BERSEKUTU DENGAN KORBAN : SEBUAH ALTERNATIF PRAKSIS IMAN KRISTIANI

BERSEKUTU DENGAN KORBAN

SEBUAH ALTERNATIF PRAKSIS IMAN KRISTIANI

I.Sandyawan Sumardi

MEDAN KETERLIBATAN
Adalah sebuah pengalaman yang sunyi, ketika seseorang secara sederhana mencoba hadir dan menemani proses perjuangan beberapa komunitas masyarakat pinggiran, terutama masyarakat korban, yang tengah berusaha bangkit dengan caranya sendiri. Mereka yang tak sudi menyerah pada tragedi kehidupan yang demikian keras menindas. Masyarakat korban, yang senantiasa teralienasikan dari akses sosial, politik, ekonomi dan budaya dalam kehidupan negara bangsa ini. Perjuangan mereka adalah ikhtiar menggalang solidaritas di kalangan sesama korban. Ada keyakinan bahwa dengan percaya pada kesadaran kritis, sikap solidaritas dan swadaya atau swabela yang dibangun secara sadar pada perikehidupan mereka sendiri, masyarakat korban ini akan mampu menata hidupnya dengan survival system (tata bangkit) yang dibangun lewat gerakan Basic Human Community (Komunitas Basis Manusiawi), sistem kekerabatan, sistem gerakan kemanusiaan bersama melalui jaringan antar daerah. Perjuangan yang menjanjikan perubahan di masa depan, terutama dengan harapan akan terpenuhinya tuntutan keadilan dan hak-hak asasi manusia pada kehidupan mereka. 
Di tengah kehendak kuat untuk perubahan politik di penghujung masa transisi demokrasi di Indonesia dewasa ini, hal paling mengejutkan kita adalah masih brutalnya tindak kekerasan politik di sekitar kita. Akhir Orde Baru ditandai dengan tragedi kekerasan politik Mei 1998. Tak lama sesudah tragedi Timor Lorosae, Aceh bersaksi tentang kuburan massal dan mayat beratus-ratus korban kekerasan, tentang ratusan perempuan yang dianiaya secara seksual dan anak-anak yang bukan hanya menjadi yatim piatu tetapi membawa luka jiwa akibat menyaksikan kekerasan; menyusul kesaksian dan berbagai bentuk kekerasan dari tempat-tempat lainnya seperti Papua, Maluku, Poso, Palu, rangkaian terror bom yang begitu mengerikan, terutama tragedi bom Bali. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang kian merajalela, telah melahirkan korban massal pelanggaran HAM bidang ekonomi, sosial dan politik, seperti tragedi-tragedi perikehidupan petani tak bertanah tak bermatapencarian, penggusuran kaum miskin urban perkotaan, derita ribuan buruh migran yang di deportasi (terutama dari Malaysia), dan lautan pengungsi dalam negeri yang terserak di mana-mana karena konflik-konflik sosial-politik, akibat dilancarkannya proyek-proyek operasi militer baik yang resmi maupun tidak. Dan kita seperti terjaga, ketika kita sadar: Indonesia telah menjadi habitat kaum korban. 
Di akhir tahun 2004, gempa dab tsunami mahadahsyat meluluhlantakkan Aceh dan Sumatera Utara yang menelan sekitar 200.000 korban jiwa. Selanjutnya sampai saat ini, negeri kita tak henti-hentinya digempur bencana alam: gempa tektonis (sebagaimana terjadi di Yogya dan beberapa daerah Jawa Tengah tanggal 26 Mei 2006 lalu), badai laut, banjir, tanah longsor (yang sampai sekarang masih berlangsung di berbagai daerah), aktivitas gunung berapi,   sampai banjir lumpur panas di daerah Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Baik bencana alam yang terjadi sebagai gejala alamiah, maupun bencana alam yang terjadi karena unsur kesengajaan dan kesalahan ulah manusia (kesalahan manusia dalam mengelola manajemen kekuasaan bisnis-ekonomi, kekuasaan birokrasi negara, kekuasaan  militerisme, kekuasaan lembaga agama, kekuasaan teknologi, dlsb., yang semestinya merupakan gerakan sinergis dalam ikhtiar bersama mengusahakan kehidupan bersama (“our share of life”) yang semakin baik.

KORBAN
“Korban” adalah sebuah kata yang ternyata tengah mengarungi lintasan sejarah perkembangan makna yang cukup panjang dan mencengangkan.  Kata “korban”, “victim” mengesankan adanya sesuatu yang di seberang luar kekuasaan manusia ketika kekejaman dan derita nestapa terjadi. Dalam “pengorbanan”, ikhtiar manusia yang menderita untuk meraih sebuah nilai yang lebih luhur seakan merupakan sebuah keniscayaan, seakan-akan tidak ada yang bersalah atau perlu dipersalahkan. Seakan kata “korban”,  sudah lepas dari kaitannya dengan segala yang supernatural. Padahal kata itu, berasal dari bahasa Latin “Victima”, memang pada mulanya berkaitan dengan pelbagai makna religius. Bahkan dalam pelbagai kamus masih tetap dijelaskan sebagai “makhluk hidup yang dikorbankan untuk seorang dewata atau dalam proses ritus keagamaan” dan dalam hal ini kata itu sangat dekat dengan pengertian “korban”. Tetapi dalam perkembangannya kini, pengertian seperti itu semakin redup, dan “korban” menunjuk kepada pengertian tentang orang yang dibunuh, disiksa, atau dianiaya oleh orang lain. Ketika sampai saat ini korban jiwa masih terus berjatuhan akibat tindak kekerasan baik oleh sesama warga maupun oleh aparat negara, reformasi yang menjanjikan kehidupan bernegara dan bermasyarakat lebih baik, menjadi sebuah paradoks yang amat memilukan. Kekerasan dan korban memang seperti menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Selama ada hubungan kekuasaan yang dilandasi ketidakadilan (perkawinan erat antara kekuasaan negara, kekuasaan bisnis/uang, dan kekuasaan militer/senjata), selama itulah korban ada. Hubungan kekuasaan merupakan kebutuhan manusia akan tatanan sosial, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial. Prasyaratnya adalah pengakuan bebas dari semua yang terlibat di dalam tatanan tempat kekuasaan itu berlaku. Dasar untuk pengakuan bebas adalah keadilan. Ketika pihak yang berkuasa menolak tuntutan keadilan, pengakuan berlangsung atas dasar paksaan atau kekerasan yang melahirkan penindasan dan korban-korbannya, baik korban kekerasan fisik maupun struktural. Kedua jenis kekerasan ini berbeda karakteristiknya namun secara hakiki sama-sama merupakan pelanggaran terhadap swa-ruang seseorang, atau ruang tempat seseorang hanya berhubungan dengan diri sendiri.

