Kampung Sawah

Oleh: Yunindita Prasidya/ The Jakarta Post

Yunindita Prasidya, calon jurnalis The Jakarta Post yang mengikuti live in di Kampung Sawah, Duren Sawit.

Raniyem, atau yang biasa dipanggil “Bu Pur” tersenyum sumringah kepada tetangga-tetangganya yang ia lewati saat berjalan memasuki gang rumahnya. Di sini semua saudara, “ katanya kepada reporter The Jakarta Post yang akan menumpang tinggal di rumahnya selama tiga hari dan dua malam ke depan, tepatnya dari tanggal 20 November hingga 22 November.

Rumah Bu Pur terletak di Kampung Sawah, Jl. Haji Hanapi Gang Islah, RT 13/RW 02, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Rumah dua kamar ini ditinggalinya bersama suaminya, Sakiman, yang kini berusia 74 tahun – 14 tahun lebih tua dari Bu Pur.

Tidak lama setelah reporter the Post tiba di rumah Bu Pur, ia menceritakan mengenai anak-anaknya. Ia menunjukkan foto anak bungsunya, Joko, yang ia sisipkan di dalam dompetnya sambil berkomentar, “coba kalau masih lengkap, tapi ya mau bagaimana, sudah takdirnya. “Bu Pur telah kehilangan dua dari keempat anaknya – anak yang nomor dua, Purwadi, meninggal karena sakit sementara anaknya yang nomor tiga, Toro, meninggal dalam insiden terbakarnya Citra Plaza Klender (dulu disebut Yogya Plaza Klender) pada tragedi Mei 1998. Ia mengaku beberapa kali telah mengikuti Aksi Kamisan di depan Istana Merdeka untuk menuntut keadilan bagi anaknya. Namun, beberapa tahun terakhir ia berhenti mengikuti aksi tersebut karena kendala waktu dan biaya – terutama mengingat ia adalah tulang punggung keluarga.

Sehari-hari Bu Pur bekerja sebagai pedagang sayur di lingkungan tempat ia tinggal. Profesi sebagai pedagang ini cukup umum di RT-nya yang terdiri atas 57 kepala keluarga atau 185 jumlah jiwa. Bendahara RT, Pak Sunardi, sendiri bercerita bahwa hampir semua warganya adalah pedagang.

Bu Pur memulai harinya jam empat pagi dengan berbelanja barang dagangan di Pasar Klender. Walaupun terdapat beberapa pasar lain yang dekat dengan tempat tinggalnya, yakni Pasar Deprok dan Pasar Elok, ia memilih untuk berbelanja di Pasar Klender karena kapasitasnya besar dan pasarnya buka selama 24 jam. Akses menuju pasar tidak sulit. Terkadang ia diantar oleh anaknya atau memanggil jasa ojek tetangga yang ia bayar dengan harga Rp 10.000,00.

Selain akses ke pasar yang terjangkau, beberapa fasilitas umum lainnya juga mudah untuk di akses. Sekitar 200 meter dari rumahnya, berdiri Masjid Nurul Iman yang dikunjungi oleh suaminya setiap hari. Layanan kesehatan, Puskesmas Pondok Bambu yang terletak di Cipinang Muara 2, dapat diakses dengan berjalan kaki sekitar enam menit, atau sejauh 500 meter. Pilihan transportasi juga beragam: angkot, mikrolet, ojek, maupun kendaraan pribadi.

Pada malam pertama reporter the Post menginap di rumah Bu Pur, beberapa kali ia menerima tamu, tepatnya empat kali. Sangat terasa rasa kekeluargaan yang terbangun di lingkungan tempat tinggalnya – pintu Bu Pur selalu terbuka, menerima siapa pun tamu yang hendak berkunjung.

Salah satu tamu yang berkunjung malam itu adalah istri dari Pak Haji Narto. Ia membawa beberapa bungkus makanan untuk dibagikan kepada Bu Pur. Pak Haji Narto sendiri adalah seseorang yang dituakan dalam lingkungan tempat tinggal Bu Pur. Selain dianggap berada, Pak Narto juga menyediakan pekerjaan bagi orang-orang yang di sekitarnya, termasuk anak Bu Pur, Mas Joko. Di sinilah terlihat bagaimana komunitas yang erat tidak hanya menciptakan rasa kekeluargaan. Namun juga dukungan financial berupa kesempatan bekerja. ***

Komentar & Solusi
Skip to toolbar