagai buruh, di berbagai tempat dan waktu yang melonjak-lonjak dalam sejarah hidupnya. Mulai dari menjadi buruh termuda di pabrik garmen PT Get On Trading di Cakung, sebagai pemulung besi, sebagai buruh cuci baju, sebagai pembantu rumah tangga di bilangan Tebet juga di sebuah keluarga Madura di Cakung, dlsb., yang susah dikisahkannya. Jelas pekerjaan-pekerjaan itu teramat berat, menggerus kemanusiaannya. Apalagi perlakuan yang sering dialami dalam lingkungan pekerjaannya itu. Bukan hanya upah yang teramat rendah jauh di bawah upah minimum, namun pengalaman perlakuan diskriminatif yang perih sebagai perempuan kecil dari lingkungan kumuh seakan telah menjelma menjadi udara kotor dalam nafas hidupnya. Sejak usia dini, Tarini dan keluarga serta warga lingkungannya telah mengalami delapan kali peristiwa penggusuran paksa, yang meluluh-lantakkan seluruh milik dan tempat tinggal, nafkah dan lingkungan (pendidikan) hidupnya. Sebagai perempuan belia, Tarini pun telah mengalami perasaan jauh dari rasa aman sebab ia telah mengalami percobaan pemerkosaan oleh lelaki tetangganya sendiri. Namun justru di lembah duka-derita itulah kharisma Tarini kecil terang berpijar, karena ketika akan diperkosa dia melawan, berteriak, membongkar fakta terselubung kemunafikan moralitas lingkungannya. Ketika tanah tumpah darahnya dibakar dan digusur pun ia terlibat kuat dalam barisan kaum perempuan yang tegak dalam lingkaran tapal kuda yang siaga melawan aparat penggusur paksa. Ia sederhana, setia, tegar, tekun, ulet dan berani karena dengan caranya sendiri yang otentik, tak segan lantang-lantang ia melontarkan keberangannya setiap kali berada dalam posisi sebagai pembela kaumnya, anak-anak dan perempuan yang dilindas oleh kekerasan kekuasaan orangtua, lelaki, institusi agama, kelompok mayoritas atau aparat pemerintah. Sungguh tak berlebihan, Tarini adalah citra pemimpin masa depan yang lahir dari dataran rendah para korban.

Dodi Sukmayanto, buruh pabrik batu apung berumur 15 tahun adalah sosok pejuang anak pinggiran dari pedesaan Nusa Tenggaran Barat.

Sejak usia dini Dodi sudah mandiri, justru karena terpaksa tinggal dengan nenek, setelah orang tuanya hengkang sebagai petani transmigran di Sulawesi selatan. Berbagai-bagai pekerjaan kasar telah dilansirnya: mulai kernet truk angkutan barang, penggembala, dan buruh pabrik batu apung. Kalau di sela-sela pekerjaannya ia begitu aktif melibatkan diri dalam kelompok pendidikan alternatif, ia kare na ia merasa dalam kelompok itu ia dapat lebih jernih bercermin, belajar, tentang relaitas hidup yang diarunginya. Perkara kekerasan sistematik yang senantiasa menjamah anak-anak dari dunia kaum pinggiran, bukan pengalaman istimewa bagi Dodi. Hanya saja ia punya pengalaman unik, berkali-kali digebuk oleh gurunya sendiri, di sebuah sekolah, yang nota bene adalah sebuah institusi pendidikan bangsa, hanya karena memprotes tindakan seorang guru yang melakukan pungutan liar di kelas III SD yang diketuainya itu. Akibatnya, satu minggu Dodi harus terkapar di rumah sakit. Ketika bekerja sebagai buruh batu apung pun ia pernah dipukuli oleh pengawas produksi. Pasalnya biasa: ia menuntut upah kerja yang layak sebagai manusia. Seakan kita sempat mendengar bela diri sang pengawas produksi pabrik batu apung itu: “Ya, salahnya si Dodi lupa, ia bukan manusia biasa, ia seorang buruh, apalagi anak pinggiran!”.

