KAMPUNG BUKIT DURI DAN CILIWUNG MERDEKA DI MATA SEORANG RELAWAN PENDAMPING

KAMPUNG BUKIT DURI DAN CILIWUNG MERDEKA DI MATA SEORANG RELAWAN PENDAMPING

Oleh: Deny Tjakra-Adisurya

 

BUKIT DURI

Bukit Duri adalah salah satu pemukiman warga pinggiran yang ada di tengah kota Jakarta, Ibukota Republik Indonesia. Warganya begitu ragam dan sangat sederhana, seperti layaknya warga pinggiran lainnya di Jakarta. Sudah sejak lama saya mengenal kampung ini, sejak saya masih anak-anak. Karena dulu saya tinggal puluhan tahun di Kampung Kebon Pala, sebagai kampung tetangga.

Bukit Duri merupakan salah satu pemukiman warga yang terletak di bantaran sungai Ciliwung. Kampung ini selalu menjadi sorotan media, ketika Jakarta banjir, selain Kampung Pulo di seberangnya.
Keberadaan Bukit Duri sebagai sebuah pemukiman padat di tengah kota Jakarta sudah ada sebelum republik ini ada, sejak tahun 1920-an. Begitu ceritanya dari beberapa warga sepuh di Bukit Duri, yang sempat menceritakan kampungnya kepada saya.

Banyak orang mengenal pemukiman padat di Jakarta, seperti Bukit Duri ini, melalui media yang kontennya hanya stigma belaka. Kotor, bau, jorok, kumuh, sarang kejahatan, penyebab banjir dan sebagainya. Di sisi lain, sebagian orang Jakarta yang awalnya beranggapan seperti di atas tersebut, tapi setelah mereka mengenalnya, mereka berubah 180 derajat penilaiannya, khususnya terhadap Bukit Duri.

CILIWUNG MERDEKA

Sanggar Ciliwung Merdeka (SCM) merupakan sebuah yayasan yang memiliki program kerja pendampingan bagi warga di Bukit Duri, khususnya warga RT 06, 07 dan 08 RW 12, Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, sejak tahun 2000. Namun dengan berjalannya waktu, SCM meluas cakupan wilayah dampingan kerjanya di Bukit Duri hingga ke kampung tetangga seberang sungai, yaitu Kampung Pulo.

Pendampingan warga yang berawal dari program Arena Pendidikan Anak dan Remaja di 3 RT tersebut terus bertambah ke program-program kerja lainnya. Mulai dari Arena Pendidikan Anak dan Remaja, lalu berkembang dengan program Perekonomian Warga, Koperasi (Anak dan Dewasa), Pemberian Nutrisi Tambahan bagi anak, lansia dan ibu hamil, Posko Bantuan Darurat Warga Bukit Duri, program Lingkungan (pemilahan sampah rumah tangga hingga produksi kompos), Pelayanan Kesehatan (medis dan alternativ) dan masih banyak lagi.

Semua kegiatan ini tentunya dibantu dan disupport oleh banyak relawan, yang rela meluangkan waktunya bagi warga melalui SCM.

Dengan berjalannya waktu, warga pun secara bertahap banyak yang menjadi relawan bagi kampungnya sendiri, bersama dengan relawan lainnya yang bukan warga Bukit Duri. Siklus ini berjalan secara otomatis, dan terbekali serta terinspirasi dari program kerja awal SCM, yaitu Arena Pendidikan Anak dan Remaja, di mana anak yang duduk di bangku SMU mendampingi adik-adiknya yang SMP, lalu anak yang duduk di bangku SD didampingi oleh kakak-kakaknya yang sudah SMP, dan seterusnya. Cara kerja ini juga diikuti oleh program kerja lainnya. Terus berputar dan saling berkoordinasi satu sama lainnya.

Untuk mewujudkan semuanya itu memang tidak semudah kita membalikan telapak tangan, juga tidak hanya membutuhkan waktu dan tenaga, tapi komitmen yang kuat, yang berlandaskan hati nurani serta lintas segala hal. Lintas agama, lintas suku, bahkan lintas bangsa. Intinya adalah kerja kemanusiaan orde hati nurani.

Semua aktivitas yang berlangsung tentunya memiliki dinamikanya sendiri, oleh karena itu kita juga berprinsip hadap masalah langsung terhadap realita kehidupan warga di Bukit Duri. Berbagai dinamika yang timbul tenggelam pun dirasakan bersama-sama, antara relawan SCM dengan warga Bukit Duri, karena semuanya terlibat. Semua itu bukannya datang dengan sendirinya begitu saja, tapi itu merupakan dampak dari banyak hal yang menjadikan kehidupan warga menjadi demikian. Minimal itu yang saya yakini.