Kisah korban adalah kisah peradaban. Riwayat korban adalah cerita tentang manusia yang  terdomestifikasi dan terpinggirkan. Di dalam peperangan paling besar sekalipun, korban adalah angka-angka yang menyumbang bagi kemenangan; atau bukti untuk kekalahan. Sebagian dari mereka bisa ditemukan sebagai nama di tugu peringatan atau foto-foto di museum. sebagian lagi mungkin tercantum di kuburan-kuburan massal yang tersebar di banyak negara. Selebihnya tinggal dalam ingatan para kerabat, tidak tercatat, atau dengan sengaja digeser dari sejarah dalam sebuah “conspiracy of silence” yang dibangun demi kepentingan kekuasaan. Mungkin juga akibat kejengahan manusia meninggalkan rekaman atas kedurjanaannya sendiri, sehingga pengalaman akan kebengisan tidak diperbincangkan.

KETERLIBATAN
Mungkin itu harga sebuah keterlibatan yang dalam sejarah Gereja tidak terbatas pada tindakan heroik di tengah rimba yang belum bernama. Dalam terang spiritualitas Ignatian, keterlibatan adalah “percakapan menyeluruh” (“total conversation”) dengan masalah-masalah zaman. Percakapan dengan dunia, bukan dengan sorga. Sudah 450 tahun lintasan keterlibatan itu. Ia mencakup baik seni maupun geografi, ilmu dan sastra, astronomi, matematika, pendidikan, media massa, teater dan arsitektur, fisika, pembentukan komunitas basis, politik, filsafat, teologi, gerakan massa, dll. Segala bidang dunia.  Barangkali karena itulah ada sebuah seloroh dari orang-orang yang merasa risih dengan keterlibatan. Tak ada Yesuit yang bakal masuk sorga. Tetapi merekapun tak boleh masuk neraka. Karena setan telah bersumpah agar tak ada satu situasi pun di mana para Yesuit masih terpanggil dan berkesempatan untuk terlibat. Olok-olok biasanya bersifat karikatural. Ia senantiasa merupakan sebuah penglebih-lebihan. Masalah kontroversial dalam karikatur seperti itu biasanya bukan soal keterlibatan, tetapi soal proses mengapa sampai ke keterlibatan. Dan itu juga masalah kita untuk menggali inti dari Sang Roh yang menggerakkan keterlibatan kita. Sebagaimana buku-buku sejarah yang disusun dari kacamata “tradisi besar”, kisah-kisah besar dalam buku-buku sejarah Yesuit juga berkisar pada bintang-bintang SJ seperti para Yesuit di Paraguay, Clavius matematikus dunia, Matteo Ricci sang jenius di Cina, para teolog Yesuit di Konsili Vatikan II, kemartiran 6 Yesuit di El Salvafor, sampai van Lith dan A. Soegijopranata di Indonesia. Jatuh-bangun dan kelemahan dalam keterlibatan adalah baris-baris yang cenderung kena “delete” dalam diskett kisah besar itu. Justru karena itulah, godaan terbesar dalam menengok kembali kisah masa lalu kerasulan misioner Gereja adalah  “melakonkan pahlawan” (“to play hero”). Karena itu perlu kehati-hatian. Kita tentu tidak sekedar bermaksud mengobrak-abrik apa yang de facto memang telah menjadi persembahan Gereja kepada sejarah dunia. Tetapi untuk mengingatkan bahwa jika kita lebih melihat kharisma spiritualitas yang mendasari semua kisah itu, kita tak akan begitu saja gempita merayakan masa lalu sebagai festival kepahlawanan, melainkan  perjalanan pengalaman mistik yang jauh ke dalam inti sejarah manusia. Begitu pula tentang kelompok-kelompok apapun juga yang merasa diilhami dan dihidupi oleh spiritualitas Ignatian.