Siti Khoiriyah Fatih yang terlahir 16 Mei 1981 di Jember, adalah sosok buruh anak penyadap karet yang memperoleh “tanda perbudakan” di pelosok Kabupaten Jawa Timur. Siti yang lugu penuh sahaja itu, seperti juga Tarini di belantara Jakarta, ternyata juga sosok perempuan korban, yang kehidupannya terus-menerus digedor oleh rentetan tindakan kekerasan eksploitatif sebagai buruh perempuan: didamprat, dipaksa melakukan pekerjaan fisik yang melampaui batas, difitnah sebagai pencuri, dan diupah begitu rendah. Padahal seusai kerja sebagai buruh penyadap karet, ia masih harus membantu bibinya berjualan pada malam hari di lingkungan perkebunan.

Mengusap peri kehidupan gadis-gadis perempuan kecil pejuang kaum pinggiran seperti Siti Khoiriyah dan Tarini, kita menepuk dada lemah, ternyata nasib mereka hanya sedikit lebih baik ketimbang kakak mereka Almarhumah Marsinah (buruh wanita Sidoardjo, jawa Timur yang ditemukan mati mengnaskan setelah dianiaya di Nganjuk, setelah menjadi wakil teman-temannya dalam perundingan dengan pihak perusahaan), atau Anne Frank (gadis manis dari loteng sempit di Amsterdam yang dicekik dalam kamar gas oleh Hitler di Auschwitz), hanya karena dua gadis kecil itu tidak (belum?) berakhir dengan sebuah kematian yang sunyi.

Kelompok pemulung paku anak-anak pun tak ketinggalan, ingin ikut berteriak: “Kami mau bebas mencari paku!”. Ya, mereka ingin mewakili teman-teman senasib seperjuangan mereka sebagai buruh yang bekerja di sektor informal. Mereka tinggal di Penas Baru, Jakarta. Jenis kerja kelompok yang dilakukan dengan semangat semangat luar biasa ini pada dasarnya amat berat untuk mereka. Karena di lini perjuangan itu, kelompok anak pinggiran di usia 9-16 tahun itu terpaksa harus sering-sering bergesekan dengan tindak kekerasan para pemilik pabrik, pemilik bengkel dan aparat pemda/keamanan. Tak jarang jerih payah mereka masih dicurangi oleh lapak (penampung hasil pulungan). Anak-anak yang ingin bertahan hidup, terpaksa harus membenturkan harga diri, terus bergerilya di dunia orang dewasa. Ah, anak-anak pemulung paku, kalianlah yang lebih pantas disebut peziarah modern sejati di negeri ini. “Arbeit macht frei” (kerja membuat kita merdeka), kata Hitler di gerbang kamp konsentrasi Dachau. Tapi dalam sejarah, justru dalam paradoks itulah kerja telah melahirkan peradaban.
Dalam proses bekerja manusia dapat mengekpresikan luapan kerinduan untuk merdeka dari pengurasan eksploitatif dunia buruh, namun pada saat yang sama, dengan bekerja kita meluhurmuliakan dua subyek sekaligus: Allah dan kemanusiaan. Betapa berharga. Sayang, harga semacam itu hanya bisa dinikmati oleh kaum pekerja di kelas menengah. Bukan anak-anak pinggiran yang terpaksa menjadi buruh garmen, buruh pabrik batu apung, bukan buruh pemulung paku.

Kisah Perlawanan
Dari satu sisi, riwayat Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti sebenarnya tak teramat istimewa. Kecuali bahwa anak-anak ini rasanya semakin dekat memburu sanubari kita. Namun justru dalam peristiwa-peristiwa naratif ini, anak-anak pinggiran sepertinya tengah menggali tanpa ampun dunia batin dan jati diri kemanusiaan mereka sendiri. Dalam tuturan yang sederhana ini, kita jumpai problem manusia individualis, kaum urban korban-korban kapitalisme dan paham modern tentang “survival system”. Dalam kisah ini cukup kuat direkam dan dilukiskan deformasi jiwa manusia kota, baik dalam psike individual, maupun dalam lembaga-lembaga keluarga, masyarakat, negara yang serba gundah dan terpecah.

Baik Paris, Tarini, Yadi, Wawan, Dodi dan Siti, adalah para pemberontak melawan deformasi jiwa yang membuat manusia mejadi hewan-hewan buas yang dilahirkan oleh sistem kebudayaan kota.