Warga Bukit Duri bukan-lah warga yang mudah jatuh dan lama bangkitnya. Mereka adalah orang-orang yang berdaya tahan hebat dan selalu bisa menjadi “survivor”, penyintas. Mereka terpinggirkan dari segala hal.Terpinggirkan dari akses pengambilan keputusan yang berdampak ke segala sendi kehidupan mereka.

Ancaman Penggusuran
Banyak peristiwa penggusuran di Jakarta dirasakan langsung oleh warga Bukit Duri di wilayah gusuran, bertemu langsung dengan warga korban gusuran ketika itu. Sehingga mereka pun juga mengenal dan mengetahui berbagai cara atau modus jahat yang pernah diceritakan oleh banyak korban gusuran kepada mereka. Warga Bukit Duri juga terlibat langsung menemani warga korban gusuran tersebut, misalnya di Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara, pada November 2001 dan di berbagai wilayah penggusuran lainnya pada tahun 2003. Hal tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka, bahkan pengalaman tersebut menjadi guru bagi mereka, yang mengingatkan akan adanya bahaya terhadap kampung yang akan digusur melalui cara atau modus jahat, seperti kebakaran melalui korsleting listrik, kompor atau lilin dibiarkan menyala tapi tak berpenghuni rumah tersebut, hingga cara-cara memecah belah warga dalam menghadapi ancaman penggusuran. Cara-cara tersebut memang sulit pembuktiannya, namun sangat bisa dirasakan dan ditangkap oleh warga.

Berdasarkan pengalaman tersebut mereka secara kompak pun memetakan warganya sendiri dan berembug mencari solusinya. Tidak sendiri-sendiri. Sejak ancaman penggusuran dirasakan melalui undangan ke kelurahan (yang sarat intimidasi) dan keluarnya surat peringatan pertama (SP1) oleh satpol PP Jakarta Selatan pada Agustus 2016, bahkan jauh sebelumnya, pasca Kampung Pulo digusur pada 2015, pengalaman tersebut menggerakan warga untuk menjaga kampungnya dalam bentuk ronda secara bergantian di masing-masing RT. Warga juga mempersiapkan berbagai perlengkapan ronda, salah satunya adalah kentongan bambu. Demikian juga warga berembug mempersiapkan kondsumsi bagi mereka yang ngeronda, untuk menjaga kondisi kesehatan mereka. Mereka patungan untuk semuanya itu. Bahkan vitamin serta suplemen sebagai pendukung kesehatan mereka juga tersedia.

Di waktu-waktu menghadapi penggusuran, warga pun juga mendeteksi adanya warga penghasut, yang menginginkan warga cepat pindah ke Rusunnawa Rawa Bebek, yang didengung-dengungkan menjadi satu-satunya solusi humanis dari pemda DKI Jakarta. Dengan cara mengiming-imingi sejumlah uang sambil menakut-nakuti warga akan habisnya rusun, misalnya. Namun ada juga warga yang menteror warga lainnya yang berniat untuk bertahan dan menggugat pemda, dengan kalimat yang sangat vulgar, seperti “Apa-apaan ini! Tidak tau malu memang kalian ini, sudah membangun tempat tinggal di atas tanah negara, masih saja minta ganti rugi.”

Anehnya hal tersebut terjadi berbarengan dengan ramainya media memberitakan rencana penggusuran di Bukit Duri. Teror pun juga berlangsung di rumah kontrakan yang dijadikan sebagai rumah suaka bagi warga, yang letaknya masih di sekitar Kelurahan Bukit Duri. Beberapa satpol pp, staf kelurahan dan personal kepolisian ikut menyatroni rumah suaka tersebut, dengan cara bolak-balik di depan pagar di malam hari. Bahkan mereka juga tahu secara detil, apa yang dibuat warga bahwa di dalam rumah tersebut.
Namun teror juga terus terjadi di wilayah pemukiman warga RT 06, dimana petugas kelurahan bersama satpol pp keluar masuk secara intens dan bergantian serta berkelompok. Namun aktivitas tersebut tidak memberikan rasa takut bagi warga yang memang mempertahankan haknya melalui gugatan hukum ke PTUN pasca keluarnya SP 1, dan pengajuan gugatan class action pada 10 Mei 2016, dengan sidang pertamanya pada 07 Juni 2016.

