Ciliwung Larung: Dokumentasi Perjuangan Komunitas Pinggiran Kali Ciliwung

Pementasan Ciliwung Larung di TIM/dok.panitia
Pementasan Ciliwung Larung di TIM/dok.panitia

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Dalam Simposium Teologi Pembebasan Asia yang diadakan oleh STT Jakarta dan Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA), Sandyawan Sumardi menunjukkan sebuah video dokumentasi “Ciliwung Larung: Kisah Perjuangan Komunitas Ruang Sisa Bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri – Kampung Pulo, Jakarta, yang diproduksi tahun 2012. Dari tayangan dan paparan makalah yang disiapkan, diharapkan menjadi bahan dokumentasi perjuangan masyarakakat pinggiran yang dapat memperkaya kegiatran simposium yang tengah berlangsung.
Mendengar Masyarakat Pinggiran
Sandyawan Sumardi pada tahun 2000 mulai tinggal dan hidup bersama komunitas di bantar sungai Ciliwung di Bukit Duri (Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan), dan membangun sebuah Sanggar Ciliwung. Sebuah proses belajar bersama dan pendampingan komunitas yang banyak melibatkan remaja dan anak-anak muda setempat. ini adalah sebuah komunitas yang diasuh dengan bertujuan membangun kesadaran kritis, sikap solidaritas dan swadaya nyata yang mampu mengembangkan tata bangkit (survival-system) martabat dan hak asasinya.
Sandyawan berhadapan langsung dengan ancaman banjir, kasus Narkoba HIV-AIDS, ancaman penggusuran dan kemiskinan struktural lainnya. Sandyawan dan masyarakat bantaran Ciliwung tersebut bersama-sama membangun solusi nyata melalui program gerakan swadaya pendidikan alternatif di bidang lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, tata ruang, gerakan seni-budaya dan menata kualitas kehidupan kampung.
Pelayanan kemanusiaan yang menjadi sebuah percakapan yang menyeluruh dari seluruh warga, baik anak-anak, remaja, para ibu dan sebagian besar lelaki dewasa dengan situasi ketidakpastian, keterasingan dan situasi batas daya kemampuan hidup masyarakat miskin. Di dalamnya, Sandyawan menemukan kerinduan warga untuk berjuang, kegembiraan dan harapan masyarakat yang dilayaninya.
“Aku berusaha semakin membuka telinga hatiku, untuk dapat mendengar senandung malam para warga bantaran sungai yang tengah khusuk bersyujud pada Sang Maha Gaib … Aku dapat mendengar konser musik suara percik air sungai… ditingkahi suara celotehan riuh-rendah anak-anak jiwa merdeka yang sedang menari telanjang, mandi di sungai yang kecoklat-coklatan bau sampah,” demikian tulis Sandiawan dalam bahan paparan yang dibagikan pada Simposium Teologi di STT Jakarta.
Ciliwung Larung
Di penghujung tahun 2009, awal sebuah kesadaran bahwa hakekat “ciliwung” bukan sekedar nama sungai, tetapi juga pengertian lingkungan tata rung hidup, termasuk artikulasi harkat dan martabat hidup komunitas warga di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Kemudian lahirlah penamaan “Ciliwung Larung” sebagai hakekat kisah perjuangan komunitas warga dari pengalaman keterpurukan karena diasingkan, dari ketidakpastian ancaman “penggusuran paksa” atas nama rencana normalisasi Kali Ciliwung.
Kata “larung”, dalam bahasa jawa dipahami sebagai “dihanyutkan disungai”, tetapi bukan dalam arti dibuang, melainkan dalam arti disucikan, disempurnakan. Dalam kata yang lain seringkali sama dengan pengertian “diruwat”, yakni, dilakukan upacara dan permohonan doa agar diberkati Tuhan, supaya sungguh bisa lebih bebas, lebih hidup, tumbuh dan berkembang.
Ciliwung Larung adalah proses pendidikan dan perjuangan hak asasi manusia yang menyeluruh dari komunitas anak-anak, remaja dan seluruh warga bantar kali Ciliwung di Bukit Duri dan Kampung Pulo. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi, pendidikan alternatif, pasar rakyat, tata-ruang kampung seni, gerakan penghijauan, pementasan budaya (musik, teater, sastra), pembuatan film dan penulisan buku “Gerakan Budaya Ciliwung Larung”. Proses yang panjang ini mampu melibatkan 75 orang pemain dan pemusik dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu dari warga kampung Bukit Duri dan Kampung Pulo, dalam pementasan Budaya Teater Musikal Ciliwung Merdeka di Graha Bhakti Budaya TIM, pada tahun 2011. Sebuah tema diusung yakni, “Perjuangan Komunitas Ruang Sisa”.
Komunitas Ruang Sisa
