Kemanusiaan dan Kreativitas dari Kali Ciliwung

32158_10200155416865289_467723102_n

Ignatius Sandyawan Sumardi (54) atau lebih dikenal dengan Romo Sandy akrab dengan para warga bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet. Selama masa banjir yang baru lalu di kawasan ini, namanya tak lepas dari bibir para warga.

SEPANJANG menyusuri perkampungan di bantaran Sungai Ciliwung pascabanjir lalu, warga sungai ini cukup disibukkan oleh penggalian lumpur, ibu-ibu yang membicarakan kesehatan anaknya, anak-anak yang mandi di teras rumahnya.

Perjalanan menuju rumah sekaligus tempat berkumpul komunitas “Ciliwung Larung” di Jl Bukit Duri I No 21, RT 006/RW 12, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, (23/1/13) sapaan terhadap Ignatius Sandyawan Sumardi (54) atau lebih dikenal dengan Romo Sandy tak luput dari warga sekitar, hingga sesekali kaki kami harus berhenti untuk menyalami atau menanyakan kabar. Ternyata keakraban itu beralasan, saat sampai di rumah Romo yang berlantai dua dan sederhana, kamar-kamar di ruangan itu dijadikan ruangan dokter umum, hingga dokter gigi.

Warga Ciliwung terlihat begitu akrab dengan sosok aktivis, pengajar dan imam Katolik kelahiran 23 November 1958 di Jeneponto, Sulawesi Selatan, ini. Sejak tahun 2000, Romo memilih tinggal di Bukit Duri, di pinggir Sungai Ciliwung, sebuah pilihan yang tidak menjadi pilihan kebanyakan orang. “Memang saya sengaja ambil daerah yang tantangannya keras, tapi di daerah pusat, multiplayer efeknya luar biasa,” ujar Romo.

Pengalaman Romo dalam proses pendampingan anak-anak di Ciliwung dengan sistem pendidikan informal ditulis di buku “melawan stigma”, bahkan diterapkan di Aceh, Kalimantan dan banyak dipelajari hingga Papua.

_MG_2917

Pada awal pendiriannya tahun 2010, Ciliwung Merdeka (CM) adalah “rumah terbuka” bagi warga Ciliwung, termasuk pada tahun 2011-2012 diwujudkan dalam tujuh program kerja pendidikan yang berbasis informal, khususnya pada pendidikan alternatif, lingkungan hidup dan seni budaya rakyat, yang diharapkan agar warga Bukit Duri-Kampung Pulo khususnya anak-anak dan remaja mampu menggunakan energi potensial dirinya. Seperti “Festival Budaya Anak Pinggiran” dan pementasan teater musikal “Ciliwung Larung” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tahun 2011, mereka memang begitu natural dan kepercayaan dirinya lebih terbangun di atas panggung.

Menurut Romo, memang terasanya jika mereka khususnya anak-anak sudah kena stigma juga kepada warga Bukit Duri sendiri, misalnya selalu dipersoalkan bila banjir adalah dari warga, sedangkan sebenarnya ada penyebab lain misal tanah yang rendah, air laut yang pasang.

“Tapi tetap yang disalahkan adalah warga pinggir kali, yang dikecam-kecam tapi tidak diberi solusi,” kata Romo. Padahal, ada warga di sini yang sudah 30-40 tahun dan seharusnya menurut hukum agraria diprioritaskan, sementara jika kita amati perlakuan ketimpangan dari pemerintah semakin kuat. Semisal Pantai Indah Kapuk, pinggir kali juga, kok boleh, karena mereka punya uang, punya akses dan kekuasaan, perbedaanya sederhana tapi nyata kita alami, inilah bentuk ketimpangan tata kota,” tutur Romo.

Warga di daerah Bukit Duri juga mulai terbiasa berempati, seperti saat saya berkunjung, Sekretariat Sanggar Ciliwung penuh dengan bantuan yang akan disumbangkan ke daerah Banjir di Jakarta Utara, padahal daerahnya sendiri juga kebanjiran meski sudah surut.

Dahulu, menurut Romo, saat Tsunami, setiap RW mengumpulkan uang untuk disumbangkan hingga terlibat membantu seperti konflik etnik di Kalimantan, bukan nilainya yang kecil tapi empatinya.

Di Ciliwung Merdeka, kecenderungannya anak-anak lebih berpotensi pada musik dan regenerasi mulai dibangun oleh Romo dengan senior mengajarkan ke junior karena jika ada volunter mahasiswa, paling lama hanya 2 tahun dan keajekannya kurang, jadi sejak tahun 2000 Romo mengajarkan bahwa komunitas harus mendidik anak-anaknya sendiri.

“Jadi, kalau yang SD ngajarin yang kelas nol, yang SMP ngajarin yang SD, hingga seterusnya dan ini sudah beberapa angkatan. Dahulu waktu saya datang, mahasiswa hanya satu atau dua orang, sekarang yang lulus perguruan tinggi dan juga pekerjaanya bagus, karena ini pertanggung jawab kepada komunitasnya besar sekali,” kata Romo yang saat ini membiayai 23 anak angkat untuk sekolah.

_MG_2929

Saat ini, Romo dan warga Ciliwung sedang fokus pada rencana pembuatan “Kampung Susun” dengan pelebaran kali dan pembangunan lima lantai ke atas untuk penataan dan efektivitas ruang yang lebih baik di Ciliwung, semoga terwujud.

Dikutip Dari :

www.selviagnesia.wordpress.com/2013/01/27/kemanusiaan-dan-kreativitas-dari-kali-ciliwung/

Komentar & Solusi