PENGGUSURAN

Tiba Saatnya
Warga Bukit Duri sepakat untuk tidak melakukan tindakan kekerasan ketika digusur pada 28 September 2016, tapi mereka justru taat hukum sebagai warga negara, sehingga perlawanan mereka lakukan di meja hijau, bukan dengan kekerasan. Dan semuanya itu dibuktikan oleh warga Bukit Duri yang digusur secara bertahap dalam beberapa hari, mulai dari RT 05, 06 dan 10 RW 12. Semuanya memang terletak di bantaran sungai. Bahkan pada 30 September 2016, rumah-rumah warga yang nempel di tembok PT KAI juga ikut dibongkar, dan warga di perbatasan RT 07 pun memprotesnya dengan memperlihatkan peta wilayah yang mereka miliki. Alhasil beberapa rumah tersebut yang masuk wilayah RT 06 sudah terlanjur habis dibongkar.

Teror dari satpol pp pun masih terus berlangsung setelah gusuran, di mana mereka membongkar tenda kemanusiaan warga, yang kemarinnya digunakan untuk pelayanan medis bagi warga korban gusuran.

Warga terus dipancing emosinya agar marah, namun hal tersebut sia-sia saja mereka lakukan, warga tetap memegang teguh kesepakatan bersamanya untuk tidak melakukan kekerasan fisik, walaupun semuanya itu memang menjengkelkan dan harus menahan emosi.

Pada 28 September 2016, hari pemda DKI menggusur pemukiman warga bantaran sungai di Bukit Duri, warga sudah siap dengan aksi budaya berupa panggung musik dan orasi warga, warga pun juga memberikan bunga kepada para satpol pp dan kepolisian yang akan menggusur mereka.

MENAGIH JANJI JOKOWI

Dalam berbagai perlengkapan aksi terlihat jelas, warga menagih janji kampanye mereka (Jokowi dan Ahok) di tahun 2012 kepada warga Bukit Duri. Tidak menggusur, tapi menggeser atau menata kembali bersama dengan warga. Bukannya warga Bukit Duri hanya bertopang tangan saja menunggu program penataan kampungnya kembali, tapi warga pun sudah menyiapkan usulan desain serta detilnya yang difasilitasi oleh SCM dan teman-teman arsitek muda yang peduli terhadap keberadaan kampung kota sejak terpilihnya Jokowi dan Ahok di tahun 2012. Bahkan rincian pembiayaannya pun sudah terlontarkan, dimana ada andil warga dalam penataan kampungnya, yang mereka beri judul “Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri”. Bangunan yang tidak lebih dari 4 lantai dan didesain sedemikian rupa, sehingga nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, higenitas warga tidak hilang. Tapi semuanya menguap entah kemana.

Penggusuran paksa yang mereka alami tidak akan mudah hilang dari ingatan warga, khususnya juga bagi anak-anak yang ketika itu mencari rumahnya yang sudah rata dengan bumi sepulang mereka dari sekolah. Cinta kasih dari para orang tua dari si anak-lah yang menyambut anak-anaknya pulang ke tanah gusuran ketika itu. Semua saling menjaga emosi agar tidak terpancing, karena mereka tahu persis, bahwa perlawanan secara fisik tidak hanya menimbulkan korban, tapi justru tidak mengambil manfaat apapun sehingga pihak penggusur pun akan mentertawainya.

Dengan kesedihan yang memilu dan menyelimuti warga ketika itu, warga tetap menggenderangkan suara perlawanannya dengan berbagai barang tak terpakai, seperti kaleng cat bekas, seng bekas dll.. Mereka membunyikannya secara serempak berbarengan dengan penghancuran rumah-rumah mereka satu per satu dengan deraian air mata. Mata yang sembab dan basah melihat langsung kepongahan mesin penggusur menghancurkan rumah-rumah mereka. Teriakan histeris warga pun tak terhindari. Mereka saling berpelukan satu sama lainnya, merasakan ketidakadilan yang sedang melanda mereka sebagai bagian dari warga Jakarta yang memiliki surat-surat tanah dan taat membayar pajak. Kampung yang secara turun menurun mereka bangun sejak dari leluhur mereka memasuki kampung Bukit Duri dalam sekejap hancur rata ditelan angkuhnya penguasa kota ini. Berbagai solidaritas pun berdatangan ketika itu, dan mereka pun tidak dapat menahan kekecewaan dan kesedihannya akan tayangan murka yang dialaminya.