“Ruang Sisa” adalah ruang yang serba tidak jelas secara geometri, penggunaan, kepemilikan yang sebenarnya menjadi bagian dari pertumbuhan sebuah metropolis. Di Jakarta, ruang sisa ini adalah ruang-ruang kosong yang de facto tidak dimanfaatkan, setelah para pengembang dan pemilik modal atau pemerintah berlomba “mengambil”, “merebut” dan “menguasai” sebagian besar ruang-ruang publik yang seharasnya dipergunakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat banyak.
Komunitas warga pinggiran di Bukit Duri dan Kampung Pulo adalah komunitas warga masyarakat yang tinggal di “Ruang Sisa”, pinggiran sungai dan pinggiran rel kereta api, berpenduduk padat, dengan hunian sekaligus tempat kerja yang saling berdesakan. Mereka adalah warga “survivor” sektor informal yag tinggal di tanah labil, yang sudah begitu lama mendapatkan stigma negatif sebagai kambing hitam ketidakberesan dalam sistem tata kelola Kota Jakarta.
Manusia Miskin
Gerakan Ciliwung Merdeka memandang kaum miskin dan kaum korban kelompok-kelompok masyarakat yang tidak diuntungkan sebagai subyek pelayanan utama. Hal ini terbangun atas pengalaman keterlibatan di lapangan yang menurut Sandyawan, “Kaum miskin sendirilah yang paling punya hati dan daya untuk membantu perjuangan kebangkitan sesama kaum miskin.” Jika hendak membantu mereka, yang pertama-tama harus dibangun adalah jaringan solidaritas di antara mereka sendiri untuk menggalang kekuatan.
Masyarakat miskin hidupnya serba tergusur, namum kaum miskin tak akan pernah berhenti berjuang mewujudkan eksistensi hidupnya, menuju ke suatu pemenuhan yang tepat sesuai ukuran mereka sendiri. Sikap orang lain sebaiknya adalah, mau memahami dan menghargai cara mereka berjuang yang khas dan sikap yang menahan diri untuk cenderung mendikte dengan inovasi dari luar kehidupan mereka.
Pendampingan yang diperlukan orang miskin adalah menghindari munculnya ekses ketergantungan pada pribadi atau lembaga, dan memberikan pendampingan dan kesempatan seleluasa mungkin demi tumbuhnya sikap mandiri dan sikap swadaya yang sehat dan alami.
Dialog yang Otentik
Dialog yang otentik adalah sebuah proses praktis yang mampu menerangi teori untuk “mengerti kebenaran” dan melakukannya. Melalui praksis dialog inilah nilai-nilai kebenaran, keadilan dan perdamaian terungkap dalam pengalaman, kesadaran dan pemahaman. Dasar dan tujuan yang menjadi titik temu adalah keprihatinan semua pihak untuk mengatasi kemiskinan, pembodohan dan penguasaan oleh pihak lain dan keinginan yang sama menghindarkan ancaman kehancuran.
Pada jaman kesadaran baru dari pemahaman ilmu pengetahuan dituntut suatu model intervensi sosial yang didasarkan pada pengalaman hidup yang otentik, memungkinkan dengan aman dapat melangkah bersama orang-orang dan komunitas lain ke pemenuhan nilai-nilai “kebenaran”, “Keadilan”, “perdamaian” dan demokrasi yang tidak habis-habisnya.
Dalam proses dialog yang otentik di masyarakat pinggiran, yang perlu diperhatikan adalah bahwa warga dan komunitasnya ini, dalam dunia yang lebih pluralis, harus saling mendengarkan dan saling membagikan pengalaman, sehingga mereka berkembang, dengan dan dari sumbangan masing-masing, sehingga mereka sungguh dapat bergabung bersama sebagai agen perubahan demi perjuangan kebenaran, keadilan dan perdamaian dalam membangun masyarakat yang berkualitas.
Nyanyi Sunyi Ciliwung Larung
Ciliwung Larung mengajak para teolog mendengarkan kisah kehidupan sehari-hari dan menebus rutinitas sehari-hari demi melahirkan sebuah landasan teologi pada konteks, narasi, lokalitas, praktis dan gerakan pembebasannya. Sebagai sebuah teologi pembebasan, Ciliwung Larung adalah refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. Ketika masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan, mereka mempertanyakan seperti apa tanggung jawab agama, dan apa yang seharusnya agama lakukan dalam konteks pemiskinan, ancaman bencana banjir, penggusuran, dan sejumlah masalah nyata yang dihadapi masyarakat pinggiran.
Ciliwung Larung berusaha membumikan teologi lingkungan, yakni kesadaran baik manusia, alam, hewan dan tumbuhan punya hak hidup, bahkan tak ada satupun makhluk yang berhak menguasai sesamanya, selain Tuhan. Agama tetap memiliki ruang untuk menciptakan peradaban baru yang menyeimbangkan kemajuan teknologi-industri dengan kesadaran menghargai alam. Karena itu mendengarkan pesan nyanyian “Ciliwung Larung”, adalah kerinduan yang mendesak untuk membumikan teologi dengan semua dayanya yang membebaskan.

Editor : Sotyati

Sumber : SatuHarapan.com

Komentar & Solusi