Banjir Jakarta dan Tawaran Solusi Tanpa Menggusur dan Reklamasi Oleh Urban Poor Consortium & Izmail Zubair

 

 

(Sumber Gambar : Urban Poor Consortium)

 

 

PEMICU BANJIR DI JAKARTA

Dari tahun ke tahun, banjir di Jakarta bukannya semakin berkurang, sebaliknya malahan bertambah parah. Pada saat hujan lebat, genangan air di berbagai tempat semakin meluas, luapan air kali semakin tinggi. Mengapa hal itu terjadi?

Jawabannya sederhana, kalau dulu hanya ada beberapa faktor saja yang memicu banjir, sekarang ini faktor pemicunya semakin banyak. Menurut catatan saya, ada 11 pemicu banjir di Jakarta yang dapat dikelompokkan ke dalam 8 faktor internal dan 3 faktor eksternal, yakni sebagai berikut:

Faktor Internal:

PERTAMA:
Kondisi geografis Jakarta yang terletak pada delta dataran rendah.
Kondisi geografis Jakarta yang berada pada delta dataran rendah, sejatinya adalah tempat air kumpul-kumpul. Jakarta dulunya terdiri dari rawa dan daratan berbentuk pulau. Beberapa tempat di Jakarta bahkan dinamakan sesuai kondisinya dulu, seperti Rawa Mangun, Rawa Buaya, Rawa Sari, Rawa Bunga, Rawa Bebek, Rawa Belong, Rawa Badak, Rawa Jati, Rawa Kepa, Rawa Bahagia, Rawa Simprug, Rawa Terate dll, Pulo Mas, Pulo Bangkeng, Pulo Gadung, Pulo Macan, Pulo Raya, Pulo Gebang dll. Jadi sesungguhnya Jakarta tidak layak menjadi sebuah kota.

KEDUA:
Perubahan radikal geomorphologi lahan Jakarta.
Sedari dulu sampai sekarang, pembangunan kota yang dilakukan para pengembang pada lahan berupa rawa-rawa atau lahan pertanian basah, selalu dilakukan dengan cara mengurug tanah untuk meninggikan permukaan lahan. Cara seperti ini secara drastis mengurangi lahan parkir/serapan air, memutus sistim saluran irigasi yang terintegrasi dan menyebabkan daerah sekitarnya tenggelam.

Padahal di zaman kolonial Belanda, pembangunan lahan basah tidak pernah dilakukan dengan cara mengurug tetapi dengan sistim “polder”, yaitu melalui pembangunan tanggul dan kanal. Seharusnya transformasi lahan pertanian dan rawa-rawa menjadi lahan perkotaan, dilakukan secara gradual seperti apa yg dilakukan di Tokyo dan Bangkok.

Kota Tokyo dan Bangkok juga terletak pada delta dataran rendah, tetapi jarang sekali ditimpa bencana banjir. Kenapa? Transformasi lahan dilakukan dengan cara terlebih dahulu menggunakannya sebagai dumping site dan setelah lahan baru terbentuk, ada masa transisi yang hanya boleh digunakan untuk pertanian lahan kering, yang ditanamani tanaman keras atau buah-buahan. Setelah kondisi tanah stabil barulah diperkenankan mendirikan bangunan secara terbatas dengan tetap mempertahankan sebagian lahan untuk ruang terbuka hijau resapan air.

Sistim saluran irigasi yang ada sama sekali tidak boleh diurug dan harus dipertahankan. Jaringan jalan yang dibangun juga harus mengikuti pola sistim saluran irigasi tersebut sehingga aliran air tidak terputus. Setelah lingkungan baru terbentuk, jarang sekali terjadi banjir yang parah.

KETIGA:
Miskonsepsi Master Plan Jakarta 65-85
Kringen Type Verordening 1941 (KTV 1941) atau Peraturan Pembangunan Kota, mengarahkan grand design Jakarta (Batavia) sebagai kota agropolitan. Tetapi Master Plan Jakarta 65-85, mengarahkan grand design Jakarta sebagai kota metropolitan, dengan pembangunan yang masif pada radius 15 km dari Monas sebagai sumbunya.

Kota Agropolitan seringkali juga disebut kota perladangan ditandai dengan corak pembangunan fisik bersifat “leapfrog“ atau lompat kodok. Itulah mengapa pembangunan kota pada masa itu melompat-lompat, dari Sunda Kelapa, ke Tanjung Priok, ke Jatinegara, kemudian Menteng dan Kebayoran. Sebaliknya pada kota metropolitan, corak pembangunan bersifat masif dan menyatu. Maka akhirnya hampir seluruh lahan kota Jakarta tertutup bangunan dan secara perlahan tetapi pasti, seluruh lahan pertanian akan lenyap dari Jakarta. Bersama itu pula akhirnya lenyap pula lahan-lahan resapan air.

