BAYANG-BAYANG SAHABAT

BAYANG-BAYANG SAHABAT

I. Sandyawan Sumardi

Cak Munir, “diamput” sampeyan Cak! Pergi duluan tanpa permisi. Padahal kerja kita masih banyak. Masih panjang, masih jauh…

Sepi Cak, sampeyan pergi. Lihatlah, bukan hanya Mbak Suci, Alief dan Diva, tapi juga aku dan begitu banyak kawan-kawan tercenung. Menitikkan air mata ketika hari itu, 7 September 2004, kami mendengar sampeyan pulang ke rahmatullah dengan cara begitu rupa. Tiba-tiba. Entah kenapa terasa mendadak juga, Cak. Memangnya sampeyan sudah siap, Cak? Rupanya kami yang belum siap… Maafkanlah.

Nyali, ya nyali sampeyan memang luar biasa Cak. Baik kawan maupun lawan mengakui. Padahal secara fisik, sampeyan ringkih. Seperti juga aku: penyakitan. Ah, setiap kali melihat “tongkrongan” sampeyan yang tak meyakinkan itu, terasa ada peneguhan dalam jiwa ini: hanya dengan keyakinan, kekuatan moral dan kecerdasan yang jernih, teguh dan sabar -meski dalam tubuh yang rapuh sekalipun- “musuh” dapat kita lawan habis-habisan. Dan “musuh” menurut sampeyan adalah ekspresi-ekspresi kekuasaan anti demokrasi dan hak asasi manusia: kekerasan, ketidakadilan, keserakahan, dan kebencian. Ya, “Hanya Satu Kata, Lawan!”, kata Wiji Tukul.

Hai, rasanya ada banyak kemiripan antara sampeyan dan Wiji Tukul, yang juga rapuh, tapi puisinya penuh daya, bagai bermagma. Tukul, salah satu dari kawan-kawan pro-demokrasi yang masuk dalam kategori “orang hilang” yang sampeyan dan “Kontras” cari-cari sejak 1996 sampai sekarang. Ah, bukankah sekarang kalian sudah saling berangkulan di alam baka? Akhirnya ketemu juga kalian!

Cak, kukenal sampeyan waktu awal sampeyan masuk YLBHI akhir 1996. Seorang pengacara senior yang sekarang sudah kaya pernah pandang sebelah mata pada sampeyan. Hanya karena penampilan sampeyan yang terlalu sederhana, kumal, tak berdasi dan hanya naik motor. Tapi saat itu juga penilaianku terhadap sampeyan sudah terbersit dalam hati. Justru dalam penampilan yang tidak gagah, tersimpan enerji jiwa yang unik, otentik, dan berani. Ah, sejak awal memang sampeyan begitu terbuka, tulus, dan komunikatif sebagai sahabat.

Selanjutnya, terutama dalam Tragedi 27 Juli dan Kasus Orang Hilang 1996, Tragedi Mei 1998 dan Semanggi 1999, Tragedi Aceh, Tragedi Tim-Tim 1999, dan Tragedi Maluku, aku dengan Institut Sosial Jakarta dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan, (sekarang dengan Ciliwung Merdeka) dan sampeyan dengan YLBHI dan Kontras, (terakhir dengan Imparsial) kita bersama beberapa beberapa sobat aktivis lain sering bahu-membahu memperjuangkan hak-hak asasi korban kekerasan politik. Bukan hanya dalam membuat konferensi pers bersama, tapi kita juga mengarungi suka-duka bersama dalam pendampingan dan pengorganisasian keluarga korban serta melakukan proses investigasi yang panjang berliku.

Secara khusus, bahkan cukup personal, bersama kita melakukan investigasi terhadap rangkaian tragedi bom di negeri ini, terhitung sejak Bom Natal 2000 sampai Bom Bali 2002 dan Bom Marirott 2004. Setiap kali kita mendapatkan tekanan, ancaman dan teror, apa pun bentuknya, dari mana pun asalnya, kita berdua selalu berusaha saling memahami, menjaga, menghibur, dan mentertawakan bersama. Ingat waktu Gus Dur dilengserkan di pertengahan 2001? Kita berdua ikut menemani dan menghibur kyai kontroversial yang selalu bersekutu dengan kita itu. Waktu aku mengambil jeda beberapa bulan di luar negeri untuk menyusun investigating report tentang rangkaian teror bom itu, sampeyan begitu care terhadap kawan-kawanku komunitas gerakan, terutama yang mendapat tekanan dan teror di Ciliwung. Dan ironisnya Cak, Bom Kuningan menggelegar tepat sehari sesudah sampeyan meninggal…

Kekerasan kian menjadi. Mengapa sampeyan pergi?