Penguasa yang selalu mengkriminalisasi warganya sendiri, khususnya warga miskin, dengan kalimat-kalimat yang tak pantas, seperti warga illegal, warga penyerobot tanah negara, warga yang tidak tahu diri dan lain sebagainya.

Pasca Penggusuran
Semua sudah rata dengan tanah, tapi masih ada satu bangunan yang utuh berdiri di bantaran sungan, yaitu Mushollah Asa’adah yang memang belum dibongkar sebelum ada penggantinya. Aktivitas pembetonan bantaran sungai pun dimulai dengan segala alat beratnya. Pemda DKI Jakarta akan membangun Mushollah Asa’adah di sekitar wilayahnya warga di Bukit Duri, di RT 08. Warga Bukit Duri yang tergusur melihat permasalahan mushollah tersebut sebagai ajang seri ketidakadilan berikutnya. Setidaknya itu yang sempat tertangkap oleh warga Bukit Duri yang tergusur. Beberapa warga Bukit Duri yang tidak tergusur (warga RT 07 khususnya) terlihat ikut mengawasi aktivitas pembetonan tersebut, dimana mereka mencoba untuk meminta agar pembuangan air limbah dari rumah-rumah warga ke sungai tetap harus ada. Hal tersebut didapatkan mereka dari pengalaman aktivitas pembetonan bantaran sungai di Kampung Pulo, yang efeknya adalah kebuntuan saluran pembuangan air rumah warga. Namun kebanyakan dari mereka tidak peduli kepada warga RT 06 yang tergusur. Mereka hanya menonton saja dan tidak menentang penggusuran. Beda halnya dengan warga Bukit Duri RT 08. Mereka ikut merasakan pedihnya para sahabatnya di RT 06 yang menjadi korban gusuran paksa. Mereka bersolidaritas membantu tetangga-tetangganya yang tergusur, walaupun juga tidak semuanya melakukan hal tersebut.

Dalam sekejap pun warga Bukit Duri RT 06 RW 12 masih harus terus menghadapi berbagai stigma dari mantan tetangganya sendiri yang tidak tergusur, bahkan mereka enggan berkumpul bersama lagi seperti sebelum mereka digusur. Miris dan menyedihkan untuk mengalaminya. Bahkan melihatnya pun juga timbul pertanyaan di benak saya. Kenapa mereka melakukannya kepada teman-temannya sendiri seperti itu? Ada apa sebenarnya yang masih terus “bermain” di bawah ini? Walaupun di sisi lain saya juga merasa, warga yang tergusur tidak butuh pembelaan seperti itu dari saya. Mereka cukup memahaminya saja, dan mereka juga tetap akan tegar menghadapi semuanya itu.

Mereka yang bertahan dengan cara mencari keadilan ke meja hijau semakin hari melihat adanya kebenaran yang ada di benaknya, yang selama ini mereka yakini, bahwa mereka benar. Kebenaran yang mereka pertahankan, sejak berproses melawan berbagai gempuran dari orang-orang di sekitarnya (bahkan dari anggota keluarganya sendiri), perlahan terbukti.

Warga Bukit Duri RT 06 RW 12 yang memilih masuk ke Rusunawa Rawa Bebek sudah menunjukan kerepotannya menjalankan kehidupannya di rusun, di mana mereka mulai merasa tidak betah, merasa terbebani secara finansial, merasa sendiri dan banyak lagi yang berubah dalam hidupnya di rusun, yang begitu asing bagi mereka. Bahkan dari mereka, dengan segala realita yang mereka hadapi, setiap siang harinya mampir ke rumah suaka warga di Poncol, masih di Kelurahan Bukit Duri, dengan alasan, anaknya mau ketemu dengan temannya untuk bermain bersama, di samping itu mereka (para orang tua si anak) juga bercerita pengalamannya tinggal di rusun Rawa Bebek. Begitulah cerita warga kepada saya, ketika saya menyempatkan diri bertemu mereka di rumah suakanya di Poncol, sebulan pasca penggusuran paksa itu terjadi. Mereka pun juga antusias bercerita tentang banyak hal yang mereka alami sebelum, ketika dan pasca penggusuran. Mereka bertambah erat menggandengkan tangannya dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul, secara bersama dan dialogis, layaknya mereka masih tinggal di kampung Bukit Duri tercinta. Semua kepentingan bersama mereka selalu mereka buka untuk diobrolkan satu sama lainnya, sehingga solusi pun mereka raih bersama. Bahkan saya dapat merasakan kebahagiaan mereka sebagai pejuang warga pinggiran di tengah kota Jakarta, Ibukota Republik Indonesia.