KEEMPAT:
Penurunan muka tanah (“land subsidence”).
Penurunan muka tanah pada beberapa tempat sudah lama terjadi di Jakarta. Rata-rata penurunan tanah menurut survey GPS dr tahun 1997 sd 2008 berkisar antara 0 sd 25 cm per tahun. Selama periode 1982 sd 1997 telah terjadi penurunan muka tanah berkisar dari 20 sampai dengan 200 cm. Menurut para akhli ada 4 penyebab penurunan muka tanah yaitu, pengambilan air tanah secara berlebihan; beban bangunan; konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah dan diakibatkan oleh timbulnya gaya tektonik.
Dua hal yang pertama yang paling banyak mempengaruhi penurunan muka tanah di Jakarta.

KELIMA:
Penyumbatan saluran dan kali akibat buangan sampah
Penyumbatan saluran dan kali akibat buangan sampah dikarenakan disiplin lingkungan warga Jakarta yg sangat rendah, menjadikan saluran dan kali sebagai tong sampah. Sampah yang menggunung di saluran dan kali, akhirnya menghambat/menyumbat aliran air. Maka ketika turun hujan deras, airpun meluap kemana-mana.

KEENAM: Tercampurnya sistim saluran drainase jalan dan saluran limbah cair domestik.
Saluran drainase jalan di Jakarta, selain untuk menampung air hujan digunakan juga untuk menampung dan mengalirkan limbah cair domestik. Sekarang ini sering kali kita jumpai saluran drainase jalan bahkan di musim kemarau, sudah terisi penuh air limbah rumah tangga dengan muka air cukup tinggi dan hampir tidak mengalir karena tersumbat sampah.

Maka ketika hujan turun, saluran yang ada tidak dapat menampung air hujan sehingga air tergenang di jalan. Seharusnya kedua sistim ini dipisahkan. Pada kota-kota di Indonesia yang dibangun di zaman Belanda, pada bagian kota lamanya, masih dapat kita jumpai sistim saluran limbah cair domestik yang terpisah, seperti di daerah Menteng, Kebayoran Baru.

KETUJUH: Penyerobotan trotoar di sepanjang jalan arteri oleh ruko untuk akses, manuver dan parkir kendaraan.
Di sepanjang jalan arteri utama di seluruh Jakarta, banyak dijumpai bangunan ruko. Untuk memudahkan akses dan manuver keluar masuk kendaraan maka pagar ditiadakan, trotoir yang ada di depan bangunan dibongkar habis, diperkeras dgn aspal atau beton. Saluran terbuka yang ada juga ditutup dengan perkerasan dan lubang-lubang air penghubung jalan dan saluran dihilangkan. Maka jangan heran, apabila banyak jalan arteri yang tergenang air di musim hujan.

KEDELAPAN: Penetapan peil banjir
Penetapan peil banjir yang ditentukankan DPU pada sebidang tanah yang akan dibangun, mengharuskan peninggian tanah, sehingga daerah sekitarnya jadi lebih rendah dan rawan banjir ketika hujan.

Faktor Eksternal

PERTAMA:
“Climate change”
Pemanasan global (“global warming”) telah memicu terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim di berbagai belahan bumi. Pemanasan global terjadi akibat lapisan ozon pada atmosfeer bumi semakin menipis yang di sebabkan oleh adanya radiasi matahari atau terperangkapnya panas matahari yangg disebabkan oleh gas efek rumah kaca, yangg salah satunya gas cloro floro carbon atau biasanya lebih dikenal dgn CFC. Karena perubahan iklim, alam menjadi rusak dan banyak terjadi bencana di mana-mana selain juga akan menaikkan temperatur bumi. Peningkatan temperatur panas bumi akan menimbulkan perubahan iklim yang akan mengakibatkan antara lain naiknya permukaan air laut. Ketika terjadi pasang laut saja (rob) di pesisir Jakarta, beberapa kawasan sepanjang pantai tenggelam, apalagi jika permukaan air laut naik secara permanen.

KEDUA:
Deforestry
Penggundulan hutan di kawasan Puncak untuk mendirikan bangunan menyebabkan kawasan resapan air berkurang sehingga air hujan mengalir deras ke Jakarta. Akibatnya Jakarta menerima banjir kiriman sekalipun tidak hujan.

KETIGA: Perkembangan Bodetabek yang tidak terkendali.
Pembangunan wilayah Bodetabek yang sangat pesat belakangan ini terutama wilayah selatan Jakarta seperyu Depok, Bogor dll menyebabkan lahan-lahan pertanian menyusut, mengurangi daerah resapan air sehingga air hujan akhirnya mengalir ke Jakarta.

Itulah 11 faktor pemicu banjir di Jakarta yang menyebabkan banjir di Jakarta sulit diatasi oleh siapapun. Banjir akan jadi teman setia warga Jakarta selamanya. Meskipun begitu tetap harus ada upaya untuk meminimalkan banjir di Jakarta. Ada banyak caranya. Tetapi akan diuraikan pada kesempatan lain.

#Izmail Zubair
– Pakar Tata Ruang –
Edited by: Terracota James

Komentar & Solusi