Dengan pertanyaan-pertanyaan berantai, Kisah Anak Pinggiran seakan mendakwa jiwa pembaca: siapa yang ternyata cukup mampu menjaga harga diri tak tunduk mengaduh runtuh? Siapa yang menjawab secara benar terhadap tuntutan-tuntutan saat nyata dan mendesak?

Siapa berhasil menjaga keutuhan jiwa dalam kemelut peristiwa-peristiwa tragis? Dalam manusia-manusia macam manakah ternyata masih bertahan substansi manusia sejati? Dan manusia mana yang ternyata tidak hancur dan tetap tahan uji moralitas kemanusiaannya?
Paris, Yadi, Wawan, Tarini, Dodi dan Siti Khoiriyah Fatih, dan teman-teman senasib seperjuangannya adalah anak-anak pinggiran, bunga-bunga liar, serpihan-serpihan kusam kusuma bangsa yang tumbuh di dataran keras kehidupan urban. Tak pelak, kumpulan kisah-kisah tradisi kecil ini hampir dapat dikatakan sebagai hidden transcript (catatan terselubung) anak-anak pinggiran.

Demikian kalau sampai mereka mengisahkan pengalaman yang tak terkatakan ini, pada dasarnya mereka tengah menggambarkan dan terkadang sekaligus melambangkan kritik-kritik halus dan nyaris tersembunyi mengenai kekuasaan, yang hanya dilontarkan atau diterjemahkan secara diam-diam ke dalam perbuatan, atau dalam alam pribadi. Kaum yang terlindas oleh kekuasaan (baca: para penentang kekuasaan) ini, cenderung menciptakan dengan sendirinya suatu wacana samar yang lokasinya, baik secara ideologis maupun geografis, jauh dari arena percaturan politik utama, dari jangkauan atau pengawasan yang berkuasa.

Mungkin catatan-catatan kecil tak beraturan ini memang sebuah “nyanyi sunyi” tradisi kecil anak-anak pinggiran yang mencoba untuk bertahan, melawan dan sesekali mendobrak hubungan-hubungan subordinasi yang mengungkungnya.

Perjuangan mereka adalah perjuangan manusia yang menciptakan ruang gerak sosial, merakit ideologi-ideologi alternatif, mengembangkan suatu sub-budaya ketidaksepakatan, menggalang solidaritas teman senasib-seperjuangan, dan mengasah teknik serta bentuk-bentuk perlawanan tidak langsung. Seluruh Kisah Anak Pinggiran pada dasarnya merupakan kesaksian tentang anak-anak rakyat kaum miskin urban, yang bertempur dalam iman manusia lemah tetapi jaya, yang tak pernah patah dan hancur nilai kemanusiaannya di tengah amukan massa zaman kejam serta penderitaan yang tak pernah usai, bagai badai salju di tundra-tundra Siberia.

Terlampau pagi menyebut mereka pemberontak, terlalu dini usia mereka untuk mendobrak. Namun toh justru dalam situasi batas daya kemampuannya, dalam perjuangan mereka yang suntuk, bahkan di ujung ajalnya, mereka merasa perlu menggoreskan pesan, kendati dengan keringat, debu dan darah.. Segalanya telah dihimpun dan dipertaruhkan, segalanya telah dicurahkan dan diikhlaskan. Memang mereka seperti kalah, meradang, luka bahkan mati, namun kini mereka tidak lagi membisu. Mereka telah berteriak sunyi, tentang kemerdekaan yang demikian mereka rindu-rindukan.

Dengan itu pula kasus mereka menjadi kasus kepahlawanan modern, justru dalam keterbatasannya menghadapi nasib itu. Keterbatasan di dalam titik tawakal. Sebab hidup kita, ternyata terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu. Namun adakah pengalaman Paris, Tarini, Yadi, Wawan, Dodi dan Siti Khoiriyah Fatih dapat jadi jarum-jarum kecil penunjuk kemana arah pembangunan bangsa ini tengah digelandang-paksakan oleh para pemegang tampuk kekuasaan?