SPIRITUALITAS 
Seluruh alasan adanya (“raison d’etre”) Gereja adalah gerakan pelayanan  “ke luar” (“ad extra”). Artinya, tanpa derapan kerasulan itu (dalam bentuk perjuangan meng-humanisasi-kan dunia), Gereja kehilangan seluruh kharisma dan alasannya untuk tetap hidup. Dan kerasulan, keterlibatan, selalu berarti “percakapan menyeluruh” dengan zaman, dalam bidang apapun: seni, sastra, ilmu pengetahuan, politik, media massa, bisnis, gerakan massa, dll. Dalam tradisi spiritualitas St. Ignatius, keterlibatan menyeluruh tersebut adalah hasil dari pengalaman mistik yang panjang. Pertama, pada mulanya adalah pengalaman pertobatan yang mendalam: dari pemburuan nama/kehormatan diri sebagai nilai tertinggi hidup. Meskipun ada pergeseran alamat berburu secara total, kita tetap dapat melihat sebuah kontinuum psikologis dan faktor konstan, yaitu kehormatan/kemulian (glory). Betapa jelas bahwa rahmat Allah tidak bekerja di dalam ruang kosong, melainkan beroperasi melalui ruang kelemahan manusiawi: gila hormat diri –> pertobatan –> gila hormat Allah. Kedua, pertobatan itu tidak bisa tidak  berkiblat secara afektif kepada Sang Sempurna yang nampak, yaitu pribadi dan apa yang nampak dilakukan oleh Yesus Kristus. Sebagai kesempurnaan pembadanan (embodiment) dari pemburuan nilai tertinggi itu. Itulah sebabnya mengapa dalam pengalaman mistiknya, St. Ignatius sungguh rindu untuk diperbolehkan dan ditempatkan di samping sang Putera yang sedang memanggul salib.  Ketiga, semua proses itu membawa kepada kesadaran bahwa segala hal di dunia ini hanyalah sarana (“instrumentum”) menuju nilai tertinggi yang baru seperti di atas (Cf. “Prinsip dan Dasar” Latihan Rohani St. Ignatius). Tetapi di sinilah perbedaan mendasar antara Ignatius dan beberapa mistikus lain. Beberapa mistikus lain mempunyai pengalaman merelativir yang sama seperti Ignatius terhadap hal-hal di dunia. Tetapi muaranya adalah relativisme absolut terhadap segala hal di dunia (Cf. “pengunduran diri dari dunia”). Pengalaman mistik Ignatius persis sebaliknya. Justru karena semua hal yang ada ini adalah sarana untuk menuju nilai tertinggi, maka semua itu harus dihidupi seoptimal mungkin menuju ke “sana”. Kalau mediasi beberapa mistikus untuk sampai ke “sana” adalah “ketidakterlibatan dengan sarana”, mediasi spiritualitas Ignatius adalah “keterlibatan dengan sarana”. Itu merupakan salah satu kekhasan dari kharisma spiritualitas Ignatian. Secara lugas dapat dikatakan bahwa implikasi pengalaman mistiknya adalah: keterlibatan dengan pengelolaan dunia. Itulah mengapa keterlibatannya juga menyangkut seluruh bidang humanisasi dunia (ilmu, gerakan massa, seni, sastra, astronomi, matematika, politik, dll., dll.). Keempat, dapat dikatakan bahwa spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas awam: spiritualitas untuk masuk secara total ke dalam masalah-masalah dunia. Bahwa di kemudian hari Ignatius dan sahabat-sahabatnya mendirikan Ordo Serikat Yesus, itu hanyalah sebuah langkah alternatif yang dipilih, yang secara historico-sosiologis memang sangat kontekstual waktu itu. Tetapi secara sosiologis tetap dapat dikatakan bahwa dalam arti tertentu tubuh itu (ordo SJ) “hanyalah” implikasi kontekstual dari roh/spiritualitas di atas. Ketika mengalami semua pengalaman mistik di atas, Ignatius adalah seorang awam 100%. Kelima, pembakuan “Latihan Rohani” untuk menghidupi dasar-dasar spiritualitas yang ada sekarang (retret, meditasi, pemeriksaan batin, dll.) dapat disebut sebagai “ruang-ruang terdalam” untuk mengunyah dan memamah-biak keterlibatan dalam terang kilatan-kilatan pengalaman mistik. Itu adalah rongga terdalam dimana kita bertemu dengan sang Putera secara puitis, melankolis, marah, benci, memberontak, air mata, bebal, mendengar, takzim, menyesal, gemetar, tersenyum, jatuh cinta, urakan, putus asa, harapan, dll. Tetapi persis dengan melakukan itu, kita setiap hari (sesingkat apapun) bercermin pada kisah Jesus (Kisah Jesus: kisah pengembaraannya dan keterlibatannya dari Bethlehem – Nazareth – Jerusalem – Kalvari – kebangkitan).

PRAKSIS AJARAN SOSIAL GEREJA
Sejak Konsili Vatican II, pernyataan-pernyataan Paus Paulus VI dan Yohanes Paulus II, Sinode Para Uskup dan Konperensi-konperensi Para Uskup regional maupun nasional, semakin mempertajam peranan Gereja dalam tanggung jawab terhadap dunia yang sedang berubah dengan pesat ini. Kedua Paus dan para Uskup itu sepenuhnya sadar bahwa mencari kehendak Allah dalam arus sejarah dunia bukanlah tugas yang sederhana. Mereka juga menyadari bahwa Gereja tidak mempunyai pemecahan yang langsung dan secara universal sahih untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat yang kompleks dan semakin mendesak itu. Ada tiga dukomen yang secara khusus memberikan sumbangan bagi pengertian Gereja mengenai tanggung jawab itu. Dalam dokumen Populorum Progressio (1967) Paus Paulus VI menanggapi jeritan kemiskinan dan kelaparan dunia, dan menunjukkan dimensi struktural dari ketidakadilan.  Ia menghimbau negara-negara kaya maupun miskin  agar bekerjasama dalam semangat solidaritas untuk membangun “tata keadilan dan memperbarui tata dunia”. Untuk meneguhkan usaha ini, Paus Paulus VI mendirikan Komisi Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian.
Dokumen kedua berupa surat apostolik, Octogesima Adveniens yang ditulis Paus Paulus VI tahun 1971 untuk merayakan 80 tahun dokumen Rerum Novarum. Dalam surat ini diketengahkan bahwa kesulitan dalam menciptakan tatanan baru melekat dalam proses pembangunan tatanan itu sendiri, sekaligus Paus Paulus VI menegaskan peranan jemaat kristiani dalam mengemban tanggung jawab ini. “Terserahlah kepada jemaat kristinai untuk menganalisis secara obyektif situasi yang khas dalam negaranya sendiri, menyinari dengan terang kata-kata Injil yang tak pernah berubah dan menyusun prinsip-prinsip untuk relfeksi, norma-norma pertimbangan serta pegangan bertindak dari ajaran sosial gereja” (par.4). Paus Paulus VI menegaskan bahwa Allah memanggil setiap orang dan jemaat kristiani untuk menjadi pendengar dan pelaksana sabda-Nya. Orang-orang Kristiani yang setia pada Injil pasti akan terlibat dalam proses penjelmaan yang terus-menerus. 
Proses itu mencakup 3 tahap yang terpisah:

1. Evaluasi dan analisis situasi yang mereka hadapi saat ini;

2. Doa dan refleksi, membawa Injil dan ajaran Gereja untuk menyoroti situasi-situasi khusus;

3. Tindakan personal konkret yang melawan ketidakadilan dan kerja untuk mengubah dan membangun tata masyarakat baru. Dengan demikian berjuang untuk mewujudkan ”kerajaan Allah” menjadi kenyataan.
Pada tahun itu juga para uskup dari seluruh dunia berkumpul dalam sinode dan menyiapkan pernyataan Keadilan di dalam Dunia. Dalam dokumen ketiga yang membeberkan pengaruh Gereja yang mendunia, para uskup mengidentifikasikan dinamika Injil dengan harapan-harapan manusia akan dunia yang lebih baik. Dalam alinea ke-6 dikatakan, ”Bertindak atas nama keadilan dan partisipasi dalam perubahan dunia tampak sepenuhnya bagi kami sebagai suatu dimensi  yang harus ada dalam pewartaan Injil, atau dengan kata lain, dari tugas khusus Gereja bagi penebusan umat manusia dan pembebasannya dari setiap keadaan yang menindas”. Visi perutusan sosial Gereja-gereja yang berkarya mewujudkan keadilan yang menjadi unsur integral kesaksian iman ini, lambat laun memperngaruhi Gereja universal. Hal ini tampak dalam aktivitas dan ajaran-ajaran koperensi-konperensi para uskup, baik secara regional maupun nasional. Visi ini diwartakan oleh banyak umat, jemaat, dan Gereja lokal di seluruh dunia dalam iman dan melalui tindakan-tindakan nyata dalam hidup  mendunia. Konsili Vatican II menandai suatu permulaan periode baru dalam kehidupan Gereja. Satu segi fundamental dari periode baru ini adalah perubahan sikap Gereja terhadap dunia.
Ada 4 ciri penting yang mewarnai perubahan sikap Gereja terhadap dunia (lih. Philip Land, S.J,  ”Catholic Sosial Teaching: 1891-1981”, Center Focus, no. 43, Mei, 1981):
a.   Mengecam sikap apatis di bidang politik.

Banyak pemimpin Gereja, teolog-teolog dan kritikus-kritikus yang setia pada Gereja masih terus mempertanyakan bagaimana mungkin Gereja dapat tetap tenang dan pasif menyaksikan kekejian akibat Perang Dunia II. Sekurang-kurangnya sebagian jawabannya adalah Gereja dan agama dijadikan urusan pribadi, maka tak perlu dihubungkan dengan perang dunia. Para Bapa Konsili Vatican II menyadari bahwa Gereja mempunyai tanggungjawab baik terhadap sejarah dunia sekular maupun terhadap sejarah religius.
b.    Melibatkan diri dalam kegiatan memanusiawikan kehidupan. 

Konsili Vatican II menegaskan tanggung jawab Gereja terhadap dunia yaitu dunia yang diciptakan Allah dan di mana Yesus pernah hidup.Tambahan pula sebagaimana ditegaskan oleh para Bapa Konsili dan dalam ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Laboren Exercens, 1981, masyarakat ikut serta merealisasikan bahwa manusia ”dapat dengan benar berpandangan bahwa dengan kerja dia memperkembangkan karya Allah” dan memberi sumbangan bagi ”terwujudnya rencana penyelamatan Allah dalam sejarah”. Dari sikap ini berkembanglah hormat terhadap otonomi dunia sekular yang benar.
c.    Melibatkan diri dalam mengusahakan keadilan dunia.

Dalam pernyataan Sinode tahun 1971, Keadilan dalam Dunia, para uskup mendesak agar keadilan diusahakan di berbagai lapaaisan dalam masyarakat, terutama di antara bangsa-bangsa kaya dan kuat, serta bangsa-banagsa miskin dan lemah. Para Uskup menyatakan bahwa mewujudkan keadilan merupakan dimensi konstitutif pewartaan Injil (par.6).
d.  Memilih memihak kaum miskin.

Gereja memang senantiasa memahami bahwa Kristus mengidentifikasikan diriNya dengan kaum miskin dan orang-orang yang dijauhkan dari segala hak-haknya. Kini, Gereja melihat preferensi ini dengan rasa mendesak. Dalam membaca tanda-tanda zaman, orang-orang kristiani melihat wajah Allah, terutama dalam melihat wajah-wajah yang sengsara dan menderita. Akibatnya kesetiaan kepada Kristus menuntut identifikasi dan memihak kaum miskin. Beberapa tahun yang terakhir ini keyakinan sedemikian menjadi prioritas bagi Gereja dalam refleksi teologis dan tindakan-tindakan pastoralnya. 
Perubahan-perubahan metodologis. Perubahan-perubahan sikap yang terjadi setelah konsili Vatican II itu, segera diikuti dengan  perubahan-perubahan di bidang metodologis. Ada 5 perubahan penting dalam metodologi ASG yang dapat kita identifikasi (lih: Philip Land):
a. Perubahan pandangan mengenai Gereja yang lebih luas. – dalam Lumen Gentium (1964) Konsili Vatican II memandang Gereja sebagai ”Umat Allah”; suatu gambaran yang tidak hanya mempunyai implikasi penting dalam eklesiologi, tetapi juga pendekatan Gereja terhadap tatanan sosial. Gereja sebagai ”Umat Allah” mengangkat peranan pasif umat beriman ke peranan aktif dalam merumuskan dan membentuk sejarah mereka. Gereja tidak bersaing dengan kekuatan-kekuatan sosial lain  dalam membentuk masyarakat. Gereja juga tidak mengklaim dirinya memiliki kecakapan khusus dalam masalah-masalah teknik. Paus Paulus VI, setelah mengamanatkan dalam Octogesima Adveniens (1971)  bahwa terserah kepada jemaat-jemaat Kristiani lokal untuk bekerjasama dengan orang-orang lain, yang berkehendak baik dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang menekan (par.4).
b. Membaca ”tanda-tanda zaman”, – Konsili Vatican II menegaskan kembali iman dasar Kristiani bahwa Allah tetap bersabda di dalam dan melalui sejarah manusia. Konsekuensinya, Gereja mempunyai kewajiban meneliti tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil (Gaudium et Spes, par.4). Pernyataann ini sungguh membawa akibat pada perkembangan baru dalam metode berteologi. Gereja mengamati perkembangan dunia dan menemukan kehadiran Allah di sana. Tanda-tanda zaman itu mewahyukan kehadiran Allah di dunia dan menyatakan rencana-Nya atas dunia.  Secara implisit di sini dinyatakan bahwa teologi harus mengatasi metode-metode deduktif dan spekulatif. Sejarah tidak lagi menjadi konteks penerapan prinsip-prinsip yang mengikat, yang hanya berasal dari pendasaran spekulatif maupun filosofis itu.
c. Melepaskan sikap berpegang secara picik pada hukum kodrat. – Bersama dengan perubahan metodologis ASG dari pendekatan-pendekatan deduktif ke induktif dan historis; muncul juga gerakan  melepaskan interpretasi kaku terhadap etika hukum kodrat. Pemutlakan terhadap hukum kodrat kini diganti dengan pendekatan obyektif terhadap kebenaran; sejauhmana manausia dapat bersikap obyektifd juga dapat diungkapkan. Pencarian hal yang manusiawi dan obyektif ini didasarkan pada pengalaman manusia dan mencakup pendekatan holistik terhadap keputusan-keputusan yang diambil oleh manusia. Kebenaran-kebenaran dari luar, senantiasa disaring melalui pengalaman pribadi, observasi, ingatan dan sejarah. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan manusia menuntut suatu pergulatan untuk memahami realitas manusia secara keseluruhan dan menuntut menemukan panggilan Allah di tengah-tengah realitas itu.
d. Mengutamakan cinta kasih. – Perumusan ASG pada mulanya lebih di dasarkan pada akal budi. Tetapi sekarang ajaran itu semakin dibentuk oleh keutamaan cinta kasihyang dalam hubungan itu memiliki 3 makna:

d.a. Cinta kasih adalah jantung keutamaan keadilan dan melahirkan tindakan penegakan keadilan yang mencapai kepenuhan potensi, makna, dan hidup.

