Ciliwung Merdeka: Mengembalikan martabat kemanusiaan warga miskin

Dibawah kepamongan Sandyawan Sumardi, seorang sosial aktivis, sebuah komunitas miskin yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung di wilayah yang paling padat penduduk di Jakarta telah melakukan perjuangan untuk memperoleh kembali hak-haknya sebagai warganegara dan sebagai manusia. Ciliwung adalah nama sungai yang membelah kota Jakarta, selalu membawa banjir dimusim hujan karena wilayah pegunungan diatas Jakarta telah berubah dari hutan dan resapan air menjadi vila-vila indah bagi kaum elit. Di tengah-tengah kemelaratan dan lingkungan yang buruk warga miskin dan lemah ini ternyata mampu membentuk Ciliwung Merdeka sebuah platform untuk bergerak dan untuk menyampaikan aspirasi sosial dan politik mereka sebagai warga kota dan warganegara.

 

Ciliwung Merdeka pada intinya adalah sebuah forum warga yang bersifat sukarela dan gotong-royong dimana berbagai kegiatan social mulai dari bagaimana mengatasi ancaman banjir, bagaimana bertindak ketika petugas kota mau menggusur secara paksa, sampai dengan belajar bersama mencegah HIV-AIDS dan masalah narkotika yang mewabah dikalangan kaum muda kota. Forum ini didirikan pada tahun 2000 oleh beberapa aktivis sosial setelah ditumbangkannya rejim Suharto yang berinisiatif bahwa sebuah proyek yang kongkrit sangat diperlukan untuk membantu warga miskin kota dalam perjuangannya untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka.

Dalam kata-kata Sandyawan Sumardi, orang yang berada dibalik forum warga ini, tujuan akhir dari Ciliwung Merdeka secara singkat adalah “memberdayakan warga komunitas menjadi sehat, bahagia, mandiri, dan mampu berkomunikasi secara terbuka meski ditengah kemelaratan”. Menjelaskan tentang pendekatan yang digunakannya, Sandyawan Sumardi berkata, “kami mencoba melakukan komunikasi total dengan situasi ketidakpastian dan alienasi yang mereka derita sebagai akibat dari wacana dominan dari pembangunan kota yang secara struktural menghasilkan ketimpangan dan bagaimana marjinalisasi social, ekonomi dan politik telah menghambat kemampuan dan keahlian mereka”. Semacam metodologi “riset aksi partisipatoris” telah digunakan disini untuk memahami secara empatis tidak saja problem sehari-hari yang dihadapi warga miskin namun juga konteks dominasi sistemik dan penindasan yang lebih luas terhadap warga miskin kota.

Komunitas yang secara administrative berada di Kelurahan Bukit Duri dan kampong Pulo ini dideskripsikan oleh Sandyawan Sumardi sebagai mereka yang hidup dalam “kawasan sisa”: bantaran sungai yang padat penduduk, pinggiran rel kereta api dan jembatan layang dimana tempat tinggal dan pekerjaan bertaut. Mereka adalah “survivors” yang hidup dengan pungutan liar, tidak ada akses kredit bank dan lahan tempat bermukim yang tanpa jaminan. Mereka ditepiskan oleh sistim manajemen perencanaan kota Jakarta. Mereka adalah penduduk yang aksesnya terhadap kebutuhan pokok tidak menentu, penggusuran dan banjir adalah bagian dari hidup sehari-hari, ditambah lagi dengan eksklusi dari akses terhadap sistim sosial, ekonomi, politik dan kultural.

Komitmen dan dedikasi serta kerjakeras Sandyawan Sumardi beserta jaringan relawan kemanusiaan dalam mengadvokasi warga miskin melalui Ciliwung Merdeka rupanya mendapatkan perhatian dari gubernur dan wakilnya yang baru, Jokowi dan Ahok. Karena mereka juga berperan aktif dalam kampanye pencalonan Jokowi dan Ahok ide dan gagasan Sandyawan Sumardi dan kawan-kawannya , antara lain tentang model pembangunan perumahan yang cocok untuk warga miskin yang tinggal di bantaran sungai seperti di Bukit Duri dan Kampung Pulo rupanya diketahui dan kemudia diadopsi oleh Jokowi dan Ahok. Jokowi dan Ahok juga datang ketika kampanye bahkan tidak lama setelah diresmikan sebagai gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang baru.

Adalah sangat menarik menyaksikan sebuah eksperimen sosial yang pada dasarnya merupakan gerakan akar rumput yang bersifat sukarela kemudian terhubungkan dengan otoritas tertinggi kota dan menjadi sumber inspirasi dan model renovasi spasial pemukiman warga miskin kota di bantaran Sungai Ciliwung Jakarta.

Dikutip dari : http://urb.im/blog/rtjk/130712i


Komentar & Solusi