Cermin Retak Paradoks Zaman

Kisah Anak Pinggiran adalah sebuah cermin retak tentang sebuah paradoks zaman: di satu pihak ada kesewenang-wenangan yang brutal, kejam dan telanjang tanpa malu, di lain pihak kita masih dapat mendengar kesaksian-kesaksian otentik, betapa relatif dan fananya segala ideologi di hadapan inti dan esensi proses sejarah yang mengatasi kekerasan sebuah sistem politik. Inilah momentum untuk belajar, memperluas cakrawala pergulatan batin manusia, serta memperdalam pemaknaan sejarah manusia. Sejarah yang bukan sejarah institusional, yang de facto lebih ditentukan oleh kaum pemenang; kaum yang biasanya cenderung didukung atau mendukung ideologi, kebijakan atau pemerintahan resmi. Sejarah dalam Kisah Anak Pinggiran ini senantiasa mengisyaratkan sebuah perspektif yang berikhtiar untuk melakukan pelacakan kembali peristiwa-peristiwa “tradisi kecil” pada dataran hidup massa kebanyakan; yang membuat kita tidak mudah merayakan apa yang sering kita sebut peradaban sebagai lompatan-lompatan linear yang penuh keniscayaan, serba mutlak, tak bisa dipertanyakan lagi. Justru karena yang berada di atas timbangan adalah individu-individu atau massa yang berada di pinggiran lingkaran kekuasaan. Dan setiap kali kita membongkar apa yang cenderung dikubur oleh sejarah institusional, kita pasti akan berjumpa dengan nokhtah-nokhtah pengalaman dari mereka yang sering dianggap sebagai “kaum yang kalah”.

Inilah sejarah sungai-sungai proses kesadaran dan pengolahan puncak-puncak atau jurang-jurang eksistensi manusia, baik dalam kekelaman derita maupun dalam bunga-bunga liar mekar bahagia dalam genangan rawa-rawa kehidupan nyata.
Sikap manusia yang meskipun sadar bakal digempur terus menerus, namun toh tetap berlenggang juang terus teguh dalam pergulatannya, pada hakikatnya adalah sikap religius. Bukankah kita tetap menyaksikan Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti tetap menerawang pada awan-awan harapan di gerbang kehidupan mereka? Mereka tetap melihat pijar cahaya akhir, yang walau pun teramat jauh, membuat jiwa mereka tetap bertekad untuk hidup terus, merebut kehidupan sejati. Dan harapan sejenis ini, yang terekam dari teriakan panjang yang berpendar-pendar jauh merasuki relung-relung sukma sesamanya, ternyata hanya dapat disendikan pada dasar kepercayaan, bahwa memang benar-benar ada suatu Kebenaran Terakhir, suatu Keadilan Terakhir. Sehingga seluruh perjuangan itu toh punya makna. Nilai korban demikian tinggi. Kehendak untuk terus bertahan hidup dan berharap, meski kegelapan di sekeliling seolah tak memberi nafas harapan, adalah esensi dari sikap religius sejati. Sebab yang dituju religiositas sejati bukan dunia kaum pemimpi, bukan fatamorgana kosong, dan bukan rasionalitas belaka, melainkan benar-benar realitas nyata.

Kisah Anak Pinggiran adalah kisah kaum kecil. Kaum yang dengan keyakinan tipis, menyerukan protes untuk didengarkan oleh kaum dewasa dan berkuasa. Dan karena itu jeritan protesnya bagai hewan terluka, mengaum sampai di ujung kematian.

Semangat mereka adalah semangat melawan stigma, nujum dan nasib, meskipun ternyata kalah. Mereka kalah, oleh apa yang oleh orang Yunani disebut dike, rancangan takdir. Memang orang kecil adalah orang, yang pada akhirnya, terlalu sering kalah. Adakah karena adagium hukum alam itu kini tengah berlaku kembali, sebagaimana pernah dibisikkan Jean Paul Sartre (1905-1980), eksistensialis Prancis itu: “When the rich wage war it is the poor who die” (Apabila yang kaya mengobarkan perang, maka yang bakal mati adalah kaum miskin.)?