d.b. Cinta kasih merupakan motivasi untuk bertindak atas nama keadilan,

d.c. Pemilihan cinta kasih secara mendasar yang mampu menggerakkan hati manusia menempatkan Allah sebagai sumber kehidupannya menghasilkan tindakan-tindakan moral.
e. Mengorientasikan kerasulan pada perencanaan pastoral dan tindakan-tindakan nyata (praksis), – Metodologi ASG sudah pasti berorientasi ke praksis.  Praksis itu berupa tindakan yang berasal dari refleksi dan mebawa kembali tindakan itu ke dalam refleksi. Praksis dapat dipandang sebagai perwujudan pilihan yang dibuat dalam perjuangan manusia untuk mencapai keadilan. Akibatnya, tindakan yang tepat (ortopraksis) akan melengkapi juga ajaran yang tepat (ortodoksi). ASG yang sebelumnnya lebih sering mengarah ke idealisme sosial, karena ajaran itu memisahkan hubungan dialogis dengan pengalaman, keterlibatan langsung dan tindakan-tindakan konkret yang telah dilakukan. Maka dari segi praksis, titik tolak refleksi pastoral dan sosial sebenarnya adalah manusia dalam perjuangan, dalam kebutuhan-kebutuhan, dan dalam harapan-harapan mereka. Jadi, praksis menjadi kekuatan sejati untuk memahami dan mengembangkan ASG yang otentik. 
Sehubungan dengan praksis ASG ini baiklah kita dengarkan ungkapan almarhum Paus Yohanes Paulus II (dalam buku ”Go in Peace: Sebuah Persembahan Kasih Abadi”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2006, hal 179-180)::
”Belas kasih yang menyayangi dan melayani manusia takkan pernah dapat dipisahkan dari keadilan. Setiap orang dengan caranya masing-masing menuntut pengakuan yang penuh dan efektif terhadap hak-hak individu, yang menjadi acuan tatanan masyarakat dengan segenap struktur dan institusinya. Dalam rangka memenuhi tugas mereka yang diarahkan pada tatanan kehidupan umat Kristiani di dunia, dari segi pelayanan kepada seseorang atau masyarakat, umat tidak boleh menarik partisipasi mereka dalam kehidupan publik: yaitu diberbagai bidang ekonomi, sosial, legislatif, administratif, dan kebudayaan yang bertujuan meningkatakan kesejahteraan umum. Semua orang mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik, meskipun bentuk, tingkat, tugas, dan tanggung jawabnya berbeda-beda dan saling melengkapi. Tuduhan mengejar karier, pengultusan kekuasaan egoisme, dan korupsi yang sering kali dilemparkan kepada orang-orang duduk di pemerintahan, parlemen, kelas penguasa, dan partai politik – dan juga pendapat umum yang menyatakan bahwa berpartisipasi dalam politik adalah bahaya yang sangat mengancam moral-sama sekali tidak membenarkan sikap skeptis maupun pasif umat Kristiani dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat pelayanan adalah bagian mendasar dalam penggunaan kekuasaan politik. Semangat pelayanan itu, dengan kompetensi dan efisiensi yang memenuhi syarat, dapat membuat kegiatan bermasyarakat seseorang menjadi baik, yang sudah pasti merupakan tuntutan anggota masyarakat yang lain. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan perjuangan sengit dan tekad untuk menyikirkan segala godaan, seperti: penggunaan ketidaksetiaan dan kepalsuan: penyalahgunaan keuangan negara demi keuntungan segelintir orang dengan kepentingan tertentu; dan penggunaan cara-cara yang tidak jelas serta melanggar hukum untuk memperoleh, mempertahankan, dan menambah kekuasaan dengan segala cara. Kita harus memberikan kesaksian bagi nilai-nilai kemanusiaan dan Injil yang terkait erat dengan kegiatan politis itu, seperti kemerdekaan dan keadilan, solidaritas, pengabdian yang penuh kesetiaan dan mengutamakan kepentingan semua orang, gaya hidup sederhana, dan kasih yang lebih besar bagi orang miskin dan terkecil. Hal tersebut menuntut kita untuk selalu berpartisipasi secara nyata dalam kehidupan Gereja dan dicerahkan oleh doktrin sosial Gereja. Ketika orang-orang berpikir bahwa mereka memiliki kunci untuk suatu tatanan sosial yang sempurna di mana kejahatan mustahil terjadi, mereka juga berpikir bahwa mereka bisa menggunakan segala cara, termasuk kekerasan dan kelicikan, untuk mewujudkan tatanan semacam itu. Politik kemudian menjadi keyakinan sekuler yang bekerja di bawah ilusi, mewujudkan surga di atas bumi; namun tidak ada penguasa politik – dengan otonomi dan hukumnya sendiri – yangn dapat menggantikan Kerajaan Tuhan”.