Cak, kita pernah menyepakati, bahwa organisasi-organisasi advokasi HAM seperti TRK dan Kontras adalah sarana bukan tujuan. Wahana pengaduan di mana suara derita kaum korban harus kita dengarkan penuh hormat dan simpati.

Begitulah Cak, dari latar belakang tradisi iman yang berbeda, kita sama-sama menyadari, kita sedang bekerja dalam terang iman untuk bisa membuka tabir wajah Allah. Dalam melakukan kerja kemanusiaan itu, kita yakin Allah Yang Maha Rahim sendiri yang bicara pada kita. Dalam bahasa teologi sosial, kerja semacam itu sering disebut upaya rekonsiliasi.

Muara advokasi kemanusiaan kita adalah pendamaian. Kehadiran Tuhan memanggil kita untuk menjadi pendamai di tengah masyarakat yang carut-marut dan mencoba menempatkan para korban serta para pelaku pada kerangka kerja keadilan. Kita sadar Cak, banyak orang yang luka, dihilangkan dan dibunuh demi mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang mereka yakini.

Banyak para pelaku yang hanya digunakan sebagai alat. Dan keadaan ini mendesak kita untuk membuka ruang bagi “pertobatan’’.

Tidak cukup kalau kita hanya menerima fakta apa yang terjadi. Sangat penting bagi kita untuk merefleksikan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat serta membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang hilang. Kita menyatukan ingatan masyarakat korban karena kita ingin menyumbangkan sebuah kosntruksi bangunan alternatif sebuah negara bangsa yang berdaulat dan beradab. Bagian ini sudah berlangsung dan akan terus berlangsung dengan penuh risiko. Tapi bangunan kemanusiaan senantiasa memiliki resiko dan hanya mereka yang memiliki kekuatan untuk menghadapi resiko yang akan mampu menjadi penentu pembangunan hak-hak asasi manusia. Dan kesaksian hidup sampeyan Cak, terbukti telah memberi andil besar dalam hal ini.

Sampeyan sendiri pernah bilang: seluruh rakyat memiliki hak untuk mengetahui seluruh kebenaran tentang persitiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang rangkaian tragedi kekerasan politik di negeri ini.

Memang Cak, pengungkapan kebenaran ini akan menjamin bahwa halaman sejarah yang penuh dengan kepedihan dan derita tidak akan terulang lagi. Proses demokratisasi di negeri ini akan semakin diperkuat.

Mengetahui kebenaran, adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan sebagai prasyarat untuk mencapai perdamaian.

Cak Munir, nurani sampeyan senantiasa tergetar oleh keinginan untuk melibatkan diri ke dalam upaya pencarian kebenaran. Karena memang, kebenaran adalah kekuatan di balik perdamaian. Kita sebagai bagian dari komunitas gerakan, secara kolektif dan dengan rasa tanggungjawab mendalam, selama bertahun-tahun berikhitar memikul tugas memecah kebisuan dari puluhan, bahkan ratusan para korban pelangggaran hak-hak asasi manusia. Kita telah berupaya membuka kemungkinan bagi para korban untuk bicara dan mengatakan apa yang mereka ingin katakan, menceritakan pengalaman duka dan derita mereka, sehingga mereka merasa terbebaskan dari beban berat yang membuat mereka terpuruk bertahun-tahun.

Kebenaran harus menjadi panggilan bagi setiap upaya kemanusiaan. Kita tidak dapat menyembunyikan atau menutupi-nutupi kenyataan. Kita tidak boleh membengkokkan sejarah, sekaligus kita tidak akan diam untuk sebuah kebenaran. Kebenaran di negeri kita telah diputarbalikkan dan dibungkam.

Cak, kita sama-sama meyakini: Allah Sang Penyelenggara Kehidupan tidak pernah melunak terhadap berbagai bentuk kejahatan.

Kenyataan mendasar yang senantiasa kita hadapi sebagai orang beriman adalah akar keruntuhan dan penodaan martabat kemanusiaan yang berasal dari sikap yang secara sadar melawan kebenaran. Kenyataan yang demikian runyam seperti itulah yang terus menerus berlangsung di negeri kita selama 32 tahun Orde Baru.