Religiositas Anak-anak Pinggiran

Kisah Anak Pinggiran akan membuat kita terjaga, betapa sejarah dunia senantiasa digenangi oleh berbagai inti perkara-perkara kemanusiaan: masyarakat terdiri dari tuan-tuan dan budak-budak. Namun juga berbagai macam sistem ideologi praktis, seperti kapitalisme yang mereka alami ternyata bukan penyelesaian yang pantas dirayakan, sebab di situpun skandal kuno kembali terulang: tuan-tuan menginjak-injak budak-budak. Tidak hanya dalam negara, tapi juga nyaris dalam seluruh dimensi kehidupan, ada benang merah sikap dan struktur tuan-budak itu. Sejak lahir dari kandungan dalam lingkungan keluarga, mereka telah diajari untuk tunduk, taat buta tanpa tawar-menawar. Namun dalam kenyataannya, otoritas lingkungan mereka tak pernah membuat mereka dewasa. Yang diciptakan adalah suasana ketakutan. Ketakutan pada otoritas kekuasaan adalah ketakutan yang purba, rasa ngeri dari sebuah zaman “pra-budaya”. Bisa jadi akarnya berupa sebuah trauma yang tersembunyi jauh dalam kesadaran kolektif kita: masa penjajahan. Sejarah tuan dan hamba, yang selama berabad-abad berlangsung gaduh di negeri ini, seperti halnya dialami beberapa negeri lain di Asia Tenggara lainnya.
Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dalam sejarah sebuah bangsa. Dan anak-anak pun akhirnya bakal mengerti: bahwa di atas sana ada mesin yang ingin membersihkan manusia dan jagad raya, menjadi “murni”.
Bahwa yang mustahil telah dipaksakan, dan yang mustahil pun telah melahirkan yang buas, sewenang-wenang. Nampaknya persoalannya sederhana: bagaimana kekuasaan yang lahir dari uang dan bedil, bisa tunduk kepada sesuatu yang tak beruang dan berbedil. Tapi bukanlah yang demikian ini hanyalah sebuah masalah klasik? Klasik, tapi terus mengusik.

Demikianlah, dalam tataran religiositas, nampaklah seluruh hidup mereka dibayangi oleh rasa takut pada neraka, kepada hukuman Tuhan, yang tidak memungkinkan mereka menjadi manusia yang sadar yang bertanggungjawab atas sikap dan perilakunya sendiri.

Oleh otoritas yang berkuasa, Tuhan telah dijadikan semacam tambal-sulam untuk menutup lubang-lubang kesulitan yang tak dapat dibereskan sendiri oleh manusia. Seakan Tuhan dijadikan tukang sulap pembuat mukjizat, untuk membereskan kerepotan-kerepotan yang dibuat oleh manusia sendiri.

Namun justru dengan alam kesadaran yang teramat bersahaja, Paris, Tarini, Wawan, Yadi, Dodi dan Siti, tanpa sengaja telah mendobrak kungkungan ideologis semacam itu, justru dengan kesaksian-kesaksian hidup penuh perjuangan membangun survival system dalam komunitas-komunitas basis kehidupan mereka.

Situasi batas daya kemampuan hidup yang mereka hayati demikian intens, berupa kepungan noda stigma sosial-politis nan keji, tersingkir, “sendiri tanpa dunia”, “ditinggalkan bahasa”, hidup dalam kebisuan, dalam dunia tanpa nada, tanpa nasib, tanpa hubungan, tanpa hak untuk mencinta dan dicinta. Sebuah rangkaian bunga hitam serba “tanpa”.

Namun justru di tengah genangan dunia penuh negasi inilah secara amat menakjubkan telah merasakan, mengalami perpaduan penuh gaib antara ruang-ruang dalam dan ruang-ruang luar di dalam rongga jiwa mereka. Dalam suntuk ketidakberdayaannya, mereka telah mengalami suatu kesadaran reflektif: rindu pulang kembali ke negeri asali mereka. Mereka toh tak sudi untuk terus menerus menjadi “orang luar” yang terbuang. Sebagai pejiarah yang menanggung dahaga hebat, mereka rindu untuk kembali menemukan oase perdamaian air kehidupan nan jernih. Damai, bukan berarti rujuk lepas dari egoisme, menghindari pertarungan survival of the fittest dalam dunia jalanan, dunia perkampungan kumuh mereka, tapi dalam makna metafisik individual, dalam makna tanggung jawab penuh sikap solidaritas antar sesama manusia. Dan lahirlah sebuah kesadaran baru, paling tidak sebuah dambaan: anak-anak manusia yang paling sekular liar sekali pun, ternyata dapat dan mampu menghayati serta memberikan kesaksian tentang makna kehidupan religius yang amat mendalam.

Jakarta, 9 Desember 2004

Komentar & Solusi