Kampung Pulo

Mendengar nama daerah itu disebut pembaca berita televisi membuat ingatan saya terlempar pada suatu Sabtu di awal bulan Desember lalu. Berada dalam pelukan Kelurahan Kampung Melayu, Kampung Pulo bersama saudara senasibnya, Bukit Duri, kerap kali tergenang air ketika musim penghujan menghampiri Ibu Kota.

Picture2
Sabtu itu, dalam Gelar Wicara Comdev (Community Development) sekampus yang saya hadiri bersama teman-teman relawan pengajar, dihadirkan beberapa orang hebat dalam kapasitasnya sebagai abdi masyarakat. Satu di antaranya menamakan dirinya Komunitas Ciliwung Merdeka. Dibandingkan dengan tiga komunitas lain, komunitas inilah yang paling berusia.

foto pengobatan herbal

Kami takjub dengan perkenalan dari Pak Sandyawan selaku penggagas. Perjuangannya dalam menyatukan visi dua desa yang terpisahkan sebuah aliran sungai membuat hati kami tercubit. Bisa bayangkan? Menyatukan visi dua desa di pesisir sungai, eh, kali. Bukankah selama ini televisi menyuguhkan fakta-fakta bahwa penduduk pinggiran kali itu bebal dan nakal yang bangunan tak ber-IMB merupakan tempat mereka tinggal, sampah rumah tangga yang tinggal lempar ke kali sambil tutup mata, aktivitas MCK yang terlalu mudah ditemukan sepanjang tepi, dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi Pak Sandyawan, dengan jiwa sosial yang tinggi bergerak begitu semangat merayu mereka untuk mau bergandeng tangan, menantang masa depan yang lebih cerah.

IMG_2364
Kami kemudian disentil dengan fakta cantik yang membuat kami berpikir, kenapa tidak warga kedua desa itu saja yang menghiasi kaca televisi dengan seni bermain peran yang indah nan berani. Melalui kegiatan-kegiatan positif yang diusung Pak Sandyawan beserta jajaran, Teater Ciliwung Larung menanam dan memelihara bakat masyarakat tepian Ciliwung dan memanfaatkannya dengan baik.

Picture4IMG_3403
Ada pula saat di mana kami tertawa –lebih karena miris– mendengar ide sederhana Pak Sandyawan dalam menangani kenakalan kaum bapak yang (dahulu) gemar memanggil biduan dalam rangka entah apa dan (maaf) menggodanya.

21.rame rame

Suatu ketika, tutur Pak Sandyawan, ada seorang anak yang ingin mengakhiri hidupnya lantaran malu memiliki bapak seperti disebut di atas. “Saya malu sama teman-teman saya, mereka mengejek saya. Ibu saya tidak bisa melakukan apa-apa selain mengelus dada. Saya gemas dan tertekan. Saya tidak sanggup lagi…,” lanjutnya. Lalu jalan keluar yang ditawarkan adalah dengan memberdayakan Teater Ciliwung Larung tadi. Anak-anak di dua desa tersebut tidak hanya diberi keterampilan, diajar bermain peran, dan bernyanyi asal-asalan. Dangdut yang merupakan produk khas Indonesia tidak lupa dilestarikan. Tentunya dengan batasan-batasan pilihan lagu yang sopan, biasanya sih, lagu dangdut kelahiran tahun sembilan belasan. “Kan, kalau begitu, mana tega itu bapak-bapak godain anaknya sendiri,” terang Pak Sandyawan sambil terkekeh dan mengibaskan tangan.

262101_2065603732673_1622185949_2043713_8110561_n-web

Terakhir, bapak berusia tujuh puluhan itu membeberkan rancangan tata kota desa mereka. Dua orang arsitek ditarik untuk bekerja sama. Semuanya murni sesuai dengan keinginan warga. Sekitar enam sampai tujuh bangunan bertingkat lima sampai enam lantai ditampilkan proyektor. Mengusung konsep rumah susun dengan desain yang sangat apartemen. Keren! Sebuah taman dengan nuansa hijau bak karpet terbentang di sekelilingnya, pohon-pohon tinggi menjulang, berbagai macam bunga warna-warni bermekaran di sepanjang tepi jalan setapak. Sangat berwawasan lingkungan!
KampungSusun
Ide ini sudah diajukan dan dipresentasikan kepada Dinas Tata Kota Pemkot Jakarta. “Alhamdulillah, sedang dalam proses, doakan saja,” ujar Pak Sandyawan.

537221_4529142307136_1056221285_n
Maka saya rasa wajar kalau sedih itu ada ketika tadi mendengar berita. Lagi-lagi mereka harus merelakan tempat tinggalnya digenangi air. Semoga saja impian mereka akan hunian yang aman dan nyaman lekas segera terealisasikan. Aamiin.
Nur Aini NS pada 06.30

Sumber : rainy-ns.blogspot.com

Foto-foto : dok.ciliwung merdeka

Komentar & Solusi