Pencarian kebenaran demi perdamaian bukan hanya tugas yang penting, tapi mendesak dilakukan sebagai jaminan bahwa masa lalu yang telah membawa segala akibat yang demikian serius tidak akan terulang lagi. Sepanjang kebenaran tidak diungkapkan, luka-luka masa lalu tidak akan segera tersembuhkan.

Kerja advokasi HAM selama beberapa tahun yang sampeyan lakukan merupakan langkah nyata mewujudkan perdamaian sebagai buah dari keadilan.

Karya itu merupakan penaburan benih-benih kehidupan dan martabat di seluruh lahan negeri ini. Dan “core” para pekerja serta partisipan dalam karya ini adalah masyarakat korban sendiri. Karya ini merupakan pelayanan pujian yang indah bagi para martir dan korban-korban yang telah dijadikan target dari sebuah rencana dan rekayasa penghancuran dan pembinasaan.

Bagi kita Cak, membuka diri terhadap kebenaran dan menyediakan diri berhadapan muka dengan kepribadian dan kelektivitas warga masyarakat, bukan lagi sebuah pilihan yang bisa diterima atau ditolak. Penyingkapan kebenaran merupakan kebutuhan yang tak bisa disangkal lagi bagi seluruh warga masyarakat yang merindukan untuk memanusiakan diri sendiri dan rindu untuk merdeka.

Kenyataan itu membuat kita berhadapan dengan kondisi kita yang paling radikal sebagai manusia, yaitu kondisi kita sebagai ciptaan Allah yang dipanggil untuk terlibat dalam misi pembebasan.

Selama bertahun-tahun teror, penculikan dan kematian telah membuat banyak masyarakat kita terkungkung dalam ketakutan dan kebisuan. Kebenaran adalah kata utama, dan hanya tindakan serius dan matang yang memungkinkan kita memecah lingkaran kekerasan maut itu. Tindakan itu pula yang memungkinkan kita membuka diri terhadap harapan masa depan dan terhadap cahaya bagi semua orang. Gerakan kemanusiaan adalah upaya yang menganggumkan untuk menemukan, melakukan eksplorasi dan mendekati dengan cara tepat terhadap sejarah personal dan kolektif kita. Proses perjuangan ini menjadi sebuah pintu terbuka yang memungkinkan setiap orang bernafas lega dan bicara dengan bebas serta berkarya dalam komunitas dengan penuh harapan.

Kebenaran itu menyakitkan, karena penuh dengan ingatan akan darah dan luka-luka di negeri ini. Tapi kebenaran seperti itulah yang membebaskan dan memanusiakan, yang memungkinkan bagi setiap orang untuk berhubungan dengan diri sendiri dan dengan kisah hidup mereka sendiri. Kebenaran seperti itulah yang menantang setiap orang dari kita untuk menyadari tanggungjawab individual dan taggungjawab kolektif kita. Sekaligus kebenaran seperti itu menantang kita untuk melibatkan diri ke dalam tindakan nyata mencegah tindakan-tindakan buruk itu tidak terjadi lagi.

Gerakan advokasi HAM ini merupakan sebuah komitmen bagi para korban yang telah memberikan kesaksian, bagi mereka yang telah mencurahkan pengalaman mereka ke dalam laporan ini. Dan sekaligus karya ini merupakan dukungan untuk setiap tuntutan para korban. Melalui gerakan ini kita mengumpulkan dan menghidupkan kembali kenangan akan masyarakat korban. Pencarian kebenaran tidak hanya berakhir disini.

Pencarian kebenaran harus kembali dari di mana kebenaran itu lahir dan pencarian itu harus mendukung peranan kenangan sebagai suatu sarana untuk rekonstruksi sosial melalui karya-karya material, perayaan-perayaan, peringatan-peringatan, dll.

Sangat penting untuk menjaga ingatan terhadap sesuatu tetap hidup. Itu merupakan kewajiban khas. Kita bisa memahami dengan baik apa makna perang dunia II bagi masyarakat Eropa dan bagi dunia selama 50 tahun terakhir ini.

Bersyukurlah atas kecanggihan informasi baru yang memungkinkan kita mengerti dengan lebih baik atas sebab dari penderitaan. Inilah kerinduan kita: tanpa ragu-ragu menyingkap kebenaran yang menyakitkan dengan suatu tindakan yang menyembuhkan dan membebaskan. Ribuan kesaksian para korban dan penghitungan kembali tindak kejahatan yang menakutkan merupakan manifestasi masa kini dari figur para survivor, yang menyatakan wujudnya pada masyarakat di negeri ini.