 

GERAKAN PEMBEBASAN
Bertolak dari sebuah tonggak sejarah dalam puncak pembangunan kerajaan Mesir  zaman  militerisme  Firaun  Rameses II (1220-1165 SM), kita jumpai “Apiru”, kaum pengungsi yang diperbudak. Merekalah bangsa “Hibrani”, sekelompok bangsa keturunan Semit yang sejak dua abad terakhir telah dicerabut dari kedudukan dan identitas kehormatannya, karena dijadikan obyek dan alat pembangunan ibu kota.  Di Mesir “Apiru” adalah kelompok etnis atau ras minoritas, yang sukar berintegrasi dengan kelompok mayoritas dominan. Sebagai kelompok minoritas mereka memiliki kedudukan yang sama dengan kaum tersingkir yang tinggal di pondok-pondok kumuh pinggiran kota, yang tidak memperoleh kesempatan kerja, yang mengalami benturan atau transisi budaya akibat adukan mendadak desa dan kota. Kedudukan kaum “Apiru” itu juga mirip dengan posisi kaum pembangkang nonkonformis, kelompok sakit hati, dan mereka yang memiliki kekhususan sikap hidup, kaum tergusur. Namun di tengah situasi penindasan itu, muncullah tokoh Musa yang diutus Allah untuk menghantar mereka dalam peristiwa “Exsodus”. Bagi kaum Apiru pelarian dari kemapanan delta sungai Nil itu kemudian menjadi awal perjalanan panjang penuh derita, sebagai bayaran untuk memperoleh harkat dan jatidiri baru yang lebih terhormat. Inilah kebangkitan baru. Betapa tidak, sebagai kelompok tertindas, kini mereka mampu menentukan nasibnya sendiri.  Dan dalam keyakinan kaum Apiru, mereka hanya bisa memperoleh kemerdekaan kembali berkat pertolongan “Subyek” yang lebih tinggi. “Eyeh ‘aser ‘eyeh” (=”Aku Adalah Siapa Aku”), Allah Sang Totalitas Penyelenggara Kehidupan. Inilah “Pesah” (Paskah), Tuhan telah melewati guna menghajar para penindas”. Paskah yang dirayakan kembali sebagai peng-awal-an perjalanan menuju identitas dan harga diri baru, sebagai subyek dari Sang Subyek. Sebuah awal keyakinan bahwa dalam ketegaran kemapanan apa pun, selalu ada alternatif baru yang bisa dijalani.

Antara Apiru Semit dan tokoh Yesus, yang menjadi pusat Paskah kristen, terdapat beberapa kesamaan. Warna pinggiran nampak jelas pada asal usul Yesus. Dalam konteks Yesus “putra”” Apiru inilah “Gerakan Yesus” mesti kita fahami. Kisah Yesus yang kita kenal lewat Injil sesungguhnya adalah sebuah gerakan (movement), sebuah gerakan spiritualitas dalam masyarakat Yudaisme. Gerakan spiritualitas kita (Kristiani) yang mau pulang kembali ke akar aslinya, tidak bisa tidak harus pulang ke “ruang dalam yang terdalam” yaitu “Kisah Yesus”. Seorang Allah yang mendekati kondisi hancur manusia, dengan cara turun ber-safari seperti pejabat dan membagi-bagi uang untuk mereka, tentu akan membuat kita bertepuk tangan atas kemahakuasaannya. Tetapi hanya seorang Allah yang mau menyelamatkan kondisi hancur tersebut dengan masuk dan memeluk kondisi itulah, yang membuat mulut kita diam kehilangan kata, karena sebuah paradigma baru dalam penyelamatan telah menyentak kita. Kita tahu, namun jarang menyakini: bahwa itulah realita soteriologi Kristiani. Dalam pribadi dan gerakan Jesus, kita tidak bertemu dengan seorang Allah yang sedang safari dan penyuluhan, melainkan dengan seorang Allah yang sedang masuk dan memeluk kondisi gelap dari kaum tertinggal dan tertindas. Previlese kaum tertindas dalam paradigma baru penyelamatan itu begitu terang-benderang. Tetapi ia juga punya dasar historico-antropologis: bahwa kelahiran setiap agama juga digerakkan oleh motif antropologis untuk mempersonalisasikan korban penderitaan paksa (penindasan) dalam gerak bawah sadar sejarah yang selalu cenderung mendepersonalisasikan korban penindasan. Setiap akal sehat tahu bahwa korban depersonalisasi itu biasanya dan selalu kaum miskin. Dalam pribadi dan tindakan Yesus, Allah melancarkan gerakan paradigma penyelamatan baru itu. Ia bukan anti-lembaga, tetapi ingin memposisikan kembali lembaga-lembaga bagi model penyelamatan baru itu. Karena itu kita biasa mendengar “bukan manusia untuk hari sabath, melainkan hari sabath untuk manusia”.  Tetapi kita juga biasa mendengar “tak satu noktah pun dari Taurat akan kuhapus sebelum semuanya terlaksana”. Entah Dia “kontra” atau “pro” institusi, satu hal cukup pasti: Ia ingin agar lembaga tidak macet pingsan, melainkan bergerak seturut model penyelamatan baru itu. Ia adalah gerakan, Ia sendiri Tuhan gerakan, dan cara kerjanya adalah cara kerja gerakan. Ia bukan mau meniadakan institusi, melainkan agar institusi kita berkharisma lagi. Berkharisma lagi. Urgensi pulang kembali ke modus gerakan inilah sungguh dipandang amat strategis bagi generasi baru para pejuang katolik kita. Kalau dewasa ini semakin terbaca kecenderungan meluasnya gejala “nesting” (bersarang), sesungguhnya kami merasa tidak heran. Mungkin saja karena lembaga-lembaga kita memang sudah macet pingsan, dan tinggal menyediakan sarang-sarang. Kamilah generasi ketika wadah-wadah pendidikan sudah menjadi lembaga. Kamilah generasi yang diperanakkan oleh lembaga-lembaga pembakuan. Kamilah generasi paket yang, sadar atau tidak, lebih aman bersarang di lembaga. Karena itu, kami juga menjadi tidak gampang berinisiatif, karena inisiatif adalah deviasi dari pembakuan. Pulang kembali ke modus gerakan akan menjadi satu cara taktis-strategis untuk mengangkat persoalan itu.

