Harmoni dari Ciliwung

Maria Hartiningsih

KOMPAS.com – … O ya Allah/Ya Rabbi/Junjungan kami/ Terima sujud/Sembah kami/Bebaskanlah kami/Dari segala tirani/… O ya Allah/Ya Rabbi/Harapan kami/Kurindukan gaib-Mu/Jadikan mata-Mu/Mata kami/Nafas kami/Hidup kami.

Lagu ”Senandung Ciliwung” mengiringi kegiatan harian di Sanggar Ciliwung di bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri, Jakarta. Sejak tiga tahun lalu, fasilitas di situ sudah lebih tertata. ”Dari tahun 2000 sebenarnya sudah ada program kesehatan. Relawan dokter rajin datang ke sini, ” ujar Mbak Atik (59).

Ia menunjukkan ruang periksa dokter umum, dokter gigi lengkap dengan peralatannya, dan ruang obat. Dokter umum datang tiga kali seminggu dan dokter gigi dua kali seminggu. Biayanya dengan sistem jimpitan.

”Kalau punya Rp 1.000, ya itu yang dikasih, termasuk obat,” kata Mbak Atik. Fasilitas itu sangat membantu karena meski ada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dari pemerintah, tak semua warga miskin punya hak atas bantuan itu.

Organisme

Seperti organisme, warga dan wilayah itu berkembang bersama sanggar, yang dibangun bersama para relawan kemanusiaan pascareformasi tahun 1999, menjadi komunitas merdeka dari segala stigma. Ruang di rumah setengah permanen itu adalah ruang belajar dalam arti luas melalui kegiatan bersama.

”Dulu, saya buat pekerjaan rumah di sini, belajar komputer, buat perpustakaan, sebelum sanggar jadi seperti ini. Lalu saya mengajar juga,” ujar Yanti (28), kini koordinator kesehatan. ”Anak yang kecil belajar dari yang lebih besar. Kalau sudah lebih besar, ia mengajar adik-adiknya yang lebih kecil, begitu seterusnya.”

Di tempat itu, setiap anak adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. ”Alam raya ini adalah sekolah yang ilmunya tak pernah habis,” ujar Sandyawan Sumardi, pekerja kemanusiaan yang sejak awal tinggal dan mendampingi komunitas itu.

Bahkan, Risma, remaja dengan segala keterbatasannya, sekarang bisa membantu orangtua, menyanyi, dan mengasuh anak-anak di sanggar. Kehadirannya memberi kesempatan bagi orang lain untuk belajar dari keterbatasan Risma. Ini hanya satu contoh bagaimana kepekaan tumbuh menjadi toleransi yang jujur dan kesadaran akan kesalingan.

Pak Yusuf, mantan ketua RT, yang sudah 23 tahun bermukim di situ, menyaksikan banyak perubahan 12 tahun terakhir. ”Dulu orang takut ke sini karena dianggap tempat penjahat dan preman. Kini, sejak ada sanggar, bukan cuma RT kami, RT 08, yang bergerak di sini, tetapi RT 06 dan RT 07 juga bergabung bersama. Kami gotong royong bikin penghijauan,” ujar Pak Yusuf.

Merebut martabat

Pandangan bahwa komunitas seperti itu hanya menengadahkan tangan, menunggu bantuan, dipatahkan oleh banyak kerja konkret. Warga ”pinggiran” yang selalu menjadi subyek pemarjinalan itu aktif memberi bantuan kemanusiaan, di antaranya kepada korban bom di Jakarta dan di Bali, buruh migran di Nunukan, serta korban gempa dan tsunami di Aceh.

Warga yang berpengalaman membuat dapur umum sejak tahun 2000 memberi bantuan tenaga dan materi yang dihimpun dari setiap keluarga. Mereka juga melakukan advokasi dan mendampingi korban konflik etnis Madura-Dayak di Sampit.

Sebagai warga pinggir sungai, mereka belajar mengenali lingkungannya, termasuk perilaku dan nadi sungai. Seorang warga menuturkan, waktu banjir sampai tujuh meter, mereka membentuk tim SAR dan dengan empat perahu karet ikut membantu evakuasi warga di 32 titik banjir.

Ruang sisa—berupa harga diri dan harkat hidup—menjadi penuh dengan kegiatan yang saling mengisi. Upaya produktif dan kultural telah menahan pembodohan, pemiskinan, dan ketidakpastian yang dihadapi sehari-hari

Warga terus menghidupi komunitasnya tanpa bantuan pemerintah. Termasuk pemberdayaan ekonomi melalui pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah, penataan lingkungan, dan pendidikan tata ruang. Ivanna, relawan arsitek, mengajak warga melihat masalah dan potensi di situ dengan membuat perencanaan kampung.

”Ini bisa menjadi daya tawar karena ada program normalisasi sungai tahun 2011-2014. Kali Ciliwung termasuk,” ujar Ivana.

Usaha bersama produk jahit yang mendapat bantuan dari The Body Shop, budidaya jamur, seni kriya, kompos, dan menghidupkan kembali koperasi adalah mimpi yang sedang dirintis. ”Cita-cita kami adalah punya counter di pusat-pusat perbelanjaan dan ekspor,” ujar Gofur (26), Koordinator Usaha Bersama.

Iman sosial

Seni budaya yang menjadi wadah ekspresi warga dibangun oleh kelompok-kelompok pengamen jalanan sejak awal tahun 2000-an. Kini Sanggar Ciliwung memiliki seperangkat gamelan, gitar bermutu, dan musik perkusi. Semua merupakan hadiah berbagai lomba yang dimenangi mereka.

Pada tahun 2007, anak-anak bantaran Ciliwung menyelenggarakan Festival Budaya Anak Pinggiran Ciliwung Merdeka, melibatkan 2.150 anak dari 39 komunitas anak ”pinggiran” se-Jabotabek. Bulan Desember 2010, Komunitas Bantaran Sungai Warga Bukit Duri dan Kampung Pulo menyelenggarakan Festival Gerakan Budaya ”Ciliwung Larung”. Juli mendatang mereka diundang pentas di Jerman.

”Dengan kegiatan sehari-hari, kami menumbuhkan solidaritas pada kemanusiaan yang tak bersekat,” ujar Nizar. Oleh karena itu, ”Kami sangat prihatin dengan tindak kekerasan kepada mereka yang dianggap berbeda,” sambung Moh Zaki (20).

Banyak perbuatan baik dilakukan warga tanpa diumumkan. ”Tidak perlu pamer,” ujar Gofur. ”Tidak perlu juga orang tahu kita shalat karena iman itu urusan diri kita dengan Sang Pencipta.”

Kerja nyata kelompok-kelompok masyarakat untuk mengurai persoalan sehari-hari di lingkungan mereka tanpa bendera agama perlu dipandang sebagai cermin pendalaman agama.

”Indikator dakwah semestinya lebih diukur pada pendalaman nilai dan praktik keagamaan yang tecermin dalam kerja untuk sesama dalam masyarakat yang berbineka,” ujar Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan yang diminta komentarnya tentang upaya rakyat membangun kerukunan.

Iman berdimensi sosial itu terwujud dalam karya nyata di bantaran Kali Ciliwung. ”Komunitas ini adalah gambaran nyata harmoni antara iman dan dimensi sosial,” ujar Sidik Rahmat, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam yang beberapa kali mengunjungi komunitas itu.

 

Sumber dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/02/13/05270148/Harmoni.dari.Ciliwung

Komentar & Solusi