Cak, aku ingin mengenang sampeyan sebagai pribadi religius. Ya, filsafat hidup dan pergulatan iman sampeyan. Cak, sampeyan meyakini dan pernah mengatakan kepadaku dan kepada Bung Ulil Abshar-Abdalla (dalam sebuah wawancara Jaringan Islam Liberal) bahwa Islam mesti menawarkan agama bagi orang yang tertindas; memberi jawaban terhadap problem sosial di mana orang ditindas tidak begitu saja diam, tapi memberi perlawanan.

Sementara, elemen-elemen non-tertindas, secara langsung memiliki kewajiban untuk membantu mereka dan menjamin tercapainya titik yang diinginkan untuk memberhentikan penindasan. Itu yang sampeyan sebut sebagai masyarakat Islam.

Saya ingat, sampeyan pernah mengatakan juga bahwa cara pandang terhadap agama memang banyak ditentukan konteks di mana suatu masyarakat hidup. Makanya menurut sampeyan, mazhab-mazhab dalam Islam juga hidup dalam konteks dan pembelajaran sejarah masing-masing. Kalau dilihat dalam konteks itu, bisa saja agama menjadi alat resisten bagi mereka yang ditindas. Tapi, semestinya muncul tidak dalam bentuk ekstrimisme agama yang melawan terhadap sesama, yang sebetulnya tidak dapat diidentifikasi sebagai penindas.

Sampeyanlah salah satu tokoh muda Islam yang sepakat kalau Islam mesti menjadi enerji bagi kaum tertindas untuk melawan penindasan. Tapi bukan dalam bentuk perang melawan agama tertentu. Misalnya saja, relasi kita menjadi miskin bukan karena ada Kristen, tapi lebih karena ada kekuasaan modal, struktur dan lain-lain.

Sampeyan pernah bilang, agama bisa menjadi energi bagi orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap penindasan, asalkan lawannya jelas. Tapi, tidak lantas agama menjadi alat manipulasi kekuasaan untuk menghantam lawan-lawan, dengan simbol yang meneriakkan slogan kafir, murtad dan lain-lain.

Lebih dalam lagi, sampeyan pernah mengungkapkan keyakinan ini: “ketika saya berani shalat, maka konsekuensinya saya harus berani memihak yang miskin, dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban, sebab saya telah menghadapkan wajahku. Menghadap kemana? Kepada keadilan. Kalau saya menipu proses-proses keadilan, ke mana wajah ini saya hadapkan? Padahal, deklarasi itu terhitung lima kali sehari kita lakukan ketika salat, bahkan lebih (salat sunnah). Jadi, bagi saya, tidak ada alasan umat Islam untuk tidak berpihak pada yang tertindas. Itu menjadi pilihan dan keyakinan saya.

Membangun masyarakat yang adil juga termasuk perjuangan membela agama. Masyarakat yang adil tidak mesti menuntut semua orang menjadi Islam, tapi bagaimana cita Islam tentang keadilan dapat hidup dalam masyarakat.”

Selamat jalan Cak Munir. Terima kasih sahabat. Sampeyan bukanlah tokoh teladan, bukan legenda, bukan pula orang suci. Tapi sampeyan nyaris tidak pernah mabok karena pujian yang semakin menjulang mulai di rumah, di kampung, di pasar ikan, di kalangan kawan-kawan seperjuangan, di tingkat nasional maupun internasional, bahkan sampai di liang kubur. Kenyataannya, sampeyan juga tak luput dari adanya kritik, amarah dan lawan. Mungkin lebih tepat sampeyan adalah saksi korban, ketimbang tokoh teladan. Karena pergerakan sampeyan dari pendamping korban kearah kecenderungan menjadi korban; dari korban menjadi survivor. Saksi korban, karena persembahan hidup sampeyan yang tulus. Justru karena sampeyan adalah manusia biasa saja, seperti kita-kita ini, yang tak luput dari keraguan, rasa takut, dan amarah. Tapi dalam sunyi, bagaimanapun juga, sampeyan telah berhasil membuat jiwa dan hati nurani ini diam-diam semakin gelisah, berderak-derak, mengikuti bayang-bayang sampeyan yang samar menuju Cahaya Abadi…
Jakarta, 6 Oktober 2004

Komentar & Solusi