Pasar Rakyat
Pasar Rakyat (sumber: Suara Pembaruan/Fana Fadila)

Suara tetabuhan dan kehingaran terdengar di Dipo Kereta Api Bukit Duri, Jakarta Selatan, Minggu (15/12) sore. Setelah ditelusuri suara meriah itu ternyata berasal dari belakang dipo, tepatnya di permukiman yang berada di sisi Kali Ciliwung.

Di atas sebuah panggung berukuran 4X5 meter yang menutup jalan kecil di permukiman RT 08/12, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, lima pemuda asik memukul gendang dan alat perkusi lainnya.

Setelah sekitar 15 menit mendengar hentakan kelompok perkusi, giliran para remaja unjuk gigi. Sekitar 10 remaja tanggung laki-laki dan perempuan bergantian menari hiphop di jalanan beraspal tepat di depan panggung. Kaum ibu sambil menggendong dan menyuapi anaknya, mengikuti hentakan-hentakan dari para pemuda ini. Beberapa di antaranya berupaya merekam momen tersebut dengan ponsel dan kamera poket.

Kemeriahan tak hanya tampak di sekitar panggung. Menyusuri jalanan selebar lima meter dan diterangi lampu hias dengan botol air mineral, mata disuguhkan kios yang menjajakan berbagai jajanan seperti mi ayam, ketropak, es krim, sosis bakar, dan cendol.

Selain itu, sejumlah kios menjual kaos sablon, tas, dan dompet yang terbuat dari plastik daur ulang, serta berbagai barang kebutuhan lainnya. Di ujung jalan, sebuah gapura dengan tulisan ‘Pasar Rakyat’ dari bambu menjelaskan kemeriahan di perkampungan ini.

Pasar Rakyat yang digagas Sanggar Ciliwung Merdeka ini sudah menjadi tradisi dua kampung di bantaran Kali Ciliwung, yakni RT 05, 06, 07 dan 08 RW 12 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, dan RT 09, 10, 11 RW 03 Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Pasar rakyat yang melibatkan ratusan warga dari dua kampung ini digelar pada bulan Juni untuk menyambut Ulang Tahun Jakarta atau Agustus sebagai bagian memperingati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tak seperti biasanya, setelah digelar pada Juni lalu, Pasar Rakyat kembali digelar di Bulan Desember. Banjir yang selalu menghampiri terutama di musim penghujan tak dihiraukan.

Was Was Direlokasi
Di tengah kemeriahaan pasar rakyat, terselip rasa was-was dan cemas. Meski setiap wajah menampilkan keceriaan, namun kerisauan terlihat saat berbincang-bincang dengan beberapa warga. Bukan banjir yang telah menjadi keseharian yang dicemaskan. Desas-desus relokasi warga bantaran Kali Ciliwung yang semakin kencang berhembus belakangan, membuat warga bergotong-royong kembali menggelar pasar rakyat ini.

Warga berupaya agar pasar rakyat yang menampilkan berbagai kreasi membuat Pemprov DKI memikirkan ulang rencana relokasi warga ke rumah susun. Jika tak digubris, dan Pemprov DKI tetap merelokasi, Pasar Rakyat dengan tema “Kreasi Masyarakat Pinggir Kali Ciliwung” ini akan menjadi pasar rakyat terakhir setelah berjalan selama 14 tahun.

“Yah, mungkin ini pasar rakyat terakhir di sini. Jelas sedih, tradisi yang sudah bertahun-tahun ini akan hilang ketika warga direlokasi,” kata Cepot (42) salah seorang warga RT 06/12, Kelurahan Bukit Duri, saat ditemui SP di Pasar Rakyat, Minggu (15/12) malam.

Bukan hanya tradisi pasar rakyat yang membuat warga sedih. Rasa kekeluargaan, kekompakan dan tenggang rasa yang sudah tertanam lainnya dikhawatirkan akan hilang saat kebijakan relokasi dijalankan.

“Nggak cuma soal pasar rakyat, tapi yang lainnya. Meski kumuh tapi gotong royong di sini harus diacungi jempol. Butuh bertahun-tahun agar kebersamaan tanpa melihat latar belakang ini tertanam seperti sekarang,” kata Tuti (40) seorang warga lainnya.

Tuti yang sehari-hari berjualan sayur mayur membuka kios tepat di depan di rumahnya. Dituturkan, setiap warga di permukiman ini terlibat aktif dalam pasar rakyat. Mereka yang sehari-hari bukan pedagang, akan membuat berbagai kreasi dari bahan daur ulang.

Mulyadi, Ketua RT 06/12, Kelurahan Bukit Duri menuturkan, berbagai keterbatasan, dan musibah yang selalu mewarnai kampungnya, membuat warga solid. Meski berasal dari berbagai latar belakang ekonomi, daerah dan agama, warga di kampung ini hidup dengan penuh keakraban, dan kerukunan.

“Ketika direlokasi kami pasti kehilangan. Sangat disayangkan memang. Keragaman, kerukunan, dan gotong royong warga ini tidak mudah ditanam. Kalau direlokasi, mulai dari nol lagi,” ungkapnya.

Penanggung Jawab Ciliwung Merdeka Sandyawan Sumardi mengatakan, selain upaya membangun rasa kesetiakawanan, kegiuatan pasar rakyat yang digagasnya, tersirat nilai edukasi ekonomi alternatif bagi warga bantaran Kali Ciliwung, khususnya warga Bukit Duri dan Kampung Pulo.

Berbagai kreasi, seperti sablon baju, membuat dompet, tas, dan barang lain dari plastik daur ulang, serta membangun jaringan ekonomi sektor informal, diharapkan menjadi modal warga untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun.

“Kampung ini punya modal sosial yang besar. Sistem sosial dan kekerabatan dengan latar belakang yang heterogen dapat saling bersinergi. Begitu tergusur dan berpencar, mereka harus bisa survive,” jelasnya.

Dikatakan Sandyawan, permasalahan di bantaran Kali Ciliwung, seperti juga permasalahan yang dihadapi warga miskin kota lainnya. Mereka selalu dikejar dengan berbagai aturan yang membatasi ruang gerak. Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, hanya membuat terobosan mengenai gaya pendekatan, tetapi belum dapat menghadirkan solusi bagi warga.

“Belum melibatkan warga. Solusinya masih formal dan darurat. Warga direlokasi dan dibangunkan rumah susun sederhana (rusunawa). Padahal berpuluh-puluh tahun warga mengalami ketidakpastian, tapi solusinya juga tidak pasti, karena warga menghuni rumah susun yang sewa bukan milik,” katanya.

Sandyawan berharap, pemerintah memberikan solusi yang tepat agar warga tidak kehilangan kepemilikannya. Pihaknya pernah presentasi mengenai rumah susun milik yang dibangun tak jauh dari kampung Bukit Duri dan Kampung Pulo dan menghadap ke Kali Ciliwung. Dengan cara ini, warga tetap berada di kampung yang telah dihidupkan dan memberi kehidupan kepada mereka.

“Tapi tampaknya tidak ditanggapi. Yah, mungkin ini pasar rakyat terakhir. Terima kasih sudah mendengarkan kami,” ungkapnya lirih.

http://www.beritasatu.com/aktualitas/155818-kecemasan-warga-bantaran-kali-ciliwung-di-pasar-rakyat.html