Mereka bangga menjadi pejuang pencari keadilan. Air mata mereka sudah kering, tapi semangat mereka tidak akan pernah padam.

Secercah keadilan yang mereka perjuangkan muncul dari PTUN pada 05 Januari 2017 lalu, yang mengabuli seluruh isi gugatan warga Bukit Duri yang digusur pada 28 Oktober 2016. Rasa haru dan senang saya rasakan ketika saya membaca beritanya dan melihat kiriman foto-foto lewat whats app (WA) yang saya terima. Keadilan masih ada bagi mereka.

PENUTUP

Keterlibatan saya terasa hanya sebentar saja di tengah mereka melalui Sanggar Ciliwung Merdeka, yang kini sejak tahun 2013 saya tidak lagi tinggal di Jakarta, tapi di Denpasar – Bali. Jarak yang menjauhkan kami tidak dapat memisahkan kami.

Sampai kini kami masih terus berkomunikasi melalui WA atau terkadang telponan. Segala rasa yang mereka alami, sudah menjadi bumbu hidup saya juga, sehingga apa yang mereka rasakan disana, saya juga dapat merasakannya.

Penggusuran pemukiman bantaran kali di Bukit Duri ini bukannya tidak menelan korban sama sekali, walaupun warga sampai kini pun berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang mereka sepakati dan bangun bersama untuk tidak terjebak dan terpancing masuk dalam tindakan kekerasan, tapi justru waktu yang membuktikan semuanya, siapa yang tidak taat hukum.

Pemerintah atau rakyatnya, yang dikorbankan untuk digusur, tanpa adanya dialog sama sekali.
Alur waktu yang memisahkan kita dengan beberapa korban gusuran Bukit Duri, yang ternyata disebabkan oleh daya stress yang tinggi hingga menghembuskan nafasnya terakhir:

1. Ibu Hayati, ibunda pak Mul, ketua RT 06/RW 12 Bukit Duri. Yang menurut pak Mul RT, jelas akibat stress berat setelah mendengar khabar kampung Bukit Duri akan digusur.
2. Istri tercinta dari Bapak Mulyadi sepuh (70-an th), yang biasanya kita panggil sebagai Pakde Mul, meninggalkan kita semua sebelum Bukit Duri digusur.
3. Lalu kepergian isteri tercinta ini, di luar dugaan disusul oleh Pakde Mul sendiri, beberapa hari setelah sidang perdana “class action” warga Bukit Duri (07 Juni 2016). Pakde Mul adalah salah seorang sesepuh Bukit Duri yang menjadi penggerak warga memperjuangkan keadilan.
4. Lalu disusul oleh Ibu Mimik, yang biasa kami panggil sebagai Mpok Mimik dipanggil yang maha kuasa pada 01 Desember 2016. Mpok Mimik adalah salah satu anggota keluarga rumah suaka di Poncol, yang dalam hidupnya pernah menjadi relawan rumah tangga di Posko Kemanusiaan Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) untuk korban Tsunami Aceh di Meulaboh.
5. Bapak Napi, juga salah seorang sesepuh Bukit Duri, meninggla dunia pada 04 Januari 2017, sehari sebelum PTUN mengabulkan seluruh isi gugatan warga, di rumah kediaman anaknya di Citayem. Pak Napi sempat ngobrol dengan saya ketika warga terancam penggusuran, pada 10 September 2016. Rasa bimbang, kecewa, marah dan kesalnya dapat saya rasakan. Beliau bimbang ketika itu untuk membongkar rumahnya sendiri, sehingga timbul konflik di antara anggota keluarganya.
6. Lalu terakhir mbak Ika Kartika menyusul kepergian para sahabat sekaligus guru kami lainnya. Mbak Ika meninggalkan kita semua pada 23 Januari 2017. Mbak Ika sempat lama menjadi koordinator rumah tangga Sanggar Ciliwung Merdeka.
6 warga Bukit Duri yang telah meninggalkan kita semua untuk selamanya karena stress tinggi memikirkan nasib mereka yang tergusur. Setidaknya itu menurut orang-orang terdekat mereka, almarhum dan almarhumah meninggal karena stress. Stress yang diakibatkan oleh penggusuran paksa.
Tunduk dan sujudku untuk para guruku, yang begitu tegar menghadapi semua realita ketidakadilan ini. Mereka dan semua warga Bukit Duri adalah guru kami, dan Bukit Duri sebagai kampung di bantaran Sungai Ciliwung adalah sekolah kami.

Denpasar, 20 Maret 2017

Komentar & Solusi