Betapa implikasi perubahan itu dialami cukup mendalam pada cara kita menghayati dasar-dasar spiritualitas. Seluruh doa-doa kita, meditasi, kontemplasi lebih akan berfokus pada pribadi dan tindakan Jesus sebagai seorang yang membongkar dan memposisikan lagi banyak hal.  Kisah Jesus yang kita kenal lewat Injil sesungguhnya adalah sebuah gerakan (movement), sesudah gerakan spiritualitas dalam masyarakat Yudaisme. Gerakan spiritualitas kita (Kristiani) yang mau pulang kembali ke akar aslinya, -tidak bisa tidak- harus pulang ke “ruang dalam yang terdalam” yaitu “Kisah Yesus”. Pada mulanya adalah keterlibatan. Dari situlah orang faham apa missi hidupnya. Demikian kisah Yesus dalam Injil Lukas. Ketika masih muda, Yesus mencoba masuk dalam masalah bangsanya: kenyataan penderitaan, saling memeras, kekakuan hukum, tersingkirnya kaum miskin oleh pertarungan politik, dsb. yang dialami oleh bangsanya. Pada saat seperti itulah Yohanes Pemandi yang menyerukan pertobatan untuk memperbaiki situasi, sungguh sangat menarik hati Yesus.  Pertobatan dan keputusan hati Yesus untuk menyatukan diri dengan mereka yang dilalaikan bangsanya, diungkapkan  dalam  keinginannya  dibabtis  oleh  Yohanes  Pemandi (Luk 3:21-22). Yesus telah memutuskan diri masuk dalam nasib dari mereka yang tersingkir dalam bangsanya sendiri. Tetapi Yesus juga menimbang apa yang akan dilakukannya sendiri persis. Itulah sebabnya mengapa Ia berpuasa, bermatiraga dan bersamadi di padang gurun selama  40 hari (Luk 4:1-13). Setelah Ia keluar dari samadiNya, Ia pergi ke Galilea dan Nazareth dengan missi yang Ia yakini: “Roh tuhan ada padaKu, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk mewartakan pembebasan bagi orang-orang tahanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan  bahwa  tahun  rahmat  Tuhan telah datang”  (Luk 4:18-19).
Apa yang selanjutnya terjadi adalah “Gerakan Yesus”, gerakan di antara mereka yang dibuang dan disingkirkan oleh politik pembangunan pemerintah Yahudi dan agamawan Yahudi dan sebuah gerakan kenabian untuk menyingkap penggelapan fakta. Ia selalu gelisah bukan karena ia sedang mencari identitas diri, tetapi gelisah karena selalu tergerak untuk berbuat lebih bagi gerakan compassion. Yesus melihat bahwa lembaga-lembaga kekuasaan formal telah pingsan dan macet untuk menjadi kereta perjuangan kaum miskin dan tertindas. Karenaanya ia lebih melaksanakan keprihatinannya dalam gerakan: gerakan bersama dengan mereka yang tersingkir, gerakan bersama dengan gerakan mereka yang tertindas. Injil sesungguhnya adalah gerakan Yesus yang bersama mereka yang tersingkir, mengubah berbagai penderitaan akibat penindasan dan ketidakadilan menjadi kekuatan pembebasan. Pengikat dan titik temu gerakan itu bukanlah kelompok atau ideologi, melainkan penderitaan. Karena itu organisasi kelompok hanyalah instrumen dalam gerakan. Dan karena “hanya” instrumen, maka kelompok juga bersifat instrumental. Artinya kelompok tak pernah menjadi tujuan awal maupun tujuan akhir dari gerakan. Di situlah titik rawan gerakan kita, yang selalu cenderung macet secara internal karena tersungkur jatuh dalam perangkap “kelompok sebagai tujuan”.                

Inilah sifat-sifat dasar kepribadiaan Yesus yang mendasari gerakan Yesus: (1). Belas Kasih (“Compassion”)  (Luk 6:36; Yoh 13:34-35; 15:13.17; Mat 22:34-40). (2). Kepercayaan/Keyakinan Iman (Yoh 20:19-29). (3). Kebebasan dan Otonomi (Mat 5:1-7.28; Mat 26:36-44). (4). Kesiapsiagaan (“Availability”) (Mat 26:36-44; Luk 1:38). (5). “Kenosis”, Pengosongan Diri (Fil 2:6-11). (6). Solidaritas Universal: Memilih Mengutamakan Kaum Miskin (Yes 10:1-2; Amos 8:4-6; Mat 5:1-7; 15:6; 20:13-16; 25:31-46). (7). Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (Yes 53:7; Mrk 14:60-61; 15:4-5). (8). Utusan (Luk 18:31-34; 10:1-24). (9). Pembongkaran logika (jalan pikiran) yang umum. (10). Kegelisahan untuk selalu berbuat/berpikir lebih.
Pada kenyataannya, dampak sifat-sifat dasar kepribadian Yesus itu telah membangkitkan dan menggerakkan iman sedemikian banyak orang sepanjang sejarah Gereja; tidak hanya para santa-santo dan martir, tetapi juga saksi-saksi iman tak dikenal. Kesaksian salib, telah menumbuhkan benih-benih belaskasih, keyakinan, kebebasan, kesiap-siagaan, sikap tanpa pamrih dan solidaritas yang mengutamakan kaum miskin dengan gerakan aktif tanpa kekerasan, telah memberi semangat untuk bertahan, bangkit! Melalui Roh yang telah diberikanNya kepada kita, Dia yang telah bangkit akan terus bekerja dalam hidup kita, senantiasa hadir, tinggal, mencintai, memanggil, membimbing, menemani, memberi inspirasi, memimpin, memperingatkan, memperbarui, mengutus dan memperteguh kita (Luk 24: 36-49; 2 Kor 4:24-16).

PENGALAMAN PERSONAL
Adalah peziarahan saya menjelajahi tempat-tempat terpencil di perkampungan kumuh seperti Bantar Gebang, Cakung Cilincing, bantaran Sungai Ciliwung atau Penas, dlsb., juga lorong-lorong kota seperti stasiun Jatinegara, Poncol Senen, Tanah Abang Bongkaran, dlsb., dataran rendah kaum miskin. Sungguh merupakan masa-masa pendidikan sejati bagi saya, ketika saya berjumpa, dibongkar dan dipertobatkan oleh kebijakan kaum miskin sederhana yang berjuang mati-matian mempertahankan kehidupannya, yang tidak juga jera menghadapi berjuta tantangan hidupnya, mereka yang mempercayakan nasib hidupnya di haribaan Allah Maha Belas Kasih. Sejak awal terbetik niatan dalam sanubari saya untuk secara spontan mendirikan dan membuka tenda-tenda pengaduan serta suaka darurat sebagai wujud nyata misalnya dalam pelayanan Tim Relawan Penolong Korban Insiden 27 Juli 1996 delapan tahun lalu, saya tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip atau sikap dasar keyakinan saya: bahwa sikap dan tindakan saya dalam suaka kemanusiaan itu, betapapun kecilnya, sungguh merupakan jawaban iman saya terhadap panggilan suci Allah: bersujud di hadirat para korban; mencintai sesama terutama yang menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan di negeri ini, sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Saya tidak sudi menghianati hati nurani saya sendiri, apalagi menghianati sahabat-sahabat saya kaum korban yang sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah buah hati Allah sendiri. Maka gerakan saya adalah gerakan moral-spiritual, yang senatiasa mau pulang kembali ke akar asalinya, yaitu pengalaman pembebasan manusia oleh Allah Sang Pembebas. Sikap dasar humanisme vertikal (manusia pengabdi Allah, manusia bagi sesama) inilah yang akan terus saya jalani dan saya pertahankan sekuat jiwa raga. Saya tak akan mengkhianati Injil dengan membiarkan saudara-saudara saya menjadi korban kekerasan politik pembangunan di negeri tercinta ini. Sebab sebagai rohaniwan di tanah air tercinta ini, saya yakin benar bahwa Tuhan sendirilah yang telah mempercayakan mereka untuk saya iringi perjalanan dan perjuangan hidupnya. Itulah sebabnya saya terus berjuang, terus sampai batas kekuatan saya, sejauh masih mungkin bagi manusia dengan pengorbanan apapun. Bukankah dunia yang hendak kita bangun adalah dunia persaudaraan dan perdamaian sejati? Tentu saja setiap ikhtiar untuk meraih nilai-nilai kehidupan yang sejati membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang suntuk. Namun bukankah suka-duka dalam peristiwa pengorbanan ini sudah  cukup mulia untuk menoreh arti tersendiri pada peri kehidupan kita? Saya telah melangkah dan tak bisa undur tanpa kehilangan martabat saya dalam perjuangan ini: bertindak demi kemanusiaan yang adil dan beradab, mencintai sesama manusia sebagaimana saya mencintai diri sendiri, dan berjalan bersama Allah Sang Penuntun Kehidupan dengan rendah hati (Mika 6:8).  Justru dengan melibatkan diri secara sadar penuh dalam pengalaman batas-batas daya kemampuan hidup manusia korban inilah, saya secara amat intensif melakukan percakapan menyeluruh (“total conversation”) dengan perkara-perkara substansial manusia, dengan berbagai dimensinya. Dengan melemparkan diri dalam kisaran dinamis dan antagonisme kritis perikehidupan manusia korban kekerasan pilitik pembangunan inilah saya justru menemukan makna panggilan suci Roh Allah yang senatiasa menafasi, menggerakkan, mempertobatkan, mengutus, membimbing, meneguhkan dan membebaskan kita manusia.  Dan justru di sinilah saya menemukan ketenangan keheningan doa, merasuki ruang-ruang batin sambil terus mengunyah dan mendaraskan berbagai pengalaman keterlibatan dalam kilatan-kilatan mistik perjumpaan dengan Allah Sang Cahaya Kehidupan. Betapa saya yang lemah ini sangat rindu untuk masuk dalam pengalaman mistik yang sejati, yaitu berakar dalam kasih Allah yang jauh merasuk ke dalam inti sejarah kehidupan manusia. Peristiwa pendidikan ini ternyata sangat menggelisahkan saya. Apalagi ketika saya berusaha mempelajari hubungan sebab akibat kemiskinan yang menimpa mereka itu. Dan justru di sinilah saya memperoleh kesadaran baru atas perutusan pada diri saya sendiri. Maka sebenarnya bukan hal yang ganjil kalau kemudian saya mengungkapkan kesadaran baru itu dalam wujud praksis pelayanan kemanusiaan biasa, sebagaimana juga biasa dilakukan oleh para anggota Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya. Bagaimanapun juga, penantian panjang yang telah mendera kesadaran nurani ini adalah sebuah pengalaman batas kemanusiaan, yang telah membuat saya terjaga sadar: betapa sucinya kerinduan manusia akan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, yang lahir dari kerahiman Allah Maha Belas Kasih. Maka terima kasih yang tulus dan mendalam, saya haturkan kepada semua pihak, para sahabat pekerja kemanusiaan yang konsisten dan pantang mundur, para saksi yang jujur menjunjung kebenaran, dan para ibu, bapak, adik dan saudara-saudara yang begitu setia mendampingi kami selama perziarahan berlangsung. Merekalah yang sengaja atau tidak, dengan tulus dan ikhlas telah bersedia menjadi “guru” bagi “pendidikan dasar perjuangan kemanusiaan” yang tengah saya alami, yang ternyata belum usai juga, bahkan mungkin inilah awal dari masa pendidikan dasar saya. Tak dapat diingkari, pengalaman keterlibatan ini telah membuka cakrawala kesadaran iman saya: apa yang telah, sedang dan akan kulakukan bagi Allah Penyelamatku? Saya rindu untuk terus melibatkan diri dalam gerakan solidaritas kemanusiaan yang dilancarkan Allah: membuka komunikasi iman seluas mungkin, sehingga setiap orang, terutama mereka yang miskin dan menderita, dapat kita perlakukan sebagai partner kerja sama dalam proyek keselamatan yang dibawa oleh Allah Sang Pembebas. Inti ajaran (baca: kesaksian) Kristus adalah kasih dan saya mesti jadi manusia yang mengasihi. Dan pada galibnya kasih tidak bisa tinggal antara penguasa dan yang dikuasai. Jadi prioritas gerakan kasih yang nyata kini dan di sini adalah membongkar sistem yang melanggengkan status relasi penguasa dan korban yang dikuasai. Menurut hemat saya, tugas utama para pemimpin masyarakat di tanah air kita di saat-saat kritis seperti sekarang ini adalah menjadi pembela rakyat, hidup bersama kawanannya. Demikialah dengan sekuat daya, dengan rahmat Allah, saya tengah berikhtiar untuk merunduk sabar mengarungi pengalaman batas kemanusiaan ini sebagai penglaman iman “samoderawi” saya dalam bersekutu “seperahu” sehati-seperasaan dengan para korban  yang terus berjatuhan, dalam mengarungi gelombang perjuangan hak-hak asasi manusia dan demokrasi di negeri tercinta ini.
Jakarta, 30 Juni 2006

Komentar & Solusi